Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BRIN Kembangkan Biopestisida Organik Kendalikan Antraknosa pada Tanaman Cabai

BRIN mengembangkan biopestisida berbasis bahan alami untuk mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. foto: ist

SuaraTani.com - Cibinong| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan biopestisida berbasis bahan alami untuk menghambat pertumbuhan cendawan patogen penyebab penyakit antraknosa pada tanaman cabai.

Pasalnya, penggunaan pestisida kimia sintetis secara berlebihan dan terus-menerus dapat menimbulkan dampak negatif terhadap manusia, lingkungan, hingga organisme pengganggu tumbuhan (OPT). 

Peneliti Pusat Riset Perkebunan BRIN, Riki Warman, mengembangkan biopestisida organik berbahan kombinasi tiga minyak atsiri, yaitu serai wangi, cengkeh, dan eukaliptus. 

Ketiga bahan tersebut memiliki potensi sebagai biopestisida alami untuk mengendalikan OPT melalui mekanisme yang lebih ramah lingkungan serta aman bagi rantai pangan.

Riki menjelaskan, gabungan tiga minyak atsiri tersebut mampu menghambat pertumbuhan cendawan patogen penyebab penyakit antraknosa pada tanaman cabai. 

“Campuran minyak atsiri serai wangi, cengkeh, dan eukaliptus mampu menghambat pertumbuhan cendawan patogen penyebab penyakit antraknosa pada cabai,” jelas Riki dalam siaran pers, Rabu (19/8/2026) di Cibinong.

Namun, pemanfaatan minyak atsiri sebagai biopestisida masih menghadapi sejumlah kendala teknis. Bahan aktif minyak atsiri mudah menguap, tidak tahan terhadap paparan sinar ultraviolet dan air hujan, memiliki kelarutan rendah dalam air, serta sulit dikontrol dosisnya. 

Kondisi tersebut menyebabkan efektivitasnya dapat menurun ketika diaplikasikan di lapangan. Untuk mengatasi persoalan tersebut, BRIN mengembangkan teknologi nanoenkapsulasi. 

Teknologi ini digunakan untuk melindungi senyawa aktif minyak atsiri, memperlambat pelepasannya, sekaligus meningkatkan stabilitas dan efektivitas formulasi. 

“Melalui teknologi nanoenkapsulasi, efisiensi pelepasan lambat (slow-release) minyak atsiri dapat dioptimalkan sehingga daya simpan dan efektivitas formulasi biopestisida meningkat,” ungkap Riki.

Teknologi Nanoemulsi

Riki menjelaskan, formulasi nanoemulsi konsorsium minyak atsiri dikembangkan menggunakan metode nanoemulsifikasi inversi fase. 

Tahap awal dilakukan dengan mencampurkan minyak atsiri serai wangi, cengkeh, dan eukaliptus dengan rasio 5:1:2, bersama surfaktan dan ko-surfaktan. Campuran kemudian diaduk pada kecepatan 700–1.000 rpm hingga homogen.

Pada tahap berikutnya, kata Riki, air yang telah ditambahkan kitosan 1% dimasukkan ke dalam campuran dan diaduk dengan kecepatan yang sama selama 60 menit. Nanoemulsi yang dihasilkan selanjutnya dicampurkan dengan matriks nanokapsul berupa maltodekstrin.

Campuran tersebut kemudian diaduk dengan kecepatan 12.000 rpm selama 15 menit dan dikeringkan menggunakan spray drying hingga menghasilkan serbuk nanoenkapsulasi konsorsium minyak atsiri.

Hasil pengujian di laboratorium menunjukkan bahwa serbuk enkapsulasi campuran minyak atsiri mampu menghambat pertumbuhan patogen Colletotrichum scovillae dan C. truncatum, yang merupakan penyebab penyakit antraknosa pada cabai.

Formulasi dengan rasio nanoemulsi terhadap matriks 5:1 dan 6:1 menunjukkan karakteristik fisik yang optimal. Ukuran partikelnya berada pada kisaran rata-rata 209,6-363,0 nanometer dengan stabilitas koloid yang tinggi, ditunjukkan oleh nilai zeta potensial sebesar -35,0 mV.

“Nanoenkapsulasi yang kita buat ini menunjukkan aktivitas penghambatan yang signifikan hingga hari ke-14 yang stabil. Meskipun efikasi formulasi ini masih di bawah fungisida kimia, harapannya nanoenkapsulasi ini dapat kita gunakan untuk mengendalikan patogen di lapangan untuk pertanian berkelanjutan ke depannya,” pungkas Riki. * (junita sianturi)