SuaraTani.com - Jakarta| Perubahan genetik pada parasit penyebab malaria (Plasmodium falciparum) terus terjadi dari waktu ke waktu dan berpotensi memengaruhi efektivitas pengobatan antimalaria.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara aktif melakukan kajian molekuler guna memantau perubahan genetik parasit serta mendeteksi dini munculnya resistensi terhadap obat antimalaria.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman BRIN, Puji Budi Setia Asih, mengatakan resistensi obat menjadi salah satu hambatan terbesar dalam upaya pengendalian malaria di dunia, termasuk Indonesia.
Kemampuan parasit untuk beradaptasi secara genetik dapat membuat sebagian populasi tetap bertahan hidup meskipun telah diberikan terapi standar.
“Memahami bagaimana parasit berubah secara genetik sangat penting agar kita bisa memastikan obat yang digunakan saat ini tetap efektif. Sekaligus menjadi landasan untuk mengembangkan terapi baru di masa depan,” kata Puji dalam siaran pers, yang dikutip Kamis (6/8/2026) di Jakarta.
Dikatakannya, pemantauan efektivitas obat dilakukan melalui metode Therapeutic Efficacy Study (TES), yang merupakan standar emas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Metode ini tidak hanya mengevaluasi kinerja obat di tingkat populasi, tetapi juga mampu menangkap sinyal awal munculnya resistensi.
Menurut Puji, terapi kombinasi dihidroartemisinin-piperakuin (DHP) yang telah digunakan sebagai terapi lini pertama di Indonesia sejak 2010, hingga saat ini masih menunjukkan efektivitas di atas ambang batas 90% yang ditetapkan WHO.
Namun, ia mengakui tren efektivitasnya terus menurun seiring waktu.
“Pada awal pemakaian, efektivitas DHP mencapai 100%. Namun, dari hasil uji efikasi berturut-turut terlihat penurunan, yaitu 93,1% pada 2022, 91,5% pada 2023, dan terbaru uji efikasi pada 2026 yang dilakukan bersama empat institusi (BRIN, Universitas Hasanuddin, Kementerian Kesehatan, dan WHO) efektivitasnya tercatat 90,3%,” paparnya.
Angka tersebut hampir menyentuh batas kritis 90%, sehingga menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk segera mengevaluasi kebijakan terapi nasional.
Meskipun secara keseluruhan DHP masih tergolong efektif, tim peneliti mulai menemukan tanda-tanda perubahan pada populasi parasit yang berkaitan dengan menurunnya respons terhadap komponen piperakuin.
Hal ini terlihat dari munculnya kasus late parasitological failure (LPF), yaitu kemunculan kembali parasit dalam darah pasien pada masa pemantauan. Padahal, kadar piperakuin dalam tubuh masih tinggi.
“Ini mengindikasikan sebagian parasit sudah mulai mampu bertahan terhadap tekanan obat, khususnya piperakuin. Meski begitu, hingga kini kami belum menemukan parasit yang resisten terhadap artemisinin maupun turunannya,” tegasnya.
Puji membeberkan, untuk membedakan apakah kemunculan kembali parasit disebabkan infeksi baru atau kegagalan pengobatan, tim peneliti menganalisis penanda genetik seperti PfPM2 dan PfMDR1.
Hasil awalnya menunjukkan sebagian besar parasit masih sensitif secara teoritis terhadap piperakuin. Namun, secara mengejutkan, di lapangan ditemukan beberapa parasit dengan karakteristik tersebut tetap mampu bertahan setelah terapi.
“Temuan ini menunjukkan mekanisme perubahan genetik yang menyebabkan resistensi parasit ternyata lebih kompleks dari yang kita perkirakan. Karena itu, penelitian mendalam masih sangat diperlukan,” imbuhnya.
Selain memantau perubahan genetik terkait resistensi, BRIN juga meneliti target molekuler baru untuk obat antimalaria generasi mendatang.
Salah satu yang menjadi perhatian utamanya adalah apikoplas, organel unik yang hanya dimiliki parasit Plasmodium dan tidak ada pada manusia. Apikoplas berperan penting dalam metabolisme parasit, sehingga sangat potensial sebagai sasaran terapi baru.
“Karena manusia tidak memiliki apikoplas, obat yang menargetkan organel ini diharapkan lebih aman dan selektif,” terangnya.
Puji mengingatkan penelitian terhadap perubahan genetik parasit malaria tidak boleh berhenti. Pemahaman mendalam tentang perubahan genetik parasit akan menjadi bekal penting untuk menjaga efektivitas terapi yang ada sekaligus mempercepat penemuan obat-obatan baru.
“Parasit akan terus mengalami perubahan genetik. Karena itu, riset harus terus berjalan agar strategi pengobatan kita selalu selangkah lebih maju dan tetap efektif dalam mendukung target eliminasi malaria di Indonesia pada 2030,” pungkasnya. * (erna)


