Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BRIN Kembangkan Teknologi Akuakultur Adaptif, Lele di Lahan Asam

BRIN mengembangkan teknologi akuakultur yang adaptif, presisi, dan berkelanjutan sebagai upaya penguatan ketahanan pangan melalui sektor blue food. foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi akuakultur yang adaptif, presisi, dan berkelanjutan sebagai upaya penguatan ketahanan pangan melalui sektor blue food. 

Pengembangan riset tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mencakup penyediaan benih unggul, pakan berkualitas, kesehatan ikan, pengelolaan lingkungan, hingga digitalisasi budidaya.

Hal itu disampaikan Peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN, Fahrurrozi Izzuddin, dalam Annual Board Meeting e-ASIA Joint Research Program (e-ASIA JRP) 2026 di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

“Riset akuakultur yang kami kembangkan dirancang untuk menjawab tantangan iklim dan kondisi lingkungan spesifik di Indonesia. Kami mengintegrasikan bioteknologi reproduksi, pemuliaan varietas adaptif, hingga digitalisasi sistem budidaya,” ujar Fahrurrozi.

Untuk mendukung produktivitas, BRIN kata Fahrurrozi, menghasilkan sejumlah inovasi. Di antaranya nila merah supermale (YY) melalui bioteknologi reproduksi, lele hibrida yang adaptif di lahan gambut asam, serta patin yang toleran terhadap salinitas.

Riset juga menyasar pemuliaan ikan lokal seperti ikan betok atau puyu. Selain itu, BRIN mengembangkan pakan berbasis khamir untuk mendukung reproduksi ikan dewa (tor soro).

BRIN juga mengeksplorasi Wolffia sebagai bahan pakan fungsional untuk meningkatkan daya tahan tubuh ikan, serta mengembangkan vaksin berbasis DNA untuk benih sidat (glass eel).

Inovasi tersebut sejalan dengan program prioritas nasional bidang blue food. Program itu meliputi pengembangan sekitar 40.000 lokasi kawasan tematik akuakultur air tawar, revitalisasi 14.090 hektar tambak nila salin di Pantai Utara Jawa (Pantura), serta pemodelan dan replikasi 2.000 hektar tambak udang terintegrasi.

BRIN juga menerapkan teknologi digital agar budi daya lebih terukur. Melalui sistem mina padi berbasis Internet of Things (IoT), tanaman padi dapat dibudidayakan bersama ikan dan udang dengan pemantauan kondisi lingkungan secara real-time.

“Pendekatan ini mendukung pengelolaan budi daya yang lebih efisien sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan,” kata Fahrurrozi.

Fahrurrozi menekankan pentingnya kolaborasi lintas bidang dan lintas negara untuk mempercepat pengembangan teknologi akuakultur.

“Forum e-ASIA JRP 2026 menjadi salah satu ruang untuk memperluas kerja sama riset, termasuk dalam pengembangan pendekatan metabolomik dan nutrigenomik,” ucapnya.

Menurut BRIN, pengembangan akuakultur ke depan tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga pada aspek kesehatan ikan, keberlanjutan lingkungan, dan efisiensi budi daya. * (junita sianturi)