BRIN mengembangkan nanosilika dari limbah sawit untuk penyimpanan energi yang fleksibel (dapat ditekuk). foto: istSuaraTani.com - Bandung| Limbah abu boiler dari industri kelapa sawit yang jumlahnya mencapai jutaan ton setiap tahun masih menjadi masalah lingkungan. Pasalnya, limbah tersebut hingga kini belum dimanfaatkan dengan baik dan masih bernilai ekonomi rendah.
Padahal, limbah ini mengandung silika (SiO₂) 50-65% dan dapat diolah menjadi nanosilika, yaitu material berukuran sangat kecil sekitar 8–10 nm dengan sifat yang unggul.
Peneliti PRE BRIN, Rike Yudianti mengatakan, nanosilika banyak digunakan dalam berbagai bidang, dari kosmetik, biomedis, konstruksi, hingga elektronik dan energi.
Pada bidang energi, Pusat Riset Elektronika (PRE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengembangkan sistem penyimpanan energi yang fleksibel (dapat ditekuk).
"Hal ini untuk memenuhi perkembangan perangkat elektronik yang wearable, yang mengikuti dinamika gerakan tubuh manusia,” jelas Rike dalam keterangan resmi, Jumat (8/5/2026) di Bandung.
Rike menerangkan, nanosilika memiliki beberapa kelebihan, seperti luas permukaan yang besar, struktur pori yang dapat disesuaikan, serta mudah dimodifikasi secara kimiawi.
Ia sedang mengembangkan superkapasitor fleksibel dengan performa elektrokimia yang stabil, yang dapat menyimpan energinya dalam waktu yang lama.
“Cukup sulit jika superkapasitor yang fleksibel masih menggunakan elektrolit cair karena berisiko bocor, mudah menguap, dan stabilitas elektrokimia yang rendah saat ditekuk terutama pada suhu tinggi dan penggunaan yang panjang,” ujarnya.
Oleh karena itu, kata Rike, pengembangan elektrolit padat untuk superkapasitor fleksibel menjadi menarik dan menantang untuk mendukung perkembangan device elektronik masa depan.
Pada pengembangan elektrolit padat, nanosilika berperan penting dalam memperbaiki kontak elektrolit dan elektroda, sekaligus menambah disosiasi molekul di dalam sistem elektrolit dan transfer ion, karena nanosilika mengandung gugus silanol (–Si–OH).
Tantangan elektrolit padat pada superkapasitor fleksibel, tidak hanya pada elektrolit padatnya sendiri, tapi juga pada antarmuka elektrolit dan elektroda.
“Hal ini cukup menarik untuk dieksplor. Saat ini kami sudah dapat menjaga stabilitas elektrokimianya saat sistem ini bekerja,” ungkapnya.
Pengembangan elektrolit padat ini bekerja sama dengan salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia dan perguruan tinggi di Jepang.
Selain mengembangkan elektrolit padat, PRE BRIN juga merancang strategi perakitan perangkat agar performanya tetap baik meskipun digunakan dalam kondisi fleksibel.
“Pendekatan ini berpotensi mendukung pengembangan teknologi penyimpanan energi masa depan, terutama untuk perangkat elektronik fleksibel dan wearable,” pungkas Rike. * (erna)

