SuaraTani.com - Jakarta| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong petani menerapkan pengendalian hama wereng batang cokelat (WBC) secara terpadu sebagai upaya menjaga produktivitas padi sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlyna Budi Pustika, menjelaskan wereng batang cokelat merupakan salah satu hama utama tanaman padi yang tidak hanya merusak tanaman secara langsung, tetapi juga berperan sebagai vektor penyebar penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa.
“Serangan hama tersebut dapat menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, daun menguning, layu, hingga mengalami gejala hopperburn atau mati kering sehingga berpotensi menurunkan hasil panen secara signifikan,” jelas Arlyna dalam siaran pers, Sabtu (8/8/2026) di Jakarta.
Menurutnya, rata-rata petani kehilangan hasil pertanian akibat serangan OPT mencapai sekitar 30 persen dari potensi hasil, dan kehilangan hasil karena serangan hama berkisar 20–25 persen.
Bahkan, serangan WBC pernah mencapai ratusan ribu hektare lahan di Indonesia dengan kehilangan produksi mencapai 1–2 ton gabah per hektare yang berdampak pada kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah.
Menurutnya, perkembangan WBC dipengaruhi oleh banyak faktor. Mulai dari berkurangnya penerapan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penanaman padi secara terus-menerus, penggunaan pestisida yang tidak tepat, pemilihan varietas yang tidak tepat, hingga menurunnya populasi musuh alami akibat terganggunya keseimbangan ekosistem.
Arlyna mengatakan, penggunaan insektisida secara berlebihan justru dapat mempercepat munculnya resistensi pada wereng sehingga efektivitas pengendalian semakin menurun.
Di sisi lain, pola tanam yang tidak serempak membuat sumber makanan bagi wereng selalu tersedia sehingga populasinya terus berkembang.
Untuk itu, BRIN mendorong petani menerapkan strategi pengendalian terpadu yang mengombinasikan berbagai pendekatan.
Langkah tersebut meliputi tanam serempak, rotasi tanaman, penggunaan varietas padi tahan wereng, pemantauan populasi secara berkala, pemanfaatan agensia hayati sedini mungkin seperti Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana.
"Penggunaan insektisida kimia hanya sebagai pilihan terakhir ketika populasi hama telah melampaui ambang ekonomi,” terangnya.
Ia menekankan, pengendalian tidak cukup hanya mengandalkan pestisida. Keberhasilan pengendalian wereng sangat ditentukan oleh penerapan strategi secara terpadu, mulai dari kesepakatan tanam serempak, monitoring populasi, pemanfaatan varietas tahan, hingga menjaga keberadaan musuh alami.
Menurutnya, waktu pengendalian juga menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan. Pemantauan populasi wereng melalui lampu perangkap dan pengamatan langsung di lahan perlu dilakukan secara berkala agar tindakan pengendalian dapat dilakukan sejak awal, sebelum populasi berkembang menjadi generasi berikutnya yang lebih sulit dikendalikan.
BRIN juga merekomendasikan penggunaan varietas padi yang memiliki ketahanan terhadap wereng batang cokelat, seperti Inpari 47 WBC, Inpari Gemah, Inpari 48 Blas, Inpari Digdaya, Inpari 45 Dirgahayu serta beberapa varietas unggul lainnya.
Penggunaan varietas tahan wereng tersebut dinilai mampu menekan risiko serangan sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia.
Sosialisasi program pendekteksi wereng Batang Coklat dengan nama ‘Program Komputer Pengidentifikasi Wereng Batang Coklat (YUKE-WBC)’ yang merupakan produk riset tim dan telah didaftarkan sebagai hak cipta juga dilakukan. * (junita sianturi)


