SuaraTani.com - Medan| Hingga 18 November 2025, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di tingkat petani Sumatera Utara (Sumut) untuk jenis urea sudah mencapai 69,74% atau mencapai 162.681 ton dari alokasi kebutuhan 233.254 ton.
Sementara untuk pupuk subsidi jenis NPK, realisasi serapannya mencapai 201.024 ton atau berkisar 78,47% dari alokasi kebutuhan setahun yakni 256.166 ton.
"Sedangkan untuk pupuk subsidi jenis NPK Formula Khusus dan pupuk organik masing-masing serapannya mencapai 1.137 ton atau 35,2% dan 6.503 ton atau 14,12%," kata Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sapras) Dinas Ketapang TPH Sumut, Heru Suwondo, melalui Fungsional Analis Prasarana dan Sarana Pertanian Ahli Muda, Desa Mandasari, kepada SuaraTani.com, Jumat (28/11/2025) di Medan.
Desa mengatakan, untuk pupuk subsidi jenis NPK Formula Khusus dan Organik alokasi kebutuhan masing-masing mencapai 3.230 ton dan 46.045 ton," katanya.
Berdasarkan data yang diterima dari Dinas Ketapang TPH Sumut, alokasi pupuk urea di bulan Oktober 2025 mencapai 17.282,10 ton.
Di mana serapan pupuk urea tertinggi sepanjang bulan Oktober 2025 yakni Kabupaten Karo sebesar 2.309 ton, disusul Deliserdang sebesar 2.230 ton dan Simalungun sebesar 1.911 ton.
Untuk NPK, serapan pupuk sepanjang Oktober mencapai 21.764,25 ton dengan serapan tertinggi berada di Kabupaten Karo sebesar 2.842 ton, Simalungun 2.537 ton dan Kabupaten Dairi sebesar 2.469 ton.
Sementara untuk pupuk jenis NPK Formula Khusus, serapannya sepanjang bulan Oktober mencapai 73,50 ton. Dengan daerah serapan tertinggi berada di Kabupaten Dairi sebesar 53,50 ton, Asahan 11 ton dan Samosir 7 ton.
"Untuk pupuk subsidi jenis organik serapannya di bulan Oktober 2025 hanya berkisar 911 ton. Di mana serapan tertinggi ada di Kabupaten Karo sebesar 481 ton, Padanglawas 97 ton dan Kabupaten Padanglawas Utara sebesar 85 ton," rinci Desa.
Desa optimis realisasi atau serapan pupuk subsidi di Sumatera Utara bisa mencapai seratus persen khususnya jenis urea dan NPK.
"Kalau kita lihat data serapannya sampai 18 November 2025 angkanya sudah 69,74% untuk jenis urea dan 78,47% untuk pupuk NPK. Dan, jumlah ini setiap hari terus meningkat mengingat musim tanam periode Oktober Maret (Okmar) sudah berlangsung sejak Oktober lalu," kata Desa.
Biasanya, lanjut Desa, kalau musim tanam sudah masuk seperti sekarang ini, penggunaan pupuk akan meningkat.
“Serapan pupuk biasanya meningkat menjelang dan selama musim tanam Oktober hingga Maret. Penyaluran Oktober turun tipis karena sebagian daerah masih dalam tahap pengolahan lahan,” tutup Desa. * (junita sianturi)


