SuaraTani.com - Tangerang Selatan| Pusat Riset Komposit dan Biomaterial (PRKB), Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengembangkan implan untuk tulang rahang bawah (mandibula).
Implan tersebut terbuat dari stainless steel SS316L dan dicetak menggunakan teknologi pencetakan 3D untuk logam.
Perekayasa Ahli Utama PRKB, Tika Mustika, menjelaskan pada umumnya dokter menggunakan satu jenis implan yang dipakai untuk berbagai kondisi rahang.
Melihat kebutuhan tersebut, BRIN mengembangkan implan mandibula yang dapat disesuaikan dengan kondisi rahang pasien. Implan ini ditujukan bagi pasien yang mengalami trauma atau tumor pada rahang.
“Salah satu keunggulan dari implan mandibula ini adalah dapat dipersonalisasi mengikuti lekuk rahang dan lokasi trauma dari pasien berdasarkan data CT-scan,” ungkapnya dalam siaran pers yang dikutip, Jumat (28/8/2026).
Ia menambahkan, keunggulan lainnya dari implan mandibula ini adalah dapat mengikuti ukuran tubuh pasien.
Menurutnya, untuk usia dan jenis tubuh yang sama, tidak ada tulang rahang yang bentuk dan ukurannya sama persis.
“Didalam struktur implan mandibula, dimasukkan pori-pori yang mewakili desain di dalam tulang yang sebenarnya. Desain dalam pori-pori ini akan membantu integrasi atau penempelan organik tulang ke rahang di jaringan yang tidak terluka,” papar Tika.
Dijelaskannya, BRIN berkolaborasi dengan sejumlah mitra dalam pengembangan prototipe implan mandibula. Kolaborasi tersebut melibatkan rumah sakit, akademisi, dan sektor industri.
“Saat ini kami masih dalam tahap pembuatan prototipe. Kami juga bekerja sama dengan rumah sakit dan dokter spesialis bedah mulut dan maksilofasial untuk memperoleh masukan terkait desain implan yang dibutuhkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa SS316L dipilih sebagai material implan mandibula karena memiliki biaya produksi yang relatif lebih rendah. Material ini lebih terjangkau dibandingkan dengan titanium (Ti) yang umum digunakan untuk implan.
“Kami menggunakan SS316L pada tahap awal untuk mengembangkan berbagai variasi desain prototipe yang akan dicetak. Dengan material ini, kami dapat melakukan proof of concept dengan biaya yang lebih rendah,” ujarnya.
Tika menjelaskan, riset implan mandibula selanjutnya akan dikembangkan menggunakan material titanium. Penggunaan material tersebut menjadi tahap lanjutan setelah pengembangan prototipe berbahan SS316L.
“Kami berencana menggunakan titanium, meskipun dari segi biaya relatif lebih mahal, namun titanium lebih ringan dan juga lebih kuat. Selain itu titanium dinilai lebih familiar dikalangan dokter,” ujarnya.
Ia berharap, inovasi implan mandibula customized ini dapat dihilirisasi melalui manufaktur dalam negeri. Hilirisasi tersebut diharapkan dapat mendukung kemandirian industri alat kesehatan nasional. * (junita sianturi)


