Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Serangga Penyerbuk Dilepas, Ketua Umum GAPKI: Harapan Baru untuk Peningkatan Produksi Sawit Indonesia

Ketua Umum GAPKI bersama Badan Karantina Indonesia, perwakilan Kementan, perwakilan PPKS, dan BPBDKS melakukan Pelepasan Serangga Penyerbuk Baru Kelapa Sawit dari Tanzania, Kamis (9/4/2026) di Unit Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Kabupaten Simalungun. foto: junita sianturi

SuaraTani.com - Simalungun| Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono mengatakan, meski kinerja industri sawit saat ini sangat membanggakan, namun selama lima tahun terakhir industri kelapa sawit dihadapkan pada produksi yang stagnan atau cenderung menurun. 

"Stagnasi produktivitas kelapa sawit salah satunya disebabkan kemampuan serangga penyerbuk Elaeidobius sp dalam penyerbukan menurun. Penyerbukan tidak maksimal dan produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit stagnan bahkan cenderung menurun," kata Edi.

Hal itu disampaikan Edi pada acara Pelepasan Serangga Penyerbuk Baru Kelapa Sawit dari Tanzania, Kamis (9/4/2026) di Unit Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Marihat, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Menurut Edi, jika tidak ada upaya khusus untuk peningkatan produktivitas maka ekspor produk kelapa sawit akan terus menurun hingga akhirnya kebutuhan dalam negeri terkendala.

Sementara konsumsi dalam negeri terus mengalami peningkatan, baik untuk pangan, biodiesel maupun industri oleokimia. 

Karena itu, didukung perusahaan anggota melalui Konsorsium Plasma Nutfah dan jajaran Penelitian khususnya RPN dan PPKS, GAPKI mengajukan kepada Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mendatangkan tiga spesies serangga penyerbuk baru.

Yang mana kemampuan penyerbukan dari serangga tersebut lebih tinggi dari serangga penyerbuk yang ada selama ini. Serangga tersebut adalah Elaeidobius subvittatus, Elaeidobius kamerunicus, dan Elaeidobius plagiatus dari negara Tanzania.

Ketiga jenis serangga penyerbuk tersebut kata Edi, telah dilakukan pengujian karantina di bawah pengawasan Badan Karantina Indonesia di Insektarium PPKS Marihat yang mencakup kemurnian spesies, keamanan ekologis, keefektifan, kompetisi antar spesies, dan analisis metagenomic.

"Dan, hari ini serangga penyerbuk dilepas dan pelepasan ini merupakan rangkaian hari ulang tahun ke-45 GAPKI. Kita berharap, dengan dilepasnya serangga penyerbuk baru itu, produksi TBS yang dihasilkan dapat meningkat 10-15 persen," ujar Edi

Terkait pendanaan untuk mendatangkan serangga penyerbuk baru itu, menurut Edi, didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPBDKS) sebagai Riset Inisiatif serta support dari  22 perusahaan kelapa sawit anggota GAPKI melalui Konsosium Plasma Nutfah.

Sementara itu, mewakili Badan Karantina Indonesia yang juga Staf Ahli/Analis Perkarantinaan Tumbuhan Utama Badan Karantina Indonesia, Dr. Antarjo Dikin mengatakan, hasil penelitian yang dilakukan selama satu tahun ini, bahwa  ketiga jenis serangga asal Tanzania tersebut aman. 

Pertama, aman secara ekologis, yaitu tidak memanfaatkan inang selain bunga jantan kelapa sawit, tidak menjadi hama tanaman lain, dan Tidak membawa patogen OPTK A1 (Organisme pengganggu tanaman karantina).

Kedua, bukan invasive alien species, yaitu tidak menunjukkan perilaku invasif, dan memiliki niche spesifik dan terkendali.

Ketiga, koeksistensi stabil, yaitu tidak menekan populasi polinator lokal dan justru membentuk komunitas polinator yang saling melengkapi.

Keempat, potensi peningkatan penyerbukan, yaitu Elaeidobius subvittatus, E. plagiatus dan E. kamerunicus tidak saling berkompetisi terutama dengan spesies lokal, E. subvittatus berukuran kecil sehingga berpotensi memperbaiki penyerbukan sampai bagian dalam tandan. 

Begitupun, kata Antarjo, serangga ini akan terus berada dalam pemantauan Badan Karantina selama dua hingga tahun ke depan.

"Kita ini ingin melihat perkembangannya, bagaimana stabilitasnya dan daya adaptasinya di lapangan," jelas Antarjo. 

Direktur Perbenihan, Kementan Ebi Rulianti mengatakan, momentum pelepasan serangga penyerbuk baru ini merupakan menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia.

Keberadaan serangga penyerbuk tersebut dinilai mampu menekan biaya dalam kegiatan budi daya, khususnya pada aspek penyerbukan, sehingga mendukung efisiensi di sektor perkebunan kelapa sawit.

“Kita menandai langkah strategis dalam keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia. Keberadaan serangga ini sangat mampu menurunkan cost dalam produktivitas sawit,” kata Ebi dalam sambutannya.

Acara tersebut turut dihadiri Direktur Operasional PTPN IV PalmCo, Rediman Silalahi, Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDPKS, Mohammad Alfansyah, Komite Libang BPDP, Prof (Ris) Didiek Hadjar Goenadi, SEVP Business Support PT RPN Dr Edy Supriyanto.

Hadir juga Kepala PPKS dan jajarannya, Ketua Apkasindo Sumut, Aspekpir, SPKS, Samade dan yang mewakili Konsorsium Serangga Penyerbuk Perusahaan Anggota GAPKI dan petani kelapa sawit. * (junita sianturi)