Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kebutuhan Meningkat, BRIN Kembangkan Teknologi Material Dolomit Jadi Magnesium Karbonat

BRIN mengembangkan teknologi pengolahan material dolomit menjadi magnesium karbonat. foto: ist

SuaraTani.com - Tangerang Selatan| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pengolahan material dolomit menjadi magnesium karbonat. 

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Metalurgi BRIN, Eko Sulistiyono mengatakan, magnesium karbonat merupakan senyawa umumnya digunakan dalam medis sebagai antasida, dan dipakai juga untuk industri makanan dan konstruksi. 

Kbutuhan magnesium karbonat di dalam negeri terus meningkat, sementara pasokan masih didominasi impor dari negara seperti Jepang, Jerman, dan India. 

"Untuk bahan baku sejenis, nilai impor bahkan mencapai puluhan juta dolar AS per tahun, menunjukkan besarnya peluang substitusi melalui produksi domestik,"  ujar Eko, Kamis (7/5/2026) di Tangerang Selatan.

Ia menilai penguasaan teknologi menjadi kunci untuk menjawab tantangan tersebut. Hal ini sebagai bagian dari upaya mendukung kebijakan hilirisasi mineral nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor bahan baku industri.

“Dolomit kita melimpah, tetapi nilai tambahnya masih rendah. Melalui teknologi, kita dorong agar mineral ini bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti magnesium karbonat. Pemerintah mendorong agar mineral tidak hanya diekspor dalam bentuk mentah. Di sinilah peran riset menjadi penting, untuk memastikan proses pengolahannya bisa dilakukan di dalam negeri,” jelasnya.

Dikatakannya, teknologi yang dikembangkan BRIN memproses dolomit melalui tahapan terintegrasi, mulai dari penghancuran, kalsinasi suhu tinggi, hingga penggilingan halus. 

Material kemudian direaksikan dengan gas CO₂ dalam proses karbonasi untuk membentuk magnesium karbonat.

Tahap lanjutan meliputi filtrasi, pengendapan, hingga pengeringan menggunakan spray dryer untuk menghasilkan produk berukuran sangat halus (ultra fine grain) yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Menurut Eko, keunggulan teknologi ini terletak pada kemampuan menghasilkan produk dengan kualitas yang konsisten. 

“Yang kita kejar bukan hanya produksi, tetapi kualitas yang bisa bersaing dengan produk impor,” jelasnya.

Selain produk utama, proses ini juga menghasilkan kalsium karbonat (CaCO₃) sebagai produk samping yang memiliki nilai ekonomi, sehingga meningkatkan efisiensi dan daya saing industri. 

Dengan kombinasi kebijakan hilirisasi dan kesiapan teknologi, BRIN menilai pengembangan magnesium karbonat berbasis dolomit dapat menjadi salah satu model konkret transformasi mineral menjadi material industri bernilai tinggi. * (junita sianturi)