SuaraTani.com - Jakarta| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat pengembangan kandidat obat penyakit infeksi berbasis kekayaan hayati Indonesia sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan farmasi nasional.
Upaya tersebut dilakukan melalui International Symposium on Drug Discovery and Development yang mempertemukan peneliti Indonesia, Jepang, dan Malaysia untuk memperkuat fondasi ilmiah dalam pengembangan obat penyakit infeksi. Mulai dari penemuan senyawa unggulan hingga pengujian keamanan praklinis.
Simposium bertema Strengthening Scientific Base for Accelerating Research on Anti-infectious Diseases Drug Discovery and Development ini merupakan bagian dari The Trilateral Collaboration Project for Anti-infectious Disease Drug Development: From Lead Optimization to Preclinical Testing (SATREPS).
Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (4/8/2026) dan merupakan hasil kolaborasi BRIN dengan Japan International Cooperation Agency (JICA).
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mempercepat riset translasional, mulai dari optimasi senyawa unggulan (lead compounds) hingga pengujian keamanan praklinis sebagai tahapan penting dalam pengembangan obat penyakit infeksi.
Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian, mengatakan penyakit infeksi masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan global.
Menurutnya, Indonesia masih menghadapi berbagai penyakit endemik seperti malaria, tuberkulosis, demam berdarah, dan amebiasis yang semakin kompleks akibat perubahan iklim, globalisasi, serta meningkatnya resistansi patogen.
"Indonesia adalah negara megabiodiversitas dengan potensi besar untuk menemukan senyawa terapeutik baru dari kekayaan sumber daya hayati. Namun, mentranslasikan potensi tersebut menjadi kandidat obat yang layak masih menjadi tantangan yang perlu dipercepat melalui riset dan pengembangan," ujar Amarulla.
Ia menjelaskan, penguatan kapasitas riset juga menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan farmasi nasional yang sejalan dengan prioritas strategis pemerintah.
Saat ini, Indonesia masih mengimpor lebih dari 90 persen bahan baku dan bahan aktif farmasi yang digunakan oleh industri farmasi nasional.
Menurut Amarulla, kondisi tersebut mendorong BRIN untuk terus mengoptimalkan pemanfaatan biodiversitas Indonesia sebagai sumber inovasi kesehatan.
"BRIN berkomitmen mengurangi ketergantungan tersebut dengan memanfaatkan biodiversitas Indonesia secara lebih optimal melalui pengembangan teknologi kesehatan dan inovasi yang mampu meningkatkan daya saing nasional sekaligus menjawab tantangan kesehatan masyarakat," jelasnya.
Dikatakannya, pengembangan obat merupakan proses yang kompleks sehingga tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja.
Diperlukan kolaborasi lintas disiplin untuk menjembatani seluruh tahapan riset, mulai dari penemuan senyawa, optimasi senyawa unggulan (lead optimization), pengujian efektivitas in vivo, hingga evaluasi keamanan praklinis.
"Riset yang kita lakukan harus mampu menjembatani valley of death melalui riset translasional, optimasi senyawa unggulan, serta evaluasi keamanan dan efektivitas praklinis yang komprehensif. Kita perlu mentranslasikan biodiversitas lokal dan hasil riset tahap awal menjadi kandidat terapi yang layak bagi penyakit infeksi endemik sehingga memberikan dampak nyata bagi ketahanan kesehatan nasional dan berkontribusi pada penanganan krisis kesehatan global," tegasnya.
Sementara itu, Senior Representative JICA Indonesia Office, Hiroyuki Matsuda, menyampaikan bahwa penyakit infeksi masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di dunia.
Ancaman resistansi obat yang terus meningkat, menurutnya, membuat pengembangan obat baru menjadi semakin mendesak.
"Indonesia memiliki keunggulan sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Tantangannya adalah bagaimana mengubah sumber daya biologis tersebut menjadi obat yang aman, efektif, dan mudah diakses masyarakat," ujarnya.
Matsuda menjelaskan bahwa proyek SATREPS yang didukung oleh Japan Agency for Medical Research and Development (AMED) dan JICA telah membangun kemitraan ilmiah jangka panjang antara Indonesia, Malaysia, dan Jepang.
Pada fase pertama, proyek tersebut berhasil mengidentifikasi sejumlah senyawa unggulan dari sumber daya hayati Indonesia.
Memasuki fase kedua, fokus penelitian diarahkan pada optimasi senyawa unggulan dan evaluasi keamanan nonklinis agar dapat dikembangkan menuju aplikasi yang lebih praktis.
"Penemuan obat tidak dapat dicapai oleh satu peneliti atau satu institusi. Dibutuhkan kolaborasi erat lintas disiplin ilmu dan kemitraan yang saling berbagi pengetahuan. Kami berharap simposium ini dapat memperkuat jejaring riset, khususnya bagi peneliti muda, serta melahirkan kolaborasi baru yang mendukung pengembangan obat penyelamat jiwa," kata Matsuda.
Pada kesempatan yang sama, SATREPS Program Officer AMED, Manabu Ato, menilai proyek kolaborasi yang telah berjalan selama satu dekade menunjukkan perkembangan positif, baik dari sisi capaian ilmiah maupun penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Menurutnya, SATREPS tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi juga mendorong implementasi hasil riset di masyarakat serta pendidikan dan pelatihan bagi generasi peneliti berikutnya.
Ato menambahkan, kolaborasi trilateral Indonesia, Jepang, dan Malaysia berpotensi menjadi fondasi penting bagi pengembangan riset obat penyakit infeksi di masa depan melalui penguatan kapasitas riset dan implementasi hasil penelitian yang berkelanjutan.
Dengan kolaborasi tersebut, BRIN berharap potensi biodiversitas Indonesia dapat semakin dipercepat menjadi kandidat obat yang mampu memperkuat ketahanan kesehatan nasional sekaligus memberikan kontribusi bagi penanganan penyakit infeksi di tingkat global. * (junita sianturi)


