Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Sebanyak 10.500 Kecambah Sawit Unggul Indonesia Kembali Diekspor ke Kolombia

Petugas Karantina memeriksa kecambah secara ketat di Laboratorium Timbang Deli guna memastikan plumula (tunas) dan radikula (akar) tumbuh seimbang sepanjang 0,5 cm, menandakan vitalitas tinggi dan kesiapan untuk ditanam di tanah baru. foto: ist

SuaraTani.com - Medan| Badan Karantina Indonesia melalui Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina) Sumatera Utara (Sumut) Satuan Pelayanan Kualanamu menyertifikasi 10.500 butir kecambah kelapa sawit.  

Benih dengan varietas unggul DxP Dami G-2 tersebut diekspor ke negara Kolombia, Amerika Latin.

Kepala Karantina Sumut, Prayatno N Ginting, mengatakan bahwa pengiriman ini merupakan bagian dari kuota ekspor 300 ribu butir benih sawit yang telah mendapat izin pengeluaran dari Pemerintah Republik Indonesia (RI) pada April 2026. 

Hingga pertengahan Juni 2026, realisasi ekspor telah mencapai 60.500 butir, dan pengiriman akan terus dilakukan bertahap hingga Agustus 2026.

“Kolombia memilih benih sawit Indonesia karena kualitas varietas DxP Dami G-2 yang produktif, seragam, dan tahan terhadap kondisi lingkungan. Indonesia kini bukan hanya produsen minyak sawit terbesar dunia, tetapi juga pusat keunggulan teknologi perbenihan,” ujar Ginting dalam siaran pers di Medan, Rabu (17/6/2026). 

Menurut Ginting, petugas Karantina memeriksa kecambah secara ketat di Laboratorium Timbang Deli, guna memastikan plumula (tunas) dan radikula (akar) tumbuh seimbang sepanjang 0,5 cm, menandakan vitalitas tinggi dan kesiapan untuk ditanam di tanah baru.

“Setelah memastikan kesesuaian standar ukuran, persyaratan sanitari dan fitosanitari, petugas Karantina menerbitkan sertifikat kesehatan atau fitosanitari (Phytosanitary Certificate). Sertifikat ini menjadi jaminan kesehatan untuk keberterimaan di negara tujuan,” jelasnya.

Ginting mengatakan, kelapa sawit asal Indonesia bebas dari penyakit cadang-cadang yang disebabkan oleh viroid cadang-cadang kelapa (CCCVd). 

Hasil pemeriksaan laboratorium benih bebas dari Fusarium oxysporum f.sp. elaeidis (penyakit layu pembuluh), Imperata cylindrica (alang-alang), Cleome rutidosperma (gulma maman lanang),  dan Tirathaba mundella (penggerek tandan buah sawit).

Ekspor ini menjadi simbol diplomasi pertanian lintas benua, memperkuat citra Indonesia sebagai penyedia teknologi perbenihan berkelas dunia. 

Benih sawit unggul dari Sumatera Utara akan tumbuh menjadi pohon produktif di Kolombia, sekaligus mempererat hubungan antarnegara melalui sektor agribisnis. * (junita sianturi)