Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Akademisi Andalas Optimis Hilirisasi Gambir Nasional Bangkit

Optimisme terhadap masa depan komoditas gambir nasional menguat seiring dorongan hilirisasi yang digagas Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. foto: ist

SuaraTani.com - Padang| Optimisme terhadap masa depan komoditas gambir nasional menguat seiring dorongan hilirisasi yang digagas Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. 

Akademisi dari Universitas Andalas, Muhammad Makky menilai kebijakan tersebut sebagai langkah strategis yang tidak hanya membuka pasar baru, tetapi juga memperbaiki struktur rantai pasok dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Menurutnya, arah kebijakan yang didorong Mentan telah dirancang dalam empat tahapan strategis yang terukur dan berorientasi bisnis. Pendekatan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun industri gambir dari hulu hingga hilir secara berkelanjutan.

“Ini bukan sekadar wacana. Desainnya jelas, dimulai dari pembukaan pasar, penguatan bahan baku, hingga pengembangan industri dan produk turunan. Kami melihat ini sebagai langkah yang sangat progresif dan realistis,” kata Makky dalam siaran pers yang dikutip di Padang, Sumatera Barat, Rabu (15/4/2026).

Ia menjelaskan, tahap awal difokuskan pada pembukaan akses pasar ekspor secara langsung melalui kolaborasi BUMN dengan eksportir lokal. 

Skema ini sekaligus memangkas rantai distribusi yang selama ini panjang dan cenderung merugikan petani. 

Dalam model baru tersebut, koperasi desa merah putih akan menjadi pihak yang langsung memasok produk ke BUMN, sehingga margin yang sebelumnya tergerus di rantai perdagangan dapat kembali ke tingkat petani.

“Dengan rantai pasok yang lebih pendek, disparitas harga bisa ditekan. Ini penting agar petani mendapatkan harga yang lebih adil dan layak,” jelasnya.

Pada tahap berikutnya, hilirisasi diperkuat melalui pengembangan industri pengolahan oleh BUMN, termasuk produksi gambir berkualitas premium. 

Langkah ini dibarengi dengan intensifikasi lahan serta perbaikan budi daya, terutama pada tanaman gambir yang selama ini kurang optimal akibat rendahnya harga.

Makky menilai strategi hilirisasi tidak berhenti pada produk mentah. Pemerintah juga mendorong pengembangan produk turunan bernilai tinggi seperti katekin dan tanin yang memiliki pasar global lebih luas, mulai dari industri kosmetik, pakan ternak, hingga pengolahan kulit.

“Nilai tambah terbesar ada di produk turunan. Di sinilah kunci peningkatan daya saing Indonesia sebagai produsen gambir dunia,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pasar premium untuk gambir tidak hanya terbatas pada India, tetapi juga berkembang di negara-negara seperti Malaysia, Korea, dan Taiwan. 

Bahkan, permintaan terbesar datang dari industri suplemen pakan ternak dan bahan kimia ramah lingkungan untuk industri kulit dan tekstil.

Dari sisi implementasi, Makky menyebut program ini akan mulai bergerak pada 2026 dengan target ekspor perdana sebagai langkah awal pembuktian pasar. 

Pendekatan bertahap dipilih untuk meminimalkan risiko bisnis, sekaligus memastikan kesiapan dari sisi pasokan dan kualitas.

“Strateginya tidak terburu-buru membangun pabrik, tetapi memastikan pasar dan bahan baku siap terlebih dahulu. Ini pendekatan yang sangat tepat dalam bisnis,” katanya.

Sebagai mitra pemerintah, Universitas Andalas turut berperan dalam studi kelayakan, analisis pasar, serta pembinaan koperasi desa agar mampu memenuhi standar ekspor. Peran ini menjadi bagian penting dalam memastikan kualitas produk sekaligus keberlanjutan program.

Makky menegaskan, pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap arah kebijakan Menteri Pertanian yang dinilai berpihak pada petani dan berbasis pada penguatan industri nasional.

“Kami melihat ini sebagai momentum kebangkitan gambir Indonesia. Dengan kebijakan yang tepat dan kolaborasi yang kuat, komoditas ini bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, khususnya bagi daerah penghasil seperti Sumatera Barat,” pungkasnya.

Sementara itu, Mentan Amran menekankan bahwa hilirisasi gambir akan memberikan nilai tambah yang tinggi bagi perekonomian Sumatera Barat. 

“Sumatera Barat punya potensi terbesar. Kita mohon dukungan bupati dan gubernur. Sawit sudah ada hilirisasinya, sudah jalan dan ekspor. Tapi gambir belum ada hilirisasinya. Nah, ini bisa menambah kesejahteraan petani kita di Sumatera Barat. Yang sudah ada kita tingkatkan, yang belum ada seperti gambir, kita cari dan dorong,” ungkapnya. * (erna)