Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BRIN Dukung Pengembangan Pakan Ternak dari Tanaman Malapari

Pemanfaatan bungkil malapari (Pongamia) sebagai bahan pakan lokal alternatif untuk mendukung kemandirian pakan serta meningkatkan efisiensi industri peternakan. foto: int

SuaraTani.com - Tangerang Selatan| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong modifikasi pakan ternak sebagai upaya meningkatkan efisiensi usaha. 

Salah satunya dengan mengembangkan pemanfaatan bungkil malapari (Pongamia) sebagai bahan pakan lokal alternatif untuk mendukung kemandirian pakan serta meningkatkan efisiensi industri peternakan. 

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Peternakan BRIN, Rantan Krisnan mengatakan, selama ini para peternak selalu terpaku dengan bahan-bahan konvensional yang notabene itu adalah impor seperti jagung, bukil kedelai. 

"Kita harus mandiri pakan dengan swasembada pakan artinya harus memanfaatkan pakan berbasis lokal ini sebagai sumber pakan untuk kemandirian pakan,” ujar Rantan dalam siaran pers yang dikutip, Selasa (22/9/2026) di Tangerang Selatan.

Dijelaskannya, malapari lebih banyak dikenal sebagai tanaman penghasil bahan bakar nabati (BBN) karena minyak dari bijinya dapat diolah menjadi biodiesel. 

Namun, proses pengolahan tersebut juga menghasilkan bungkil dalam jumlah besar yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.

“Dari biji malapari kalau dipres, yang jadi minyaknya hanya 20%. 80%nya itu adalah bungkil. Ini adalah salah satu potensi di sektor peternakan yang sangat menarik untuk kita kembangkan” katanya.

Menurutnya, penggunaan malapari dapat mengurangi ketergantungan pada bahan pangan manusia. Dari sisi nutrisi, bungkil malapari memiliki kandungan protein kasar yang cukup tinggi, yakni sekitar 24-30 persen, dengan kandungan serat relatif rendah, sekitar 4-7 persen. 

Selain itu, kandungan lemak dan abu serta komponen seratnya juga dinilai masih berada pada tingkat yang dapat ditoleransi, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan, baik untuk ternak ruminansia maupun monogastrik.

Meski demikian, pemanfaatan bungkil malapari sebagai bahan pakan masih menghadapi tantangan berupa keberadaan senyawa antinutrisi. 

Senyawa tersebut perlu dikaji lebih lanjut untuk mengetahui tingkat pengaruhnya terhadap pemanfaatan nutrisi dan performa ternak. 

“Ada karajin, pongamol, senyawa propronoid yang dikenal sebagai antinutrisi tetapi antinutrisi itu kalau memang benar-benar menjadi penghambat tetapi kalau malah dalam batasan-batasan tertentu itu belum dikategorikan sebagai antinutrisi. ini menjadi PR juga kalau memang benar-benar menghambat," katanya.

Rantan menjelaskan, pengembangan malapari di BRIN dilakukan melalui beberapa fokus yang saling melengkapi. 

Salah satunya yang dilakukan oleh tim periset di Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) dengan mengembangkan klon unggul malapari untuk menghasilkan buah dan minyak dalam jumlah lebih besar.

Sementara itu, dari sisi peternakan, tim Kelompok Riset Teknologi Pakan Alternatif dari Pusat Riset Peternakan berfokus pada pemanfaatan produk samping pengolahan malapari sebagai bahan pakan lokal yang terintegrasi dengan pengembangan teknologi pengolahannya. 

Kegiatan ini dilakukan melalui kerjasama dengan PT Santi Energi Hijau yang dituangkan melalui roadmap penelitian. 

“Karena sudah ada kerjasama, akhirnya kita membuat roadmap. Bagaimana pengembangan mesinnya atau tool pengolahannya, bagaimana pengembangan menjadi pakannya. Itu adalah dua kegiatan utama dari roadmap kegiatan pemanfaatan malapari tersebut,” beber Rantan.

Ia berharap tersedianya policy brief pemanfaatan malapari di Indonesia sebagai  bahan masukan bagi pemangku kebijakan dalam pemanfaatan malapari sebagai sumber energi dengan sektor peternakan sebagai bahan pakan. 

Ia meyakini, malapari bukan untuk menggantikan sumber yang sudah ada, tetapi menjadi alternatif karena tidak bersaing dengan pangan dan dapat dikembangkan di lahan marginal, termasuk untuk reklamasi lahan bekas tambang.

“Kalau ada policy brief kita akan coba sounding ke  pemegang kebijakan untuk dijadikan  program nasional. nanti akan memunculkan adanya sistem integrasi malapari ternak atau SIMTEK. Ini bukan untuk bermaksud menggantikan tetapi menjadikan pilihan,” jelas Rantan.

Direktur PT Santi Energi Hijau, Fauzi Bahanan mengatakan sejak 2022, PT Santi Energi Hijau bekerja sama dengan BRIN, khususnya Kelompok Riset Makropropagasi di Pusat Riset Botani Terapan, dalam pengembangan bibit unggul malapari (Pongamia). 

Hingga saat ini, kerja sama tersebut telah menghasilkan sekitar 43 klon kolektif yang dikumpulkan dari berbagai wilayah di Indonesia. 

“Saat ini kita sudah punya sekitar 43 klon kolektif dari seluruh Indonesia yang kita namakan MakroSan atau Makropropagasi dan Santi. Pohon induk ini kita ambil dari seluruh Indonesia, dari Jawa Barat, Maluku, Bali, Pangandaran, Jawa Timur  dan DompuI yang kita domestikasi dan sekarang ada di pesemaian kita di Bogor,” terang Fauzi. 

Ia menjelaskan, pada tahun 2026  pihaknya telah membangun fasilitas persemaian yang lebih memadai yaitu PoMa Hub (Pongamia-Malapari Hub). 

Dalam pengembangannya, PT Santi Energi Hijau bekerja sama dengan perusahaan asal Jepang, FourPride, yang memiliki ketertarikan pada pengembangan Pongamia. 

Melalui kolaborasi tersebut, BRIN berperan sebagai mitra riset dalam pengembangan PoMa Hub. PoMa Hub tidak hanya dikembangkan sebagai pusat riset dan pengembangan Pongamia, tetapi juga sebagai pusat penelitian untuk berbagai topik terkait lainnya.

“PoMa Hub tidak hanya sekedar persemaian tapi juga pusat penelitian kita,” pungkasnya. * (junita sianturi)