SuaraTani.com - Lombok| Penyakit White Spot Syndrome Virus (WSSV) menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei). Penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi bagi pelaku usaha budidaya udang.
Karena itu, Peneliti Pusat Riset Budidaya BRIN, Wahyu Purbiantoro, mengembangkan kajian mengenai potensi CPG-ODN sebagai salah satu pendekatan inovatif dalam meningkatkan pertahanan alami udang terhadap penyakit.
Dalam paparannya, Wahyu menjelaskan, pengendalian penyakit pada udang membutuhkan pemahaman terhadap sistem pertahanan tubuh krustasea.
Berbeda dengan hewan vertebrata, udang tidak memiliki sistem imun adaptif yang mampu membentuk memori antibodi secara spesifik.
“Kondisi tersebut menyebabkan udang memiliki keterbatasan dalam membangun respons kekebalan spesifik ketika kembali menghadapi patogen yang sama. Karena udang tidak memiliki sistem imun adaptif seperti vertebrata, diperlukan pendekatan untuk mengoptimalkan sistem pertahanan alaminya,” jelas Wahyu dalam siaran persnya, Kamis (27/8/2026) di Lombok.
Salah satu pendekatan yang dikaji adalah penggunaan CPG-ODN, yaitu molekul DNA sintetis yang memiliki motif CpG.
Molekul tersebut berpotensi merangsang reseptor dan sistem pertahanan bawaan pada udang sehingga dapat membantu meningkatkan respons imun terhadap ancaman patogen.
“Pemanfaatan CPG-ODN menjadi bagian dari upaya penelitian untuk menemukan metode pengendalian penyakit yang lebih inovatif. Di samping itu juga dapat mendukung keberlanjutan industri budidaya udang,” urainya.
Penyakit WSSV sendiri menjadi salah satu perhatian dalam budidaya udang karena dapat menyebar dengan cepat dan berdampak terhadap produktivitas.
Karena itu, pengembangan strategi pencegahan dan pengendalian penyakit menjadi penting untuk menjaga keberlangsungan produksi budidaya.
Melalui penelitian tersebut, BRIN terus mendorong pengembangan inovasi berbasis riset yang dapat diterapkan pada sektor akuakultur.
Kajian mengenai CPG-ODN diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam memperkuat sistem pertahanan alami udang sekaligus mendukung pengembangan budidaya udang vaname yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Puji Lestari menjelaskan, udang vaname merupakan komoditas akuakultur yang vital bagi produksi perikanan, perekonomian nasional, dan usaha budidaya berorientasi ekspor.
Intensifikasi dan kepadatan tebar yang tinggi memang meningkatkan produktivitas, namun juga menimbulkan risiko yang dapat mengganggu pertumbuhan, kelangsungan hidup dan pendapatan petani.
“Patogen seperti bakteri dan virus, yang diperparah oleh kualitas air yang buruk serta faktor-faktor stres, menjadikan penyakit sebagai tantangan utama bagi pertanian berkelanjutan. Oleh karena itu manajemen kesehatan yang efektif memerlukan pendekatan preventif maupun kuratif yang didukung oleh kemajuan teknologi pertanian,” ujarnya.
Puji menambahkan, dalam manajemen lingkungan budidaya udang, integrasi teknologi terapan dengan imunologi molekuler, termasuk penggunaan agen biologis dan imunostimulan merupakan hal yang krusial.
Sistem ini sangat bergantung pada imunitas bawaan, dan salah satu sarana yang menjanjikan adalah CPG-ODN, yang mampu merangsang respons imun, serta meningkatkan ketahanan terhadap penyakit.
“Saya berharap kegiatan ini akan sangat bermanfaat untuk berbagi pengetahuan dan hasil penelitian terkini. Selain itu juga untuk memperdalam pemahaman mengenai berbagai isu yang relevan,” tutup Puji. * (junita sianturi)


