SuaraTani.com - Yogyakarta| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Universitas Pancasakti (UPS) Tegal mengembangkan sistem pemantauan kualitas air berbasis Internet of Things (IoT).
Sistem ini memungkinkan kondisi tambak dipantau secara real-time sehingga memudahkan pengelolaan budidaya secara lebih efektif.
Peneliti Kelompok Riset Teknologi Perencanaan dan Pengelolaan Kawasan Pesisir, Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN, Alin Fithor, menjelaskan sistem yang dikembangkan memanfaatkan mikrokontroler ESP32, sensor suhu DS18B20, sensor pH, jaringan komunikasi LoRa, dan perangkat Arduino Weather Station.
“Perangkat-perangkat tersebut bekerja secara otomatis mengukur kondisi air tambak dan mengirimkan data ke sistem pemantauan digital sehingga dapat diakses secara langsung oleh pengguna melalui platform berbasis IoT,” kata Alin dalam siaran pers, Jumat (29/5/2026) di Yogyakarta.
Dikatakannya, teknologi ini diharapkan dapat membantu petambak mengambil keputusan lebih cepat dan tepat ketika terjadi perubahan kualitas lingkungan yang berpotensi mengganggu pertumbuhan udang.
Alin mengatakan, abrasi pantai yang terus terjadi di pesisir timur Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan budidaya udang.
Perubahan garis pantai, intrusi air laut, serta kondisi lingkungan yang dinamis membuat kualitas air tambak menjadi lebih sulit dikendalikan. Padahal, kualitas air merupakan faktor utama yang menentukan pertumbuhan dan kesehatan udang.
Data penelitian menunjukkan wilayah pesisir timur Brebes sepanjang 15 kilometer telah kehilangan sekitar 812 hektare lahan akibat abrasi pada periode 1963 hingga 1990.
Meskipun program rehabilitasi mangrove yang dilakukan sejak 2004 hingga 2024 berhasil memulihkan ratusan hektare kawasan pesisir, ancaman perubahan lingkungan masih menjadi tantangan bagi para petambak dalam menjaga produktivitas usaha budidaya.
Inovasi tersebut merupakan hasil penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Thalassas: An International Journal of Marine Sciences pada tahun 2026.
Penelitian dilaksanakan di kawasan tambak udang pesisir timur Brebes selama periode Mei hingga Oktober 2025.
Menurutnya, budidaya udang di kawasan pesisir yang mengalami abrasi memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi dibandingkan tambak pada kondisi normal.
Intrusi air laut, perubahan suhu, serta kondisi tambak yang tidak stabil dapat memengaruhi kualitas air dan meningkatkan risiko gangguan terhadap kesehatan udang.
“Karena itu, sistem pemantauan secara real-time menjadi penting untuk mendukung pengelolaan tambak yang lebih efektif dan berbasis data,” ujarnya.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kualitas air tambak selama masa pengamatan berada dalam kondisi optimal bagi pertumbuhan udang vaname (Litopenaeus vannamei).
Nilai pH air tercatat berkisar antara 7,96 hingga 8,31, sedangkan suhu air berada pada rentang 29,25 hingga 29,87 derajat Celsius. Angka tersebut masih berada dalam kisaran optimal untuk mendukung pertumbuhan, metabolisme, dan kesehatan udang.
Selain memberikan data kualitas air secara akurat, sistem IoT juga mampu berfungsi sebagai alat deteksi dini terhadap perubahan lingkungan yang berpotensi mengganggu produktivitas tambak, seperti penurunan kualitas air, perubahan suhu ekstrem, maupun dampak abrasi pesisir.
“Dibandingkan metode pemantauan manual yang masih banyak digunakan petambak tradisional, sistem ini memungkinkan pemantauan dilakukan secara berkelanjutan sehingga respons terhadap perubahan kondisi lingkungan dapat dilakukan lebih cepat,” kata Alin.
Penerapan teknologi digital tersebut sejalan dengan konsep Smart Aquaculture atau akuakultur cerdas yang memanfaatkan teknologi dan data untuk meningkatkan efisiensi budidaya.
Selain itu, sistem ini juga mendukung konsep Eco-Coastal Farming atau budidaya pesisir berkelanjutan karena membantu petambak menjaga keseimbangan antara produktivitas usaha dan kelestarian lingkungan.
Dengan pemantauan yang dilakukan secara terus-menerus, risiko kematian udang dapat ditekan, produktivitas meningkat, dan keberlanjutan ekosistem pesisir tetap terjaga.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Indonesia mulai mengikuti tren global dalam pengembangan akuakultur berbasis teknologi.
Negara-negara seperti Norwegia, India, dan Vietnam telah lebih dahulu menerapkan sistem pemantauan kualitas air berbasis IoT untuk mendukung industri perikanan modern.
"Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi digital mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat ketahanan sektor perikanan terhadap perubahan lingkungan,” jelas Alin.
Sebagai tindak lanjut, tim peneliti merekomendasikan pengembangan aplikasi notifikasi pada telepon genggam petambak agar sistem dapat memberikan peringatan dini secara otomatis ketika kualitas air mengalami perubahan signifikan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat transformasi budidaya tambak menuju sistem perikanan yang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan. * (junita sianturi)


