Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Penasaran? Ini Hasil Riset BRIN Tingkatkan Produksi Bawang Merah dan Minim Pestisida

Para periset BRIN terus berupaya meningkatkan produktivitas bawang merah sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida. foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Para periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus berupaya meningkatkan produktivitas bawang merah sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida.

Berbagai hasil penelitian yang telah diuji langsung di lahan petani, kini mulai menunjukkan solusi praktis untuk mewujudkan budidaya bawang merah yang lebih efisien, sehat, dan berkelanjutan.

Joko Pramono, peneliti dari Pusat Riset Holtikultura BRIN, memaparkan hasil riset budidaya bawang merah yang telah ia dan tim lakukan selama empat tahun terakhir. 

“Pada tahun pertama, kami menemukan bahwa penggunaan benih berupa umbi berukuran besar mampu menghasilkan panen lebih tinggi dibandingkan umbi berukuran sedang maupun kecil. Karena itu, kami merekomendasikan petani menyeleksi benih dengan memilih umbi berukuran besar atau sedang untuk ditanam,” ungkapnya dalam siaran pers, Selasa (4/8/2026) di Jakarta.

Pada tahun kedua, kata Joko, tim mengembangkan teknologi penggunaan kerodong (netting house) sebagai pelindung tanaman untuk mengendalikan hama. 

Hasil penelitian menunjukkan teknologi ini mampu mengurangi frekuensi penyemprotan pestisida hingga 50 persen sekaligus meningkatkan produktivitas dari sekitar 9,4 ton per hektare menjadi 16,6 ton per hektare.

Selain itu, kerodong berhasil menekan serangan ulat daun (Spodoptera exigua), menghemat biaya pembelian insektisida. 

Pada tahun ketiga, tim menguji sistem tumpangsari bawang merah dengan jagung. Meskipun cara ini berhasil menekan serangan hama ulat daun  tetapi hasil panen bawang merah justru menurun, karena efek naungan. 

“Berdasarkan temuan tersebut, kami merekomendasikan petani menanam jagung sebagai border atau tanaman pembatas di sekeliling lahan minimal 2 minggu sebelum tanam bawang merah, agar pengendalian hama tetap efektif tanpa mengurangi produktivitas bawang merah,” jelasnya.

Joko menjelaskan, pada tahun keempat tim melanjutkan penelitian melalui penerapan solarisasi lahan dan penggunaan biochar. 

Pengamatan sementara menunjukkan metode ini mampu menekan penyakit yang disebabkan jamur dan bakteri. 

“Kami akan mengevaluasi dampaknya setelah panen yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Agustus 2026,” ungkapnya.

Sementara itu, Periset Pusat Riset Holtikultura BRIN, Rini Murtiningsih menjelaskan bahwa keberhasilan penggunaan kerodong sangat bergantung pada cara penggunaannya.

“Kerodong harus menutup rapat pertanaman, agar ngengat tidak dapat masuk. Selain itu, penggunaan kerodong dengan lubang lebih rapat dapat menghambat masuknya hama berukuran kecil,” terangnya.

Menurutnya, meskipun investasi awal relatif tinggi, alat tersebut dapat digunakan sampai enam - sepuluh musim tanam tergantung pemeliharaan di lapangan. 

Sistem penyewaan kerodong melalui kelompok tani dapat menjadi solusi agar teknologi ini semakin mudah diakses petani. 

Rini juga menjelaskan tentang teknik irigasi tetes yang dipadukan dengan pemupukan yang efisien dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas bawang merah. 

Dalam kesempatan tersebut, Periset Pusat Riset Holtikultura BRIN Asep Kurnia memaparkan hasil penelitiannya mengenai residu pestisida dan kondisi bahan organik tanah di sentra bawang merah Brebes. 

Penelitian menunjukkan bahwa residu beberapa jenis pestisida yang telah lama dilarang masih terdeteksi di dalam tanah. Selain itu, hampir seluruh lokasi survei juga menunjukkan adanya residu pestisida pada tanaman.

“Temuan tersebut menjadi pengingat penting bahwa pemulihan kualitas tanah harus menjadi bagian dari sistem budidaya bawang merah berkelanjutan,” ungkapnya.

Kandungan bahan organik tanah di Brebes saat ini masih tergolong rendah sehingga diperlukan upaya pemulihan secara bertahap melalui penambahan bahan organik yang telah terfermentasi sempurna serta pengelolaan pH tanah menggunakan dolomit agar kesuburan tanah dapat kembali meningkat.

Sementara itu, Arlyna Budi Pustika Periset Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN selaku penanggung jawab kegiatan riset mengungkapkan, kegiatan yang dilakukan bersama timnya merupakan bagian dari riset SLAM ACIAR, di Desa Tanjungsari, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. 

“Kami berharap hasil riset BRIN memberikan dampak sosial yang lebih luas kepada masyarakat pertanian di Brebes,” ungkapnya.

Melalui rangkaian penelitian, BRIN tidak hanya menghasilkan inovasi di laboratorium, tetapi juga menghadirkan solusi yang telah dibuktikan langsung di lahan petani. 

Berbagai rekomendasi yang dihasilkan diharapkan mampu membantu petani meningkatkan produktivitas bawang merah, mengurangi penggunaan pestisida, menjaga kesehatan lingkungan, serta mendukung terwujudnya pertanian yang lebih berkelanjutan di Indonesia. * (junita sianturi)