Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BRIN Kembangkan SRF, Kurangi Penggunaan Pupuk Kimia dan Kendalikan Wereng

BRIN memperkuat pendampingan kepada petani melalui pengembangan pupuk Slow Release Fertilizer (SRF) yang dipadukan dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). foto: ist

SuaraTani.com - Yogyakarta| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat pendampingan kepada petani melalui pengembangan pupuk Slow Release Fertilizer (SRF) yang dipadukan dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). 

Teknologi ini dikembangkan melalui demplot di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Yogyakarta, untuk mendorong produktivitas padi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Program tersebut memasuki tahap kedua melalui demplot II seluas 3.200 m2, setelah sebelumnya demplot I diterapkan pada lahan seluas 3.300 m2. 

Pada tahap ini, BRIN tidak hanya menguji teknologi pemupukan, tetapi mengintegrasikannya dengan pengendalian hama agar budidaya padi lebih efisien dan berkelanjutan.

Peneliti Pendamping dari Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Agus Supriyo, menjelaskan bahwa petani dalam Demplot II dilatih membuat pupuk SRF Formula B. 

Formula tersebut menggunakan Urea, SP36, dan Kalium dalam jumlah lebih sedikit, yang dienkapsulasi dengan bahan pembenah seperti arang tempurung kelapa, arang sekam, bahan organik, dan zeolit. 

“Formula B dirancang untuk meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara oleh tanaman sekaligus membantu memperbaiki sifat fisik, kimia dan rizosfer tanah,” jelas Agus, dalam siaran pers yang dikutip, Selasa (11/8/2026) di Yogyakarta.

Menurut Agus, karakter slow release membuat unsur hara dilepaskan secara lebih lambat sehingga dapat diserap tanaman secara lebih efisien. Dengan demikian, produktivitas padi diharapkan tetap terjaga tanpa harus meningkatkan dosis pupuk kimia.

Mengubah Kebiasaan Petani

Pengembangan SRF juga menyasar persoalan yang cukup umum di tingkat petani, yakni penggunaan pupuk kimia melebihi dosis rekomendasi. 

Dalam diskusi dengan petani, tim BRIN menemukan masih adanya anggapan bahwa semakin banyak pupuk diberikan, semakin baik pertumbuhan tanaman.

Ketua Gapoktan Desa Sidowayah, Jaenuri, mengakui kebiasaan tersebut masih terjadi. 

“Kalau tidak dipupuk yang banyak, maka tanaman padi tidak mau berbunga,” ujarnya. 

Sebagian petani juga masih menggunakan warna hijau daun sebagai indikator utama kesuburan tanaman sehingga penambahan pupuk dilakukan tanpa sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan tanaman.

Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Gutomo Bayu Aji, menegaskan bahwa pengembangan SRF tidak berhenti pada peningkatan hasil panen, tetapi juga diarahkan untuk mengubah perilaku petani menuju praktik budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Di saat yang sama, petani Klaten menghadapi tantangan Wereng Batang Coklat (WBC) yang meningkat pada musim tanam gadu tahun ini. Karena itu, BRIN mengintegrasikan teknologi SRF dengan pendekatan PHT. 

Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlina B. Puspita, mengatakan pengendalian WBC perlu dilakukan sejak dini dan tidak bergantung pada satu metode. 

Strateginya mencakup penggunaan varietas tahan wereng seperti Inpari 32 WBC dan Bioni 63, pemantauan hama sejak awal, serta penerapan tanam serentak.

Pendekatan ini membuat demplot bukan sekadar lahan percobaan, melainkan ruang belajar bersama bagi peneliti dan petani. Petani menyediakan lahan secara swadaya, sementara bahan pembuatan SRF dan benih padi disiapkan tim peneliti BRIN.

Jadi Model Usaha Petani

BRIN juga mulai mendorong agar inovasi SRF dapat berkembang menjadi model usaha yang memberi manfaat ekonomi langsung bagi petani. 

Gutomo mengatakan pupuk SRF direncanakan dikembangkan melalui koperasi bersama Gapoktan, sehingga teknologi tidak berhenti di demplot, tetapi memiliki peluang untuk diterapkan secara lebih luas. 

“Pupuk SRF bukan hanya mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pembenah tanah, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menurunkan emisi karbon dari sektor nitrogen pertanian,” ujar Gutomo.

Melalui kolaborasi peneliti BRIN, koperasi, dan Gapoktan, pengembangan SRF diharapkan menjadi salah satu model penerapan riset yang langsung menyentuh kebutuhan petani.

Mulai dari efisiensi penggunaan pupuk, pengendalian hama, produktivitas, hingga pengembangan usaha berbasis ekonomi kerakyatan. Dengan pendekatan tersebut, teknologi pertanian tidak berhenti sebagai hasil riset di laboratorium, tetapi didorong untuk hadir dan memberi dampak nyata di lahan petani. * (junita sianturi)