SuaraTani.com - Jakarta| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan asupan mineral dari konsumsi daging ayam dan sapi masih berada di bawah kebutuhan harian yang direkomendasikan untuk zat besi, seng, dan selenium.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir BRIN, Diah Dwiana Lestiani, mengatakan penelitian tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran kandungan mineral dalam daging ayam dan sapi sebagai salah satu sumber protein bagi masyarakat.
“Ketika kami menghitung kontribusinya terhadap nilai rekomendasi asupan harian, asupan mineral dari daging sapi dan ayam masih di bawah angka kecukupan gizi,” kata Diah dalam siaran pers, Rabu (16/9/2026) di Jakarta.
Penelitian tersebut mencakup 146 sampel daging ayam dan sapi yang dikumpulkan dari 73 pasar di lima provinsi di Pulau Jawa, yakni Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Diah menjelaskan pemilihan wilayah penelitian tersebut berkaitan dengan konsentrasi penduduk di Pulau Jawa.
Lebih dari 55,7 persen penduduk Indonesia tinggal di pulau tersebut sehingga penelitian di berbagai wilayah Jawa diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kandungan mineral pada daging ayam dan sapi yang dikonsumsi masyarakat.
Menurutnya, data mengenai kandungan mineral dari sumber protein tersebut masih terbatas. Padahal, zat besi dan seng merupakan mineral yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, khususnya pada anak-anak.
Hasil penelitian menunjukkan daging sapi memiliki kandungan mineral yang lebih tinggi dibandingkan daging ayam. Namun, konsumsi daging ayam lebih tinggi sehingga kontribusinya terhadap asupan mineral juga perlu diperhitungkan.
“Daging sapi lebih kaya mineral, tetapi ayam juga memberikan asupan karena tingkat konsumsinya lebih tinggi. Konsumsi daging sapi lebih rendah,” katanya.
Diah mengungkapkan ketika kontribusi konsumsi daging ayam dan sapi dihitung terhadap rekomendasi asupan harian, kontribusi ketiga mineral tersebut masih rendah.
Untuk zat besi, kontribusinya maksimal sekitar 1,9 persen. Sementara kontribusi selenium lebih baik dibandingkan zat besi dan seng, tetapi total asupan dari kedua jenis daging tersebut tetap berada di bawah rekomendasi kebutuhan harian.
Kondisi tersebut menurut Diah, menunjukkan perlunya perhatian terhadap konsumsi sumber pangan yang dapat memasok mineral bagi masyarakat.
“Ini menunjukkan asupan dari daging sapi dan ayam masih perlu didorong dan perlu ada kampanye untuk meningkatkan tingkat konsumsi,” ujarnya.
Penelitian kandungan mineral tersebut merupakan salah satu pemanfaatan neutron activation analysis (NAA) yang dilakukan BRIN.
Hasil penelitian mengenai kandungan mineral esensial pada daging ayam dan sapi dari Pulau Jawa tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Scientific Reports pada 2026 berjudul "Evaluating the essential microminerals in chicken and beef from Java, Indonesia using neutron activation analysis for nutritional assessment". * (junita sianturi)


