Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Wamenkeu Juda Dorong Pendalaman Pasar Keuangan

Wamenkeu Juda Agung dalam Peringatan HUT ke-49 Kebangkitan Pasar Modal Indonesia yang diselenggarakan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/8/2026) di Jakarta. foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung, mendorong percepatan pendalaman pasar keuangan nasional sebagai tumpuan utama pembiayaan pembangunan. 

Wamenkeu Juda menyebut total kebutuhan investasi Indonesia di APBN 2027 mencapai Rp8.705 triliun.

Sementara itu, APBN hanya mampu menjangkau sekitar Rp459 triliun, ditambah kontribusi BUMN termasuk Danantara sebesar Rp330 triliun. 

Sisanya, sebagian besar harus berasal dari sumber pembiayaan swasta, yaitu Rp7.973 triliun atau sekitar 91% berasal dari pembiayaan swasta, baik itu perbankan maupun pembiayaan lain termasuk pasar modal.

"Nah, di sinilah pasar modal memegang peran strategis sebagai sumber pembiayaan swasta. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat. Ia adalah sumber pembiayaan yang efisien, transparan, dan berkeadilan," tegas Juda dalam Peringatan HUT ke-49 Kebangkitan Pasar Modal Indonesia yang diselenggarakan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/8/2026) di Jakarta.

Menurutnya, keberadaan pasar modal menjadi katalis pertumbuhan ekonomi nasional. Kerena itu, Juda mendorong terwujudnya pasar modal Indonesia yang dalam, liquid, dan terpercaya serta kredibel sehingga dapat berperan secara optimal dalam memfasilitasi investasi dan mendukung target-target pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Meski lebih dari Rp125 triliun telah berhasil dihimpun selama semester I 2026, dengan jumlah investor pasar modal mencapai 28 juta investor, ia meminta para pelaku industri untuk tidak berpuas diri. 

“Kita perlu terus memperluas basis investor, menambah keragaman instrumennya, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat tata kelola pasar modal Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah menyambut baik agenda reformasi yang tengah dijalankan oleh OJK dan BI. Mulai dari penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, penguatan tata kelola, hingga pendalaman pasar yang tercakup dalam rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia.

Wamenkeu Juda juga mengapresiasi peluncuran Exchange-Traded Fund  (ETF) Emas hari ini sebagai salah satu langkah konkret perluasan ragam instrumen dan penguatan likuiditas pasar modal agar makin bersaing di tingkat regional maupun global. 

Menurutnya, di pasar modal global, minat terhadap ETF berbasis emas meningkat. Ia menyebut, pada tahun 2025 aset kelolaan ETF emas global mencapai US$559 billion dengan kepemilikan emas mencapai 4.025 ton.

Wamenkeu menekankan bahwa karena ETF Emas memiliki underlying berupa fisik emas riil, maka kepercayaan investor terhadap aspek penyimpanan, valuasi, serta akuntabilitas transaksi menjadi sebuah harga mati. 

"Inovasi membutuhkan integritas, dan integritas adalah fondasi dari kepercayaan (trust)," ucapnya.

Ia pun berharap peluncuran ETF Emas ini tidak hanya membesarkan ukuran pasar modal Indonesia, tetapi juga menjadikannya lebih dalam, inklusif, prudent, dan kredibel demi mendukung target pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

“Pasar yang dalam membutuhkan inovasi. Inovasi membutuhkan integritas. Integritas adalah fondasi dari kepercayaan. Mari kita bersama membangun dan menjaga kepercayaan tersebut,” pungkasnya. * (erna)