SuaraTani.com - Jakarta| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan komitmen dalam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan serta mitigasi perubahan iklim di tingkat regional dan global.
Menurut Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Nunung Nuryartono, ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan memiliki arti penting bagi Indonesia.
Hal tersebut tidak terlepas dari wilayah laut Indonesia yang mencakup sekitar 70 persen dari keseluruhan wilayah kedaulatan negara.
“Ilmu dan teknologi kelautan sangat penting bagi Indonesia. Dan seperti yang kita ketahui bersama karena lautan kita adalah sekitar 70 persen dari seluruh kedaulatan bangsa,” ujar Nunung,” dalam kegiatan The Third International Scientific Symposium on Cooperative Study of Kuroshio 2 (CSK 2), di Gedung B.J Habibie, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Dikatakannya, Indonesia telah mengembangkan kapasitas dan fasilitas penelitian kelautan sejak dekade 1980-an dan 1990-an. Karena itu, Indonesia secara konsisten sudah terus mengembangkan kapasitas dan fasilitas riset kelautan.
“Sejak tahun 80-an, sejak tahun 90-an kita telah mengembangkan kapasitas dan fasilitas penelitian kelautan kita untuk mengeksplorasi dan menggunakan sumber daya laut kita secara berkelanjutan, dari ikan hingga minyak dan gas,” ungkap Nunung.
Beberapa fasilitas dan kapasitas penelitian yang sudah dikembangkan ialah revitalisasi laboratorium di Pulau Lombok, Pulau Pari, serta Kompleks Sains Kelautan Ancol, Jakarta Utara.
Selain itu, Indonesia juga sedang membangun kapal riset baru sebagai bagian dari dukungan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan di tingkat nasional maupun kawasan.
Sementara itu, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Augy Syahailatua, mengungkapkan simposium ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pertemuan ilmiah sebelumnya yang telah digelar di Bangkok, Thailand (2023) dan Sendai, Jepang (2024).
Kegiatan ini menjadi sebuah wadah bagi peneliti dan para stakeholder dari berbagai negara untuk bertukar pengetahuan serta memperkuat kolaborasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan dan akan berlangsung selama dua hari.
Simposium yang mengangkat tema “Enchancing Ocean Climate Partnerships for Sustainable Development in the Kuroshio and Surrounding Regions” menghadirkan sebanyak 25 narasumber dari berbagai instansi pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan organisasi non-pemerintah yang turut serta berpartisipasi dalam kegiatan ini.
Delapan narasumber di antaranya merupakan early career ocean professionals (ECOPs).
Augy berharap simposium ini dapat memberikan pengetahuan ilmiah yang berharga serta gagasan inovatif dalam upaya meningkatkan program CSK2 sehingga memberikan dampak yang besar dan langsung bagi masyarakat.
“Kami berharap simposium ini dapat memberikan informasi ilmiah yang berharga dan ide-ide inovatif untuk meningkatkan program CSK2 guna memastikan program ini memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” jelasnya.
Indonesia memiliki sejarah yang cukup panjang dalam pengembangan riset kelautan melalui program Cooperative Study of Kuroshio (CSK). Indonesia terlibat dalam CSK pertama pada 1965 - 1979 dan kembali mendukung CSK2 yang berlangsung pada 2021 - 2030.
Peneliti utama Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), Kentaro Ando turut memberikan dukungan penuh terhadap kolaborasi riset ini.
Ia menilai perkembangan CSK2 pada tahun ini mengalami peningkatan dalam kontribusi dan unggahan ilmiah yang dihasilkan dari kerja sama internasional pun mengalami peningkatan dari sebelumnya.
Kentaro juga menetapkan dua tujuan untuk fokus riset pada tahun ini, yakni iklim dan ekosistem laut.
“Kita berada di tahap 2026. Dan Anda tahu, sekarang kita melihat lebih banyak unggahan ilmiah dari kerja sama internasional, Dan kami menetapkan dua tujuan. Yang pertama adalah tentang iklim dan yang kedua adalah tentang ekosistem laut,” ujar Kentaro.
Melalui kolaborasi ini, BRIN berharap dapat semakin memperkuat kemitraan strategis internasional, meningkatkan kontribusi nyata Indonesia dalam Dekade Ilmu Kelautan PBB (UN Decade of Ocean Science), dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat luas di kawasan regional maupun global. * (junita sianturi)


