Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pengelolaan Pascapanen dan Rantai Pasok Kunci Tingkatkan Daya Saing Pertanian

Pengelolaan pascapanen dan penguatan rantai pasok menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan. foto: ist

SuaraTani.com - Cibinong| Pengelolaan pascapanen dan penguatan rantai pasok menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan. 

Di berbagai negara, tantangan sektor pangan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga menjaga kualitas hasil panen selama proses distribusi hingga sampai ke konsumen. 

Kehilangan hasil pascapanen, gangguan rantai pasok, fluktuasi pasar, dan dampak perubahan iklim menjadi faktor yang memengaruhi ketahanan pangan serta daya saing produk pertanian.

Kepala ORPP BRIN, Puji Lestari, menegaskan bahwa tantangan sektor pertanian saat ini tidak hanya terletak pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan menjaga mutu hasil panen hingga diterima konsumen.

“Pertanian saat ini tidak lagi hanya berbicara tentang peningkatan produksi. Tantangan sesungguhnya sering kali dimulai setelah panen. Oleh karena itu, penelitian pascapanen dan rantai pasok harus berjalan beriringan untuk memastikan kualitas produk tetap terjaga hingga diterima konsumen,” ujar Puji dalam siaran pers, Selasa (2/6/2026) di Cibinong.

Menurut Puji, peningkatan efisiensi distribusi memerlukan dukungan riset, penerapan teknologi rantai dingin (cold chain), digitalisasi, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan agar produk pertanian Indonesia mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Senada dengan itu, Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN, Dwinita Wikan Utami, menjelaskan bahwa pengelolaan pascapanen berperan penting dalam menjaga mutu dan daya saing produk hortikultura segar. 

Kualitas produk perlu dipertahankan sejak panen hingga distribusi agar mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.

“Kualitas produk segar harus dijaga sejak panen hingga distribusi. Teknologi pascapanen, rantai dingin, dan pemantauan logistik menjadi kunci untuk mengurangi kehilangan hasil dan meningkatkan akses pasar,” jelas Dwinita.

Ia menambahkan, kondisi geografis Indonesia yang luas dan beriklim tropis membuat produk hortikultura rentan mengalami penurunan mutu selama distribusi. 

Karena itu, pemanfaatan teknologi digital seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan sistem pemantauan rantai pasok berbasis data diperlukan untuk menjaga kualitas produk secara real time sekaligus mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat.

Selain aspek teknologi, penguatan rantai pasok juga memerlukan kolaborasi yang lebih erat antarpelaku usaha pertanian. 

Direktur CRESC, Delwar Akbar, menyoroti pentingnya kolaborasi horizontal antarpetani maupun antarwilayah untuk menciptakan pasokan yang lebih konsisten, memperluas akses pasar, serta membantu mengatasi tantangan biaya produksi, logistik, kualitas produk, dan keterlacakan komoditas.

Menurut Delwar, dukungan pemerintah melalui penguatan tata kelola, standardisasi produk, dan pengembangan pasar juga diperlukan untuk mewujudkan sistem rantai pasok yang lebih terintegrasi dan berdaya saing.

Sementara itu, Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung, Yuanita Handayati, menambahkan, ketahanan sistem pangan memerlukan penguatan operasi rantai pasok, kolaborasi multipihak, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular guna menciptakan sistem yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Sedangkan, Direktur International Research CQUniversity Australia, Hurriyet Babacan, mengingatkan bahwa rantai pasok pertanian modern menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat perubahan iklim, gangguan logistik, keterbatasan infrastruktur, dan ancaman biosekuriti.

“Ketahanan rantai pasok tidak hanya ditentukan oleh efisiensi operasional, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap berbagai gangguan dan ketidakpastian yang dapat memengaruhi keberlanjutan sistem pangan,” kata Hurriyet.

Melalui forum ini, BRIN dan CRESC berharap dapat memperluas pertukaran pengetahuan, memperkuat jejaring riset internasional, serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan sistem pertanian dan pangan yang berkelanjutan, efisien, dan adaptif terhadap tantangan masa depan. 

Dengan dukungan riset, inovasi, dan kemitraan global, sektor pertanian diharapkan semakin berdaya saing sekaligus mampu memperkuat ketahanan pangan secara berkelanjutan. * (junita sianturi)