Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BRIN Beri Pendanaan 1.600 Riset dari Dana Abadi Penelitian, Rp2 Triliun telah Dimanfaatkan

BRIN memberikan pendanaan sebanyak 1.600 judul penelitian dari Dana Abadi Penelitian yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) selama periode 2022–2025. foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan pendanaan sebanyak 1.600 judul penelitian dari Dana Abadi Penelitian yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) selama periode 2022–2025.

Pendanaan sekitar Rp2 triliun telah dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan penelitian di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Raden Arthur Ario Lelono, mengatakan dana tersebut telah digunakan untuk membiayai sekitar 1.600 judul riset yang mencakup bidang pangan, kesehatan, energi, serta sosial humaniora.

“Jika dipetakan terhadap 17 tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), sebagian besar riset yang didanai berkontribusi pada tujuan ke-9, yakni industri, inovasi, dan infrastruktur,” kata Raden.

Ia mengatakan itu dalam kegiatan BRIN-UNDP Working Session bertajuk Identifying Priority Areas for Collaboration to Accelerate SDGs Implementation, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Rekam jejak pendanaan tersebut, lanjutnya, dapat menjadi landasan untuk mengembangkan kerja sama baru pada bidang-bidang prioritas yang mendukung pembangunan berkelanjutan, termasuk ekonomi biru dan energi.

Menurut Arthur, BRIN saat ini berfokus mengembangkan berbagai model bisnis dan modalitas pendanaan riset untuk memperkuat kolaborasi lintas kementerian, lembaga, perguruan tinggi, industri, serta mitra internasional.

Ia mengakui belanja riset sektor swasta di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara lain. Karena itu, BRIN terus mendorong keterlibatan industri melalui pemanfaatan infrastruktur riset, sumber daya manusia (SDM) iptek, dan berbagai skema pendanaan kolaboratif.

Selain itu, BRIN juga mengarahkan kegiatan penelitian agar lebih berorientasi pada penyelesaian persoalan masyarakat, industri, dan kebutuhan nasional.

“Tidak lagi berbasis science for science, tetapi bagaimana menjawab permasalahan masyarakat, industri, maupun nasional,” ujarnya.

Untuk memperkuat kolaborasi penelitian, BRIN juga telah mendukung pembentukan 35 Pusat Kolaborasi Riset (PKR) yang melibatkan 16 perguruan tinggi di Indonesia. 

Pusat-pusat tersebut dikembangkan sebagai center of excellence dengan tema-tema spesifik, seperti ekologi mangrove.

Pusat kolaborasi tersebut diharapkan menjadi hub pengembangan kerja sama riset internasional yang mampu menarik peneliti dan akademisi dari berbagai negara. 

“PKR ini dapat dikembangkan menjadi pusat kolaborasi internasional yang mendatangkan visiting professor, postdoctoral, maupun visiting researcher,” katanya. * (junita sianturi)