SuaraTani.com - Jakarta| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong kemandirian nelayan melalui inovasi desain dan pembuatan kapal fiberglass.
Inovasi ini tidak hanya berfokus pada pengembangan kapal, tetapi juga membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan untuk membuat, memelihara, serta mengembangkan kapal sesuai kebutuhan daerah.
Pengembangan kapal tersebut berangkat dari desain kapal tradisional yang telah digunakan masyarakat setempat.
Periset Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Abdul Kadir mengatakan, setiap daerah memiliki tipe kapal yang berbeda-beda.
Karena itu, BRIN tidak membawa desain yang sama untuk setiap lokasi, tetapi mengambil desain kapal yang sudah ada di daerah tempat pelatihan.
"Kapal tradisional tersebut kemudian kami redesign dan diberikan inovasi agar lebih aman, lebih stabil, dan performanya dapat meningkat,” ujar Abdul Kadir, dalam siaran pers yang dikutip, Jumat (18/9/2026) di Jakarta.
Menurutnya, transfer pengetahuan menjadi bagian penting dalam inovasi tersebut. Masyarakat dilibatkan langsung dalam proses pembuatan kapal melalui pelatihan yang dimulai dari membaca gambar desain hingga membuat cetakan dan mencetak kapal fiberglass.
“Kami mengajari para nelayan mulai dari membaca gambar hingga membuat cetakan. Targetnya, peserta tidak hanya bisa membaca gambar, tetapi juga mampu mendesain kapal. Setelah itu, masyarakat nelayan dilibatkan langsung untuk membuat kapalnya sendiri,” jelasnya.
Peserta kemudian terlibat dalam pemasangan lapisan fiberglass, rangka, mesin, dan peralatan hingga kapal diluncurkan. Kapal yang telah selesai dibuat juga melalui uji kebocoran, daya apung, dan kecepatan untuk memastikan kesesuaian serta keamanan saat dioperasikan.
“Setelah kapal dibuat, kami harus memastikan kapal tersebut betul-betul sesuai dengan tempat dan aman untuk dioperasikan. Karena itu dilakukan uji coba kebocoran, daya apung, dan kecepatan untuk melihat apakah performanya sesuai dengan kebutuhan di daerah tersebut,” terang Abdul Kadir.
Setelah diserahterimakan kepada kelompok nelayan, peserta diharapkan mampu membuat dan memelihara perahu fiberglass serta mengembangkannya sesuai kebutuhan.
Diseminasi pembuatan kapal fiberglass sendiri telah dilaksanakan di 33 lokasi di Indonesia, mulai dari Pulau Nias hingga Papua.
Pengalaman salah satu peserta di Flores menunjukkan keberlanjutan keterampilan tersebut. Abdul Kadir menceritakan, seorang peserta yang pernah mengikuti pelatihan kemudian mendirikan galangan kapal.
“Kami pernah melakukan pelatihan di Flores. Beberapa tahun kemudian, salah satu peserta menghubungi kami dan ternyata sudah mendirikan galangan kapal. Dia sudah memiliki bekal pengetahuan membuat kapal dari pelatihan yang kami berikan,” ungkapnya.
Dalam pengembangan berikutnya, pendekatan serupa direncanakan diterapkan di enam lokasi di Sumatera: tiga lokasi di Aceh, dua di Sumatera Utara, dan satu di Sumatera Barat. Sebanyak 18 kapal ditargetkan dikembangkan sekaligus menjadi sarana pelatihan bagi hingga 180 perajin.
Pengembangan tersebut dirancang selama tiga tahun dengan target tiga prototipe kapal fiberglass pada tahun pertama, enam prototipe pada tahun kedua, dan sembilan prototipe pada tahun ketiga.
Selain prototipe, luaran mencakup desain inovasi, cetakan kapal fiberglass, paket pelatihan, karya ilmiah, dan desain industri.
Melalui pengembangan desain berbasis kebutuhan lokal dan transfer teknologi secara langsung, inovasi kapal fiberglass BRIN diarahkan untuk membangun kemampuan masyarakat dalam membuat, memelihara, dan mengembangkan kapal secara mandiri.
Dengan demikian, hasil riset dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan sesuai kebutuhan daerah. * (junita sianturi)


