SuaraTani.com - Cibinong| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi pengendalian penyakit tanaman yang efektif, aman, dan berkelanjutan, dengan pemanfaatan bakteri agens pengendali hayati (APH) untuk mengendalikan penyakit akar putih pada tanaman karet.
Peneliti Ahli Muda pada Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Widi Amaria mengatakan, penyakit akar putih disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus yang menyerang perakaran tanaman karet.
Dalam penelitiannya, Widi mengembangkan pendekatan seleksi bakteri APH dengan berbagai mekanisme kerja.
“Penggunaan pendekatan multimekanisme penting untuk mendapatkan kandidat bakteri yang tidak hanya mampu menghambat patogen, tetapi juga dapat mendukung pertumbuhan dan ketahanan tanaman.Dengan seleksi multimekanisme, peluang untuk memperoleh kandidat yang aman, efektif, stabil, dan tangguh menjadi lebih besar,” jelas Widi dalam siaran pers, Selasa (18/8/2026).
Penelitiannya diawali dengan serangkaian pengujian koleksi 95 isolat bakteri, meliputi keamanan hayati, aktivitas antibiosis, produksi enzim hidrolitik, kemampuan menghambat kolonisasi R. microporus pada substrat alami, hingga identifikasi molekuler.
Dari proses tersebut diperoleh 22 isolat yang diseleksi lebih lanjut menjadi 10 kandidat bakteri potensial.
“Seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai mekanisme, antara lain produksi senyawa organik terdifusi dan volatil. Kemudian aktivitas enzim hidrolitik seperti kitinase, glukanase, dan selulase, serta kemampuan bakteri menghambat kolonisasi patogen pada medium tanah,” terangnya.
Penggunaan Analytical Hierarchy Process (AHP) turut membantu menentukan prioritas kandidat berdasarkan berbagai kriteria secara sistematis.
“Selain sebagai pengendali hayati, 10 kandidat bakteri juga menunjukkan potensi sebagai biofertilizer dan biostimulant. Bakteri tersebut berpotensi melarutkan fosfat dan kalium, menambat nitrogen, serta menghasilkan fitohormon seperti IAA, giberelin, zeatin, dan kinetin yang mendukung pertumbuhan tanaman,” terangnya.
Tahap berikutnya, dilakukan pengujian 5 kandidat bakteri terhadap R. microporus dan tanaman karet di rumah kaca. Hasilnya menunjukkan aplikasi bakteri APH secara tunggal maupun kombinasi mampu memperlambat kolonisasi patogen dan menekan perkembangan penyakit.
Hasil paling tinggi diperoleh pada aplikasi kombinasi bakteri APH dengan tingkat penekanan penyakit mencapai 92,11 persen setelah delapan bulan setelah inokulasi.
Sementara itu, perlakuan bakteri secara tunggal menunjukkan penekanan penyakit sebesar 81–89 persen.
“Hasil tersebut lebih tinggi dibandingkan perlakuan fungisida sintetik yang pada pengujian menghasilkan penekanan sebesar 10,53%. Aplikasi kandidat bakteri APH tunggal dan kombinasi menekan penyakit akar putih 81–92%,” ungkap Widi.
Dikatakannya, aplikasi bakteri APH juga meningkatkan pertumbuhan dan biomassa tanaman karet. Pengujian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas enzim di dalam tanaman yang berpotensi menginduksi ketahanan tanaman terhadap penyakit.
Widi menegaskan bahwa seleksi bakteri multimekanisme menggunakan analisis hierarki dapat mengoptimalkan kinerja bakteri APH.
Kandidat bakteri yang diperoleh berpotensi menekan perkembangan infeksi R. microporus, meningkatkan pertumbuhan, serta mendukung ketahanan tanaman.
Riset tersebut menjadi salah satu upaya BRIN dalam mengembangkan inovasi berbasis mikroorganisme untuk mendukung pengelolaan penyakit tanaman perkebunan yang lebih efektif dan berkelanjutan. * (junita sianturi)


