Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

KKP Harapkan ATI Jadi Wadah Pengembangan Tilapia

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menunjukkan ikan nila hasil budidaya.suaratani.com-ist

SuaraTani.com - Jakarta| Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyambut positif terbentuknya Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI).

KKP berharap organisasi yang mewadahi para pelaku usaha bisnis tilapia tersebut dapat bersinergi dalam mengembangkan tilapia mulai dari budidaya hingga ke pengolahan atau hulu hilir.

“Tilapia memiliki potensi besar dikembangkan. Pasalnya potensi pasar atau global market value ikan nila begitu besar. Merujuk data  Future Market Insights 2023, di tahun ini potensi pasar ikan nila global diperkirakan nilainya mencapai US$13,9 miliar. Diprediksi 10 tahun ke depan, potensi nilainya akan meningkat menjadi US$21,6 miliar. Ini peluang yang luar biasa dan besar, potensi budidaya tilapia dapat meningkatkan perekonomian negara,” jelas Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Tb Haeru Rahayu usai melakukan pengukuhan dan pelantikan pengurus pusat ATI.

Dirjen Tebe mengungkapkan apresiasi dengan resminya terbentuk asosiasi yang bergerak di komoditas tilapia.

Selama ini belum ada komunitas atau organisasi para pelaku usaha hulu-hilir tilapia skala nasional.

ATI ini telah dibentuk tanggal 10 Agustus 2023 di Bandung yang merupakan suatu wadah organisasi yang menaungi para pelaku bisnis tilapia mulai dari budidaya sampai ke pengolahan.

 “Kami berharap dengan resmi dibentuk ATI ini, komunikasi akan menjadi menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kami pun berharap dari sini seluruh pihak akan saling menjembatani semua tantangan dan masalah untuk dihadapi bersama. Karena target dari program tidak akan tercapai kalau berjalan sendiri, perlu ada kerjasama dan kolaborasi antara semua pemangku kepentingan, pemerintah, akademisi, perusahaan, hingga masyarakat pembudidaya,” papar Tebe.

 Pentingnya konsolidasi, ungkap Dirjen Tebe dalam menghadapi setiap tantangan dalam pengembangan budidaya tilapia di Indonesia.

Sehingga ke depan, dengan adanya ATI ini dapat mengkonsolidasikan produksi tilapia Indonesia serta pemasarannya.

Dalam mendorong peningkatan produksi tilapia Indonesia, KKP saat ini juga telah membangun  Modeling Budi Daya Nila Salin Berbasis Kawasan di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Karawang.

Modelling ini harapannya bisa menjadi proyek percontohan klaster budidaya ikan nila salin.

“Modeling Budi Daya Ikan Nila Salin (BINS) ini dibangun sebagai salah satu upaya dalam rangka mencapai target produksi ikan nila nasional di tahun 2024 sebesar 2,46 juta ton atau senilai Rp61,2 triliun. Selain itu sebagai upaya pemerintah pusat dalam mendorong peningkatan produktivitas tambak idle di Pantura Jawa. Agar perekonomian di wilayah tersebut menggeliat, tenaga kerja juga akan meningkat dan multiplier effect terus tumbuh,” harap Tebe.

Merujuk dari Satu Data KKP, adanya penurunan produktivitas tambak di Pantura akibat penurunan daya dukung yang diperkirakan mencapai luas 78.600 ha.

Menyikapi hal tersebut, pemerintah terus berupaya agar produktivitas tambak idle terus meningkat yaitu menawarkan budidaya ikan nila salin sebagai salah satu solusi untuk permasalahan tambak idle tersebut.

Dikarenakan kemampuan ikan nila salin yang telah terbukti dapat tumbuh dengan baik pada salinitas tinggi.

Dirjen Tebe menambahkan, pembangunan model percontohan budidaya ikan nila salin yang diterapkan adalah berbasis darat (land based), dan bukan danau (lake based).

Sehingga model percontohan tersebut selain dengan memperhitungkan keuntungan finansial, juga tetap mengedepankan ekologi.

Sebagai Informasi, Indonesia memiliki sejumlah negara tujuan ekspor utama dimana Amerika Serikat (USA) menduduki posisi teratas dengan pangsa pasar mencapai 62% (7.088 ton) dari total ekspor ikan nila Indonesia.

Ini menunjukkan seberapa signifikan peran USA dalam menyerap produksi ikan nila Indonesia ke pasar internasional.

Berdasarkan bentuk produk, impor tilapia ke AS didominasi dalam bentuk filet beku dengan pangsa pasar 66%.

Selain Amerika Serikat, negara tujuan ekspor nila Indonesia adalah Kanada (14%) dan Uni Eropa (8%). *(putri)