SuaraTani.com - Bandung| Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aris Pramudia, mengungkapkan, Dieng memiliki iklim sedang dan curah hujan tinggi dengan ketinggian permukaan 1.200–1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kondisi tersebut berpotensi untuk budi daya pertanian tiga kali tanam dalam setahun dengan komoditas sayuran dataran tinggi atau tanaman perkebunan dataran tinggi.
Dieng berada di dataran tinggi Jawa Tengah yang mencakup wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, dengan bentang alam yang didominasi oleh lahan pertanian dan kawasan hutan.
Sementara itu, Cartenz terletak di Papua Tengah, tepatnya di kawasan Pegunungan Jayawijaya yang berdampingan dengan Puncak Jaya, pada ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut dengan kondisi permukaan yang didominasi batuan.
Aris mengatakan, pola curah hujan di Dataran Tinggi Dieng adalah monsunal, yaitu karakteristik cuaca dengan perbedaan sangat jelas antara musim hujan dan musim kemarau. Di mana, curah hujan tahunan 3.644 mm per tahun, dengan jumlah bulan basah delapan bulan dan bulan kering tiga bulan.
“Periode kering dengan intensitas kurang dari 50 mm per sepuluh hari terjadi selama 11 dasarian,” terang Aris dalam siaran pers, Selasa (14/7/2026) di Bandung.
Sedangkan pola curah hujan di Cartenz adalah pola yang berfluktuasi basah dan kering lebih dari tiga kali. Sehingga, polanya merupakan multi-pattern dengan curah hujan tahunan 2.762 mm per tahun, dengan jumlah bulan basah lebih dari sembilan bulan dan tidak memiliki bulan kering.
“Tetapi dia mengalami periode kering dengan intensitas kurang dari 50 mm per sepuluh hari atau per dasarian, selama 20 hari atau dua dasarian,” terang Aris.
Ia menerangkan potensi pertanian dapat dilihat dari beberapa metode. Salah satunya pendekatan klasifikasi iklim J.W. Junghuhn. Klasifikasi ini membagi berdasarkan ketinggian atau kondisi suhu udara setempat.
Klasifikasi Junghuhn didasarkan pada ketinggian tempat dan tanaman yang potensial dibudidayakan pada ketinggian tersebut.
Zona iklim panas pada ketinggian 0–600 mdpl dapat dibudidayakan kelapa, karet, tebu, padi, jagung, tembakau, dan cokelat. Di zona iklim sedang pada ketinggian 600–1.500 mdpl dapat dibudidayakan teh, stroberi, kol, sawi, dan selada.
Di zona iklim sejuk pada ketinggian 1.600–2.000 mdpl dapat dibudidayakan sayur-sayuran, hutan tanaman industri, kopi, teh, dan kina. Sementara di zona iklim dingin pada ketinggian lebih dari 2.500 mdpl tidak ada tanaman yang dapat dibudidayakan. Tanaman yang dapat bertahan hidup di zona ini adalah lumut dan paku.
Selain itu, dari penelitian sebelumnya, Aris mengutip hasil analisis potensi pertanian berdasarkan atlas klasifikasi sumber daya agroklimat.
Untuk estimasi temperatur udara rata-rata 22,4–26 derajat Celsius, alternatif tanaman komoditasnya adalah sereal, kacang-kacangan, buah-buahan, dan tanaman perkebunan dataran rendah lainnya.
Sedangkan untuk estimasi temperatur udara rata-rata 18,1–22,4 derajat Celsius, alternatif tanaman komoditasnya adalah sereal, kacang-kacangan, karet, dan tanaman perkebunan dataran tinggi.
Dan, untuk estimasi temperatur udara rata-rata 13–18,1 derajat Celsius, alternatif tanaman komoditasnya adalah sayuran dataran tinggi, perkebunan dataran tinggi, dan tanaman asli.
Adapun untuk estimasi temperatur udara rata-rata kurang dari 13 derajat Celsius, alternatif tanamannya adalah tanaman asli.
“Pada atlas, klasifikasi sumber daya agroklimat juga terdapat klasifikasi berdasar curah hujan tahunan, termasuk bulan kering dan bulan basahnya, untuk potensi budi daya pertanian dan pilihan atau variasi alternatif dari pola tanam,” tegasnya.
Berdasarkan hal tersebut, Aris menyatakan Dieng yang memiliki iklim sedang dan curah hujan tinggi dengan ketinggian permukaan 1.200–1.500 mdpl berpotensi untuk budi daya pertanian tiga kali tanam dengan komoditas sayuran dataran tinggi atau tanaman perkebunan dataran tinggi.
Dikatakannya, terdapat teknik lainnya, yaitu pewilayahan komoditas berbasis zona agrokologi dengan mempertimbangkan kelas lereng dan jenis tanah.
“Kalau lerengnya terjal di atas 40 persen, maka jangan ditanami, tetapi dibiarkan tumbuh vegetasi alami sebagai lahan konservasi. Jika lerengnya antara 16–40 persen, bisa untuk perkebunan,” terang Aris.
Jika lerengnya landai antara 8–15 persen, sambungnya, bisa untuk wanatani atau pengelolaan lahan yang memadukan pertanian atau perkebunan dengan penanaman pohon berkayu secara bersamaan di area yang sama.
"Dan jika lerengnya landai hingga sangat landai atau kurang dari 8 persen, bisa menjadi lahan pertanian kering atau lahan pertanian basah,” pungkasnya.
Aris juga menerangkan perihal kajiannya terkait potensi pertanian berdasarkan kebutuhan suhu optimal tanaman dan penilaian berdasarkan ordo dan kerapatan jaringan sungai.* (junita sianturi)


