Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Menjawab Kisruh UKT, Wapres: Perlu Pembiayaan Secara Proporsional

Wapres memberikan keterangan persnya di Grand Maleo Hotel & Convention Mamuju, Provinsi Sulbar, Rabu (22/5/2024). foto: ist

SuaraTani.com - Mamuju| Kenaikan uang kuliah tunggal (UKT) dan uang pangkal di sejumlah universitas negeri saat ini tengah menjadi sorotan karena dinilai memberatkan mahasiswa.

Menanggapi permasalahan tersebut, Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin menegaskan perlunya pembiayaan secara proporsional agar UKT tidak terlalu membebani mahasiswa.

“Masalah pendidikan tinggi itu adalah amanat konstitusi yang harus kita jalankan,” ujar Wapres memberikan keterangan persnya di Grand Maleo Hotel & Convention Mamuju, Provinsi Sulbar, Rabu (22/5/2024).

Wapres mengatakan itu usai menghadiri Pengukuhan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), Pembukaan Pekan Ekonomi Syariah (PEKSyar). Dan, Seminar Nasional Ekonomi Syariah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). 

Dikatakannya, perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Namun, tantangan biaya pendidikan tinggi yang mahal menjadi hambatan signifikan.

“Solusi-solusi pemerintah yang menanggung seluruhnya tidak mungkin, belum bisa,” ujarnya.

Untuk itu, Wapres menekankan pentingnya peran Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH)  mencari solusi alternatif untuk pembiayaan pendidikan.

“Perguruan tinggi juga diberi advokasi lah agar bisa mengembangkan usahanya sebagai badan hukum. Jadi, perguruan tinggi juga jangan hanya [mengejar bebasnya]. Kan PTNBH itu dia bebas. Jangan hanya bebasnya saja, bisa melakukan ini-ini karena dia badan hukum. Tapi tanggung jawabnya enggak, gitu kan. Itu juga tidak fair,” ujarnya.

Wapres juga menyatakan bahwa distribusi beban biaya pendidikan harus proporsional antara pemerintah, mahasiswa, dan perguruan tinggi.

“Menurut saya, solusinya ya dibagi ini. Harus menjadi beban pemerintah sesuai dengan kemampuan. Menjadi beban mahasiswa sesuai dengan kemampuan, dan menjadi beban perguruan tinggi melalui badan-badan usaha yang dikembangkan untuk menanggung sebagian,” paparnya.

Ia meyakini, persoalan mahalnya biaya kuliah ini akan bisa diatasi jika proporsionalitas pembiayaan terbangun diantara ketiga pihak tersebut.

Menyinggung perdebatan soal kuliah sebagai kebutuhan tersier, Wapres berpendapat bahwa pendidikan tinggi tetap penting meskipun tidak semua orang harus masuk perguruan tinggi.

“Menurut saya, tidak semua orang harus masuk perguruan tinggi. Tapi perguruan tinggi itu juga penting, karena kita harus menyiapkan sumber daya manusia yang unggul,” ungkapnya.

Dalam hal ini, ia berharap agar masyarakat tidak perlu lagi memperdebatkan istilah tersebut.

“Istilah tersier itu kemudian jadi masalah yang sebaiknya nggak usah kita gunakan istilah itu. Tapi, istilahnya lebih pada kebutuhan kita dan tidak semua orang harus masuk perguruan tinggi. Barangkali dicairkan saja,” pungkas Wapres.

Dalam keterangan pers ini, Wapres didampingi oleh Pj. Gubernur Sulbar Bahtiar Baharuddin, Plt. Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Taufik Hidayat.

Dan, Staf Khusus Wapres Bidang Komunikasi dan Informasi Masduki Baidlowi. * (jasmin)