Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Miris! Dua Abad Berdiri, Farmasi BUMN Belum Tampil sebagai Pemimpin Pasar

Anggota Komisi VI Sturman Panjaitan mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi VI ke industri farmasi BUMN di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (10/7/2026). foto: ist

SuaraTani.com - Semarang| Anggota Komisi VI DPR RI Sturman Panjaitan mengkritisi kondisi industri farmasi di Indonesia yang bahan baku obatnya masih bergantung dari impor dan belum mampu menguasai pasar mancanegara.

Padahal Kimia Farma dan Bio Farma yang merupakan perusahaan obat yang dikelola BUMN ini sudah berdiri lebih dari dua abat tepatnya tahun 1800-an. 

"Artinya kalau itu berkembang secara wajar, sampai dengan tahun 2026, itu harusnya sudah menguasai wilayah Indonesia bahkan ke mancanegara," kata Sturman saat mengikuti kunjungan kerja spesifik Komisi VI DPR RI ke industri farmasi BUMN di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (10/7/2026). 

Kunjungan tersebut menyoroti tata kelola industri farmasi negara di tengah tingginya ketergantungan pada bahan baku obat impor.

Menurutnya, Kimia Farma dan Bio Farma harusnya dapat menjadi tulang punggung penyediaan obat nasional sehingga Indonesia tidak lagi bergantung pada pasokan luar negeri. 

Ia juga mendorong pemerintah memperkuat dukungan riset dan pengembangan bagi industri farmasi agar kemandirian bahan baku obat dapat terwujud secara bertahap.

Dikatakannya, penguatan aspek-aspek tersebut menjadi kunci agar perusahaan farmasi BUMN mampu tumbuh dan menguasai pasar dalam negeri.

Politisi Fraksi PDIP-Perjuangan ini mengungkapkan bahwa keterbatasan tersebut turut dipengaruhi oleh belum kuatnya penguasaan teknologi dan kesiapan sumber daya manusia.

"Manajemen harus diatur, SDM-nya harus ditingkatkan dan mempunyai teknologi yang canggih. Karena lack of SDM, lack of technology, sehingga akan tidak bisa maju," jelasnya.

Legislator Dapil Kepulauan Riau ini juga menyoroti tingginya biaya dan panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi bahan baku obat. 

Proses pengembangan satu produk dapat memakan biaya hingga sekitar Rp1 triliun dengan jangka waktu bertahun-tahun, sehingga membutuhkan dukungan dan keseriusan negara.

Sturman berharap Kimia Farma dan Bio Farma dapat menjadi tulang punggung penyediaan obat nasional sehingga Indonesia tidak lagi bergantung pada pasokan luar negeri. * (wulandari)