Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kekayaan Biodiversitas Indonesia Miliki Potensi Besar Jadi Nutrasetika bagi Ternak

Kekayaan biodiversitas Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi nutrasetika bagi ternak. foto: ist

SuaraTani.com - Cibinong| Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Peternakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dini Dwi Ludfiani mengatakan kekayaan biodiversitas Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi nutrasetika bagi ternak. 

Keanekaragaman hayati lokal tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan, tetapi juga membuka peluang inovasi untuk meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak. 

Menurut Dini, konsep nutrasetika merupakan perpaduan antara nutrisi dan farmasetika. Artinya, bahan alami tidak hanya berperan memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang mampu meningkatkan performa produksi. 

Dalam dunia peternakan, nutrasetika dapat dimanfaatkan sebagai aditif pakan alami yang mendukung kesejahteraan ternak sekaligus menjadi alternatif pengganti antibiotik yang selama ini masih banyak digunakan.

“Pemanfaatan nutrasetika dinilai memiliki manfaat yang luas. Selain mampu meningkatkan kesehatan saluran pencernaan, daya tahan tubuh, serta produktivitas ternak, pendekatan ini juga dapat menekan biaya produksi karena memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia melimpah," jelas Dini dalam siaran pers yang dikutip, Kamis (6/8/2026) di Cibinong. 

Di sisi lain, penggunaan bahan alami juga mendukung sistem peternakan yang lebih ramah lingkungan melalui pengurangan emisi karbon dan pemanfaatan limbah pertanian maupun perkebunan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Indonesia sendiri kata Dini, memiliki kekayaan hayati yang sangat beragam sebagai sumber nutrasetika. Rempah-rempah seperti cengkeh dan kayu manis, tanaman herbal, vegetasi bawah perkebunan, tanaman paku, hingga limbah nanas dan bungkil kopra mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi meningkatkan kesehatan dan performa ternak. 

Hasil samping industri perkebunan yang sebelumnya dipandang sebagai limbah bahkan dapat diolah menjadi bahan pakan bernilai ekonomi tinggi.

Lebih jauh, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan prebiotik, probiotik, sinbiotik, tanin, bromelain, hingga asam lemak dari sumber daya lokal mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pakan.

Selain itu juga mampu memperbaiki kesehatan saluran pencernaan, meningkatkan produksi susu maupun daging, sekaligus membantu menurunkan emisi metana pada ternak ruminansia. 

"Pendekatan tersebut membuka peluang untuk menghasilkan sistem peternakan yang lebih produktif sekaligus berkelanjutan,” jelasnya.

Bagi Dini, pengembangan nutrasetika tidak berhenti pada penemuan senyawa bioaktif semata. Tantangan berikutnya adalah melakukan eksplorasi biodiversitas Indonesia secara lebih luas, memahami mekanisme kerja senyawa tersebut melalui pendekatan mikrobioma dan metabolomik, serta mengembangkan pakan alternatif inovatif yang tidak bersaing dengan kebutuhan pangan manusia. 

Upaya tersebut harus didukung kolaborasi erat antara peneliti, perguruan tinggi, industri, pemerintah, hingga petani dan peternak agar hasil riset dapat diimplementasikan secara nyata.

Melimpahnya keanekaragaman hayati Indonesia menjadi modal penting untuk membangun sistem peternakan masa depan yang lebih mandiri. 

Limbah perkebunan dapat diubah menjadi pakan bernilai tambah, sedangkan tanaman lokal berpotensi menjadi sumber senyawa bioaktif. Penerapan inovasi hasil riset tersebut di lapangan akan memberikan manfaat yang tidak hanya dirasakan oleh peternak. 

“Lebih dari itu, pemanfaatan nutrasetika berbasis sumber daya lokal dapat memperkuat ketahanan pangan nasional, mengurangi ketergantungan terhadap bahan pakan impor, serta mendorong terciptanya ekonomi sirkular yang berkelanjutan bagi sektor peternakan Indonesia,” tutup Dini. * (junita sianturi)