BRIN mengkaji pengembangan Grand Parent Stock (GPS) ayam lokal berbasis keunggulan genetik tropis untuk mendukung kemandirian perbibitan unggas nasional. foto: ist

SuaraTani.com - Cibinong| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji pengembangan Grand Parent Stock (GPS) ayam lokal berbasis keunggulan genetik tropis untuk mendukung kemandirian perbibitan unggas nasional. 

Kajian ini dilakukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan industri perunggasan Indonesia terhadap impor bibit ayam ras komersial.

Indonesia dinilai memiliki sumber daya genetik ayam lokal yang beragam dengan kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis. Selain lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu, ayam lokal juga memiliki karakteristik produk yang diminati masyarakat.

Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan ORPP BRIN, Yudhistira Nugraha,  mengatakan bahwa tantangan utama pengembangan industri perunggasan nasional saat ini adalah ketergantungan terhadap impor GPS ayam ras komersial. 

Produksi grandparent stock dunia masih didominasi negara-negara maju yang telah melakukan riset dan investasi besar selama ratusan tahun.

“Namun demikian, kita berharap tidak terus bergantung pada GPS impor. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya genetik ayam lokal yang sangat beragam dan memiliki keunggulan komparatif, terutama kemampuan adaptasi terhadap lingkungan tropis dan cita rasa khas yang dimiliki,” ujarnya dalam siaran pers, Kamis (14/5/2026) di Jakarta.

Ia menambahkan bahwa pengembangan grandparent stock ayam lokal menjadi langkah strategis untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional. 

Ketergantungan pada impor dinilai berisiko terhadap stabilitas produksi dalam negeri apabila terjadi gangguan geopolitik atau hambatan perdagangan internasional.

“Selain itu, pentingnya pengembangan GPS ayam lokal juga didorong tingginya kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Pola Pangan Harapan (PPH), pemenuhan protein hewani nasional sejauh ini banyak ditopang sektor perunggasan, baik daging maupun telur, serta sektor perikanan,” kata Yudhistira.

Ia menilai kebutuhan protein hewani akan terus meningkat, terutama dengan adanya program Makan Bergizi Gratis. 

Karena itu, penguatan sistem produksi peternakan menjadi sangat penting, salah satunya melalui ketersediaan grandparent stock sebagai fondasi utama industri perunggasan nasional. 

Terlebih, peningkatan produksi daging, susu, dan telur telah ditetapkan pemerintah sebagai bagian dari program prioritas nasional hingga 2029. 

Untuk mewujudkannya, Yudhistira menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun industri GPS ayam lokal nasional.

Keberhasilan pengembangan industri tersebut tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan sinergi antara lembaga riset, industri, peternak, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.

Dikatakannya, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN mendapat arahan untuk menyiapkan koleksi khusus hasil riset peternakan yang ditargetkan mulai tahun 2027.

Produk unggulan seperti ayam pedaging maupun ayam petelur dengan produktivitas lebih tinggi diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata BRIN dalam mendukung kebutuhan nasional. 

"Melalui riset dan inovasi, kita berharap dapat mempercepat pengembangan bibit unggul nasional yang lebih adaptif, produktif, dan efisien sesuai dengan agroekosistem Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menyampaikan bahwa sektor perunggasan memiliki kontribusi besar dalam pemenuhan protein hewani masyarakat Indonesia. 

Selain daging ayam, telur dan berbagai produk unggas lainnya terus mengalami peningkatan permintaan seiring pertumbuhan penduduk, perubahan pola konsumsi, dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi berkualitas.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ayam lokal yang tersebar di berbagai daerah. 

Ayam lokal dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan tropis, lebih tahan terhadap kondisi lingkungan tertentu, serta memiliki karakteristik produk yang disukai masyarakat.

Potensi ini merupakan aset nasional yang perlu dijaga dan dikembangkan secara optimal. Namun Santoso menekankan, pengembangan ayam lokal tidak cukup hanya mengandalkan potensi genetik yang ada. 

Dibutuhkan dukungan riset dan inovasi berkelanjutan agar ayam lokal Indonesia memiliki produktivitas yang lebih baik dan mampu bersaing secara ekonomi.

Terdapat berbagai upaya untuk mewujudkan pengembangan ayam lokal yaitu melalui perbaikan pemuliaan, pendekatan rekayasa genetik, pengelolaan sistem pembibitan, penerapan teknologi reproduksi, hingga pengembangan budidaya modern yang lebih efisien. 

"Pengembangan grandparent stock ayam lokal di Indonesia menjadi salah satu langkah strategis,” jelas Santoso.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan ORPP BRIN, Tike Sartika, menyampaikan bahwa pembentukan GPS ayam lokal Indonesia merupakan langkah strategis untuk memperkuat sistem pembibitan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bibit ayam ras komersial.

Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya genetik ayam lokal yang sangat beragam dan memiliki keunggulan adaptasi terhadap lingkungan tropis. 

Melalui riset dan inovasi, ayam lokal diharapkan dapat dikembangkan menjadi bibit unggul nasional yang produktif, efisien, dan mampu mendukung kemandirian pangan nasional, khususnya dalam penyediaan daging dan telur bagi masyarakat. * (junita sianturi)