Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Banjir di Halmahera Barat, Dua Warga Meninggal dan Ribuan Jiwa Terdampak

Banjir merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, meliputi Kecamatan Ibu, Sahu Timur, Tabaru, Ibu Selatan, dan Loloda, Rabu (7/1/2026). foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Banjir melanda Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara, akibat curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak Rabu, (7/1/2026) dini hari, sekitar pukul 04.00 WIT. 

Hujan deras yang berlangsung dalam waktu cukup lama menyebabkan meluapnya aliran air dan menggenangi permukiman warga serta memutus akses jalan di sejumlah wilayah. 

"Kondisi ini mengakibatkan aktivitas masyarakat terganggu dan menimbulkan dampak signifikan bagi kehidupan sosial serta ekonomi warga setempat," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam siaran pers, Kamis (8/1/2026) di Jakarta.

Dikatakannya, wilayah terdampak banjir meliputi lima kecamatan dengan sembilan desa, yaitu Kecamatan Ibu (Desa Gamlamo, Tongute Ternate, Tongute Ternate Asal, dan Gamici).

Kemudian, Kecamatan Sahu Timur (Desa Gamoneng), Kecamatan Tabaru (Desa Duomo dan Goin), Kecamatan Ibu Selatan (Desa Talaga), serta Kecamatan Loloda (Desa Soasio). 

Dari kejadian ini, kata Muhari, dilaporkan dua orang meninggal dunia di Desa Soasio, Kecamatan Loloda. Selain itu, sebanyak 726 kepala keluarga atau sekitar 3.444 jiwa terdampak langsung.

"Dan, sekitar 1.500 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, sementara ini menumpang di rumah warga yang tidak terdampak, sekolah, serta balai desa," jelas Muhari.

Ia juga mengatakan bahwa kerugian materiil akibat banjir cukup besar. Tercatat 726 unit rumah terdampak dengan rincian 34 unit rumah rusak berat, 3 unit rumah rusak sedang, dan 286 unit rumah rusak ringan. 

Selain itu, satu unit ruko dilaporkan mengalami kerusakan berat. Kondisi ini semakin memperberat beban masyarakat yang harus kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat bencana.

"Dalam penanganan darurat, BPBD Kabupaten Halmahera Barat telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk melaksanakan asesmen di lokasi terdampak," terang Muhari. 

Dikatakannya, upaya evakuasi warga terus dilakukan, terutama bagi kelompok rentan. Sebagai langkah awal pemenuhan kebutuhan dasar, BPBD telah menyalurkan bantuan berupa beras sebanyak satu ton dan 500 dus mi instan kepada masyarakat terdampak.

Saat ini, kebutuhan mendesak di lokasi bencana meliputi tenda, terpal, matras atau alas tidur, makanan siap saji, sembako, paket bayi, selimut, family kit, serta perlengkapan kebersihan. 

Penanganan bencana melibatkan berbagai unsur, antara lain BPBD, TNI, Polri, Dinas Sosial, Kominfo, PLN, dan Basarnas, yang bersinergi dalam upaya penanganan darurat dan pemulihan awal.

"Berdasarkan kondisi terkini, banjir di sebagian wilayah telah mulai surut, namun curah hujan masih terpantau sangat tinggi. BMKG memperkirakan potensi cuaca ekstrem masih akan berlangsung di wilayah Halmahera Barat pada periode 5–11 Januari 2026," terangnya. 

Hingga saat ini, jaringan listrik dan akses komunikasi di beberapa lokasi masih terputus. Lokasi pengungsian sementara berada di rumah penduduk, SD Tongute Ternate, dan Balai Desa Tongute Ternate Asal. 

Melihat kondisi tersebut, diperlukan penetapan status tanggap darurat oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat guna mempercepat dan mengoptimalkan upaya penanganan bencana.

"BNPB mengimbau masyarakat Kabupaten Halmahera Barat, khususnya yang berada di wilayah rawan banjir, agar tetap waspada dan mengutamakan keselamatan diri serta keluarga," jelasnya. 

Warga diminta menghindari daerah rawan, segera mengungsi ke tempat aman apabila kondisi memburuk, serta mengikuti arahan dan informasi resmi dari pemerintah daerah dan petugas di lapangan. * (wulandari)