SuaraTani.com - Jakarta| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi iradiasi pangan dan cold plasma, teknologi pengawetan pangan untuk memperpanjang umur simpan produk.
Bagi industri, teknologi tersebut juga harus mampu menjaga keamanan dan mutu pangan, sesuai dengan kapasitas produksi, terjangkau secara biaya, memenuhi regulasi, serta dapat diterapkan dalam rantai produksi dan distribusi.
Peneliti Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi (PR TPR) BRIN, Indra Mustika Pratama, menjelaskan bahwa iradiasi pangan merupakan salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk mendukung keamanan sekaligus memperpanjang umur simpan pangan.
Teknologi ini menggunakan energi radiasi secara terkontrol untuk membantu menurunkan kontaminasi mikroorganisme pada pangan. Pemanfaatannya dapat disesuaikan dengan karakteristik dan tujuan pengolahan produk.
Iradiasi antara lain dapat membantu menunda pematangan buah dan sayuran, menghambat pertunasan, serta mengendalikan serangga karantina.
Karena setiap jenis pangan memiliki karakteristik berbeda, dosis iradiasi tidak dapat diseragamkan dan perlu ditentukan berdasarkan tujuan pengolahan.
Indra menegaskan, pangan yang telah melalui proses iradiasi tidak menjadi radioaktif. Dalam prosesnya, pangan menerima energi radiasi secara terkontrol tanpa bersentuhan langsung dengan sumber radiasi.
Meski demikian, iradiasi bukan pengganti praktik produksi yang higienis. Good Manufacturing Practices (GMP) tetap menjadi dasar untuk memastikan pangan diproduksi secara higienis dan terkendali.
“Artinya dari pihak produksi, industri itu harus memastikan GMP-nya bagus, proses produksinya bagus, higienis bagus, baru kemudian teknologi radiasi ini bisa dilaksanakan dengan maksimal,” ujar Indra dalam siaran pers, Senin (21/9/2026) di Jakarta.
Menurutnya, iradiasi dapat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari sistem pengamanan pangan dan dikombinasikan dengan metode lain, seperti pengemasan, pelapisan pangan, dan rantai dingin. Pemilihan teknologi disesuaikan dengan karakteristik produk dan tujuan pengawetan.
Cold Plasma untuk Beragam Aplikasi
Selain iradiasi, BRIN juga mengembangkan teknologi cold plasma untuk berbagai kebutuhan pengolahan pangan.
Kepala Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Satriyo Krido Wahono, menjelaskan bahwa pemanfaatan plasma di bidang pangan masih relatif baru dan terus dikembangkan melalui riset.
Cold plasma berpotensi digunakan untuk mengurangi mikroorganisme, menonaktifkan enzim tertentu, membantu mengurangi residu pestisida, serta mendukung pengembangan dan sterilisasi kemasan pangan.
Salah satu riset yang sedang dilakukan adalah kombinasi cold plasma dengan rantai dingin pada produk makanan laut. Hasil sementara menunjukkan perlakuan tersebut berpotensi memperpanjang umur simpan selama 2–4 hari dengan waktu perlakuan sekitar 5–10 menit.
Riset tersebut masih berlangsung untuk melihat lebih jauh penerapan teknologi pada produk pangan. Pengembangan lebih lanjut diperlukan, termasuk untuk memastikan aspek keamanan dan memperluas pemanfaatannya di industri.
“Selain kita melakukan pengembangan proses menggunakan plasma untuk proses pangan ataupun preservasi pangan, kita juga tetap harus memperhatikan food safety-nya,” kata Satriyo.
BRIN juga mengembangkan berbagai reaktor plasma untuk mengeksplorasi lebih banyak pemanfaatannya. Selain untuk pengawetan, teknologi tersebut berpotensi digunakan dalam proses pengeringan bahan organik dan modifikasi karakteristik bahan pangan.
Biaya dan Kapasitas Produksi
Dari perspektif industri, keberhasilan teknologi pengawetan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknisnya.
Widya Palupi Herminingsih dari Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) mengatakan, industri juga perlu mempertimbangkan keterjangkauan biaya, ketersediaan teknologi, dan kesesuaiannya dengan kapasitas produksi.
Hal tersebut menjadi semakin penting bagi produk yang membutuhkan distribusi panjang atau ditujukan untuk pasar ekspor. Teknologi yang digunakan harus mampu menjaga keamanan dan mutu produk sejak proses produksi hingga sampai ke konsumen.
“Kita sebagai industri itu juga memikirkan, teknologinya bagus, tetapi kita juga mesti lihat apakah terjangkau buat kita, mampu memenuhi kebutuhan kapasitas produksi kita. Produksi bisa skala kecil atau besar. Kalau skala industri besar, affordable tidak, available tidak buat kita,” jelas Widya.
Selain biaya dan kapasitas, aspek regulasi juga menjadi pertimbangan dalam penerapan teknologi baru. Teknologi maupun produk yang dikembangkan perlu memenuhi persyaratan keamanan dan perizinan, sekaligus mempertimbangkan kesiapan proses produksi, distribusi, dan penerimaan konsumen.
Pengembangan teknologi pengawetan pangan menunjukkan bahwa keberhasilan inovasi tidak berhenti pada pembuktian teknologi di tingkat riset. Teknologi perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi penerapannya di industri.
Iradiasi dan cold plasma menawarkan pendekatan yang dapat digunakan untuk mendukung keamanan dan memperpanjang umur simpan pangan.
Keduanya juga dapat dikombinasikan dengan teknologi lain sesuai karakteristik produk dan kebutuhan pengolahan. * (junita sianturi)


