SuaraTani.com - Jakarta| Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Mineral Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Anggoro Tri Mursito memperkenalkan inovasi Pellet Bio-Batubara Fermentasi Berkalori Tinggi yang dibuat melalui fermentasi dengan bioaktivator bakteri bacillus.
Teknologi tersebut menghasilkan pellet bio-batubara dari campuran 70 persen batubara halus (fine coal) berkualitas rendah dan 30 persen biomassa, terutama limbah kotoran sapi.
Anggoro mengatakan, inovasi ini juga sebagai solusi pemanfaatan batubara berkalori rendah dan limbah biomassa menjadi bahan bakar padat yang lebih ramah lingkungan.
Berbeda dengan teknologi konvensional, proses pembuatannya mengandalkan fermentasi menggunakan bioaktivator yang mengandung mikroorganisme aktif, sehingga mampu meningkatkan kualitas bahan bakar tanpa memerlukan proses karbonisasi bersuhu tinggi.
"Permasalahan utama batubara kualitas rendah adalah kandungan sulfur dan kadar air yang tinggi. Melalui bantuan bioaktivator yang berisi berbagai jenis bakteri Bacillus, kami mampu menurunkan kandungan sulfur sekaligus mengurangi kadar air secara alami," ujar Anggoro, dalam siaran pers, Rabu (29/7/2026) di Jakarta.
Ia menjelaskan, selama proses fermentasi berlangsung sekitar 24 jam, mikroorganisme bekerja melakukan proses desulfurisasi dan deoksigenasi sehingga kualitas bahan baku meningkat secara signifikan.
Hasilnya, pellet bio-batubara memiliki nilai kalor mencapai sekitar 5.061 kalori per gram, memenuhi standar briket bio-batubara kelas A, sekaligus memiliki karakteristik lebih hidrofobik dan menghasilkan pembakaran yang lebih baik.
Menurutnya, pendekatan biologis tersebut juga menjadi keunggulan utama karena tidak membutuhkan bahan kimia asam seperti asam klorida (HCl) yang umum digunakan dalam proses penurunan sulfur.
"Dengan demikian, teknologi ini menawarkan proses produksi yang lebih sederhana, lebih hemat energi, serta lebih ramah terhadap lingkungan," jelasnya.
Anggoro mengatakan, berbagai jenis limbah organik, mulai dari kotoran ternak, sampah taman kota, limbah perkebunan, hingga residu industri makanan, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pellet bio-batubara sehingga memiliki nilai tambah ekonomi.
"Kami mencoba menggabungkan berbagai sumber biomassa tersebut menjadi satu produk yang kami namakan pellet bio-batubara. Dari proses ini kami memperoleh bahan bakar dengan nilai kalor di atas 5.000 kalori yang masuk kategori kelas A, sementara proses produksinya hampir tidak memerlukan tambahan energi karena memanfaatkan aktivitas mikroorganisme," jelasnya.
Ia menambahkan, proses fermentasi mampu menurunkan kandungan sulfur hingga sekitar 85 persen hanya dalam waktu satu malam.
Pencapaian tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas pembakaran, tetapi juga berpotensi menekan emisi sulfur yang dihasilkan selama pemanfaatan bahan bakar padat.
Anggoro mengungkapkan bahwa teknologi ini sebenarnya telah dikembangkan sekitar tujuh tahun lalu dan telah memperoleh perlindungan paten dengan nomor IDP000092674.
Saat ini, pellet bio-batubara telah dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada sistem gasifikasi komunal. Melalui proses tersebut, pellet dikonversi menjadi gas sintesis (syngas) yang selanjutnya digunakan untuk menggerakkan single fuel engine sebagai pembangkit listrik.
"Dalam satu siklus sekitar 30 menit, sistem gasifikasi tersebut mampu menghasilkan listrik sekitar 11 kVA. Ini menunjukkan bahwa pellet bio-batubara tidak hanya menjadi alternatif bahan bakar padat, tetapi juga dapat mendukung penyediaan energi listrik berbasis sumber daya lokal," ujarnya.
Dari sisi pengembangan industri, Anggoro melihat peluang investasi yang cukup besar karena bahan baku teknologi ini tersedia melimpah di berbagai daerah.
Banyak kawasan pertambangan batubara yang berdekatan dengan sentra peternakan maupun perkebunan sehingga menciptakan rantai pasok yang efisien untuk produksi pellet bio-batubara.
Ia menilai teknologi tersebut berpotensi diterapkan pada industri energi dan pembangkit listrik, perusahaan pertambangan batubara, industri peternakan, hingga sektor manufaktur yang menggunakan boiler berbahan bakar padat.
Ke depan, pengembangannya juga diarahkan untuk memanfaatkan refuse derived fuel (RDF) dan berbagai sumber biomassa dari sampah perkotaan sebagai bahan baku tambahan, sehingga semakin memperkuat konsep ekonomi sirkular dalam penyediaan energi alternatif. * (junita sianturi)


