SuaraTani.com - Jakarta| Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengatakan, kondisi ketersediaan pangan nasional saat ini cukup kuat sekaligus untuk mendukung tambahan permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Bicara beras kita punya, kalau kita bicara carry over stock nantinya, sampai 16 juta ton kita punya. Yang tahun kemarin kita punya carry over stock hampir 12 juta ton. Kemudian produksi kita 34 juta ton, konsumsi kita 31 juta,” ujar Ketut, di Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 Bapanas mencatat stok akhir beras diperkirakan mencapai sekitar 16 juta ton.
Angka tersebut berasal dari carry over stock awal tahun sekitar 12,4 juta ton dan proyeksi produksi beras 34,7 juta ton, setelah memperhitungkan kebutuhan konsumsi sekitar 31,1 juta ton.
Kinerja produksi beras juga menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, naik 13,29 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 30,62 juta ton.
Menurut Ketut, ketersediaan telur ayam, daging ayam, bawang merah, dan cabai saat ini cukup kuat, bahkan berada dalam kondisi surplus. Sementara itu, kebutuhan bawang putih tetap dipenuhi melalui kombinasi produksi dalam negeri dan impor.
Kebutuhan MBG yang meningkat mendorong penyerapan pangan langsung dari petani dan peternak guna membuka pasar yang lebih luas bagi hasil produksi.
“Nah, karena itu perbaikannya apa yang dilakukan? Pak Kepala Badan yang baru kan sudah memerintahkan, ambil di sisi hulu. Makanya sekarang yang berbahagia itu adalah peternak maupun petani,” kata Ketut.
Lewat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) hasil produksi petani dan peternak bisa dikumpulkan dalam satu pasokan. Volume yang lebih besar ini membuat kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih mudah dipenuhi secara rutin.
“Kecil-kecil kalau gabung di koperasi kan jadi gede. Sebenarnya bukan karena kecilnya, tapi kecil-kecil bergabunglah menjadi satu kekuatan besar. Dibuatlah sebuah ekosistem dalam sebuah koperasi itu,” sambung Ketut.
Koperasi juga membantu menjaga pasokan tetap rutin. Salah satu praktiknya, yakni peternak telur yang menggabungkan produksi untuk memasok kebutuhan SPPG secara berkala.
“Dengan adanya MBG ini, ini yang diimpikan oleh petani-peternak sebenarnya. Dulu petani-peternak itu ketika panen, dia bingung untuk mencari pasar. Sekarang pasar tersedia,” tutur Ketut.
Dari sisi harga, pergerakan komoditas terus dipantau agar tetap stabil. Perubahan harga mengikuti produksi, pasokan, dan permintaan, dengan fokus pemerintah menjaga agar kenaikan maupun penurunannya tidak terlalu signifikan.
“Yang kita jaga adalah fluktuasinya jangan terlalu tinggi. Begitu dia naik, kemudian pas turun,” jelasnya.
Adapun penguatan pasokan pun diarahkan untuk menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pemerintah daerah serta sektor perhubungan dilibatkan guna memastikan distribusi pangan dapat berjalan, termasuk dengan memanfaatkan jaringan transportasi yang tersedia seperti tol laut.
Di wilayah 3T, pemenuhan bahan pangan juga dapat mengutamakan produk yang tersedia di daerah. Contohnya, wilayah dengan produksi ikan yang melimpah dapat memanfaatkan ikan lokal sebagai bagian dari menu MBG.
“Yang kedua yang tidak kalah penting adalah pemanfaatan daripada makanan lokal. Jangan lupa, kita juga punya konsumsi makanan lokal. Kalau daerah 3T, misalkan dia memiliki banyak ikan, ya gunakan ikan dong. Manfaatkan ikan di situ. Makanan lokal jangan dilupakan,” ujar Ketut.
Pemanfaatan pangan lokal membuat kebutuhan MBG dapat disesuaikan dengan potensi produksi masing-masing wilayah.
Data BPS juga menunjukkan bahwa bahan pangan seperti ikan, daging ayam, telur, bawang merah, bawang putih, cabai, dan komoditas lainnya merupakan bagian dari konsumsi bahan pokok nonrumah tangga yang tercatat secara nasional. * (erna)


