Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Semua Pihak Diminta Tidak Meremehkan Peringatan El Nino, Alarm bagi Jutaan Petani

Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, meminta semua pihak untuk tidak meremehkan sinyal peringatan semakin menguatnya El Nino. foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, meminta semua pihak untuk tidak meremehkan sinyal peringatan semakin menguatnya El Nino. 

Menurutnya, sinyal tersebut bukan sekedar peringatan ilmiah, tetapi alarm nyata bagi jutaan petani di Indonesia.

“Sinyal El Nino berpotensi menjadi kategori kuat hingga sangat kuat pada paruh kedua 2026 bukan sekadar peringatan ilmiah. Ini adalah alarm nyata bagi jutaan petani kita yang menggantungkan hidup pada ketersediaan air,” jelas Daniel di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Hal itu disampaikan Daniel merespon atas peringatan yang disampaikan Profesor University of Maryland, R. Dwi Susanto soal fenomena El Nino yang berpotensi berkembang menjadi kategori kuat hingga sangat kuat pada paruh kedua hingga akhir 2026. 

Adapun salah satu dampak yang paling terasa nantinya ialah kekeringan dan krisis air. 

Ia menyampaikan pengalaman pahit yang terjadi pada 1997-1998 soal kekeringan panjang yang membuat petani di Indonesia mengalami gagal panen. Potensi peringatan semakin menguatnya El Nino di tahun 2026 tidak diabaikan semua pihak.

“Kita tidak ingin kejadian seperti yang lampau terulang tanpa persiapan yang memadai,” imbuh politisi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Daniel mendorong langkah konkret guna mencegah kekeringan akibat peringatan semakin menguatnya El Nino. Pertama, seluruh pihak  perlu mempersiapkan sumur bor di kantong pertanian rawan kekeringan.

“Percepatan pembangunan embung di tingkat desa dengan dukungan sumur dalam, dan penyesuaian pola tanam berbasis prakiraan BMKG,” tuturnya.

Daniel juga meminta masyarakat maupun pemerintah mengantisipasi akan kehadiran hama kuat menyerang pertanian saat kekeringan. 

Ia menekankan pentingnya mewujudkan sistem manajemen air nasional berbasis siklus iklim guna menghadapi El Nino.

“Air hujan dengan menyiapkan embung sehingga saat terjadi el nino dapat dimanfaatkan untuk meminimalisir kekeringan,” tegas Daniel.

Daniel mendesak semua pihak untuk menyiapkan infrastruktur penyimpanan air yang terintegrasi dengan data iklim. Menurutnya, hal tersebut bisa dengan memanfaatkan teknologi digitalisasi dalam mengelola air sehingga lebih efisien.

“Kita punya prakiraan, kita punya teknologi, (tetapi) yang dibutuhkan hanyalah political will untuk memastikan air hujan tidak mengalir sia-sia ke laut, melainkan tersimpan untuk mengairi sawah di bulan-bulan terkering,” jelasnya.

Dikatakannya, pentingnya koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar dampak El Nino bisa diantisipasi sehingga tidak berdampak terhadap petani dan sektor pangan nasional.

“Sehingga tidak berdampak signifikan terhadap petani dan pangan nasional,” jelasnya. * (erna)