SuaraTani.com - Cibinong| Ikan Papuyu merupakan ikan endemik Indonesia. Ikan ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan prospek besar untuk dikembangkan sebagai komoditas akuakultur unggulan.
Peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Imron, menyebutkan, saat ini konsumsi papuyu cukup tinggi, namun masih mengandalkan tangkapan alam.
Sehingga, dibutuhkan upaya pengembangan budi daya yang didukung pemenuhan benih berkualitas dari segi teknis dan ekonomis.
Untuk memenuhi kebutuhan pembudi daya akan induk berkualitas, perlu diinisiasi melalui Program Pemuliaan Papuyu Terpadu (PPPT) guna menghasilkan benih dan induk berkualitas secara berkelanjutan.
“Masalah utama budi daya ikan terletak pada variasi ukuran ikan saat panen yang memengaruhi nilai ekonomi. Hanya ikan kualitas Grade A yang mendapat harga premium. Variasi ini diduga dipicu oleh sifat genetik dan seksual dimorfisme (perbedaan pertumbuhan antara jantan dan betina),” ucap Imron, dalam siaran pers, Senin (3/8/2026) di Cibinong.
Program PPPT merupakan proses berkelanjutan yang bertujuan mengatasi berbagai persoalan melalui pendekatan terpadu.
Meliputi pengembangan marka genetik spesifik, koleksi, karakterisasi, hibridisasi, dan seleksi, serta eksplorasi keunggulan ikan betina menggunakan roadmap yang telah disusun.
Imron menuturkan, pengembangan marka mikrosatelit dilakukan secara in silico untuk analisis genetik populasi alam dan budi daya.
Pengembangan marka genetik seksual diitujukan untuk mendeteksi jenis kelamin jantan dan betina lebih awal tanpa menunggu matang seksual melalui neo-male technology.
“Karakterisasi genetis melalui ekstraksi DNA, PCR, dan elektroforesis bertujuan menentukan struktur populasi, silsilah (pedigree), dan mengendalikan inbreeding. Hasilnya diintegrasikan dengan karakteristik zooteknis (pertumbuhan, ketahanan, reproduksi) yang menjadi fokus utama bagi kebutuhan pembudi daya,” imbuh Imron.
Ia juga menjelaskan riset pemuliaan ikan papuyu di Kalimantan Selatan dirancang untuk menerapkan metode mix model sebagai standar utama untuk menganalisis potensi genetik individu secara akurat.
Metode ini mampu mengestimasi nilai pemuliaan (Estimated Breeding Value/ EBV), dan koefisien inbreeding.
Sehingga, metode tersebut mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan genetik (genetic gain) dan tingkat inbreeding pada level yang aman bagi populasi benih, sebuah kontrol yang sulit dicapai melalui seleksi individu konvensional.
Upaya pengembangan lain juga difokuskan pada produksi populasi betina monoseks, karena pertumbuhan ikan papuyu betina terbukti konsisten lebih cepat, berkisar antara 1,4 hingga 2 kali lipat dibanding jantan.
"Proses ini memanfaatkan teknologi neo-male, di mana induk betina dimaskulinisasi menjadi jantan fungsional secara fisiologis agar menghasilkan sperma yang menghasilkan 100% keturunan betina saat dikawinkan,” ucap Imron.
Program seleksi multi-generasi jangka panjang ini mengintegrasikan data karakterisasi morfologis, genetis, dan zooteknis dari populasi alam untuk menentukan arah pemuliaan, baik melalui seleksi maupun hibridisasi.
Keberhasilan program ini membutuhkan waktu, kepakaran, dan pendanaan besar.
“Komitmen jangka panjang serta kolaborasi multidisiplin menjadi syarat mutlak program ini. Diharapkan webinar ini dapat mendorong kolaborasi dalam konservasi dan pengelolaan sumber daya genetik, serta penguatan sistem produksi dan nilai ekonomi ikan papuyu, sehingga mampu bertransformasi dari ikan rawa lokal menjadi salah satu primadona akuakultur Indonesia,” tutup Imron. * (junita sianturi)


