SuaraTani.com - Lampung Tengah| Penerapan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM AAS) di Kabupaten Lampung Tengah menunjukkan hasil signifikan.
Berdasarkan ubinan yang dilakukan secara bertahap pada 7-18 Agustus 2026, produktivitas padi pada demfarm seluas 100 hektare mencapai rata-rata 11,2 ton per hektare, dengan capaian tertinggi 11,7 ton per hektare.
Hasil tersebut menjadi indikator awal potensi peningkatan produktivitas melalui penerapan pertanian modern secara terintegrasi.
Dari pengukuran awal sebesar 10,6 ton per hektare, hasil ubinan terus meningkat hingga mencapai 11,7 ton per hektare, sehingga menghasilkan rata-rata akhir 11,2 ton per hektare.
Capaian tersebut sejalan dengan target produktivitas PM-AAS yang sebelumnya disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.
PM-AAS dikembangkan melalui penelitian dan pengujian lapangan dengan mengintegrasikan pengaturan pola tanam, peningkatan populasi tanaman, mekanisasi, serta pertanian presisi untuk meningkatkan hasil sekaligus membuat penggunaan input lebih efisien.
"Setelah dua tahun kami melakukan penelitian dan pengujian di lapangan, metode ini mampu meningkatkan produksi secara signifikan. Targetnya minimal 10 ton per hektare, bahkan hasil uji lapangan sudah mencapai 12,4 ton per hektare," kata Mentan dalam siaran pers, Senin (24/8/2026).
Demfarm PM AAS tersebut dilaksanakan di Desa Rama Nirwana, Kecamatan Seputih Raman, Lampung Tengah. Program mencakup 100 hektare lahan dengan melibatkan empat kelompok tani dan 77 petani.
Penanaman dilakukan secara bertahap pada April hingga Mei 2026 dengan menggunakan varietas Inpari 32 dan Inpari 49.
Pencapaian produktivitas tersebut didukung intervensi dari hulu hingga hilir. Kementan menyalurkan benih, pupuk hayati cair, tambahan kuota pupuk bersubsidi, serta lima unit irigasi perpompaan untuk memperkuat ketersediaan air pada areal pertanaman.
Plt Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Tin Latifah mengatakan PM AAS dirancang dengan pendekatan intensifikasi yang mengintegrasikan peningkatan populasi tanaman, dukungan sarana produksi, pengelolaan air, mekanisasi hingga pendampingan petani.
"Kami telah menurunkan intervensi lengkap di lapangan, mulai dari bantuan benih, pupuk hayati cair, tambahan kuota pupuk bersubsidi, hingga infrastruktur penting lainnya seperti lima unit irigasi perpompaan," kata Tin.
Pada sisi hilir, Kementan juga memberikan satu unit combine harvester. Penggunaan mesin panen tersebut diarahkan untuk mempercepat proses panen sekaligus meminimalkan kehilangan hasil (losses). Seluruh proses budidaya juga mendapatkan pendampingan intensif dari penyuluh pertanian.
Tin mengatakan hasil di Lampung Tengah penting karena memberikan gambaran berbasis lapangan mengenai potensi PM AAS.
Produktivitas yang konsisten berada di atas 10 ton per hektare selama rangkaian ubinan menjadi modal untuk mengevaluasi sekaligus memperluas penerapan sistem tersebut.
Secara ringkas, demfarm Lampung Tengah mencatat 100 hektare areal PM AAS, empat kelompok tani, 77 petani, lima unit irigasi perpompaan, satu unit combine harvester, produktivitas awal ubinan 10,6 ton per hektare, produktivitas tertinggi 11,7 ton per hektare, dan rata-rata produktivitas 11,2 ton per hektare.
Peningkatan produktivitas per hektare menjadi salah satu kunci untuk menjaga produksi pangan nasional dalam jangka panjang.
Dengan lahan yang sama, pemanfaatan teknologi, mekanisasi, varietas unggul dan pengelolaan budidaya yang lebih presisi diharapkan mampu menghasilkan produksi yang lebih tinggi.
Keberhasilan demfarm di Lampung Tengah selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan PM AAS di sentra-sentra produksi padi lainnya.
Kementan mendorong hasil tersebut direplikasi dengan tetap menyesuaikan karakteristik lahan dan kondisi masing-masing wilayah.
Melalui peningkatan produktivitas berbasis teknologi tersebut, Kementan menargetkan pertanian modern tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi berkembang menjadi model produksi yang mampu memperkuat swasembada pangan berkelanjutan. * (erna)


