SuaraTani.com - Jakarta| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan upaya pelestarian flora endemik Sumatera yang terancam punah, yakni Amorphophallus titanum atau bunga bangkai raksasa.
Pelaksana Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Hayati Hidup - KKI Kebun Raya Cibodas BRIN, Destri, mengatakan, Kebun Raya Cibodas ditunjuk sebagai institusi pelaksana konservasi ex situ bagi tumbuh-tumbuhan Indonesia.
Terutama bagi flora berstatus endangered (terancam punah) menurut Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Destri menatakan, bibit yang dihasilkan selama ini masih bersaudara dekat (sibling), program konservasi pada 2026 mulai difokuskan pada studi keanekaragaman genetik dan pembuatan bank polen.
Melalui fasilitas ini, cadangan polen liar dari populasi yang terpisah jauh, seperti dari Aceh, dapat disimpan untuk disilangkan dengan koleksi yang tumbuh di Jawa.
“Pollen banking ini sangat penting untuk mencegah persilangan antar kerabat dekat. Dengan menyimulasikan jarak populasi yang jauh, maka kita akan bisa memiliki koleksi-koleksi dengan variasi genetik yang tinggi,” jelas Destri, dalam siaran pers, di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Proyek pelestarian ini merupakan wujud kolaborasi antar pusat riset di lingkungan BRIN, meliputi Pusat Riset Sistem Biota (PRSB), Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Pusat Riset Botani Terapan (PRBT), dan Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI), bekerja sama dengan peneliti dari Chicago Botanic Garden serta didanai oleh institusi tersebut.
Destri mengatakan, tantangan utama bunga bangkai lanjut dia, terletak pada waktu matang bunga betina dan jantan yang tidak bersamaan.
Bunga betina matang lebih dulu yang ditandai dengan munculnya bau bangkai. Sementara itu, serbuk sari dari bunga jantan baru pecah keesokan harinya saat bunga betina sudah menutup, sehingga serbuk sari yang jatuh ke bunganya sendiri tidak menghasilkan pembuahan.
“Karenanya, kita melakukan polinasi buatan. Polen yang kita panen dari tanaman tahun sebelumnya disimpan di freezer pakai alumunium foil. Sebulan kemudian waktu ada bunga mekar berikutnya, kita kawinkan,” paparnya.
Untuk mencegah pembusukan akibat jamur selama proses persilangan tertutup, tim rutin menyemprotkan cairan antijamur dan antibakteri pada pagi hari.
Teknik ini terbukti sukses menghasilkan buah dan biji yang mampu berkecambah menjadi bibit (seedling) baru dalam waktu sekitar tiga bulan menggunakan media kompos.
Destri mengatakan, konservasi di Cibodas tidak sekadar menyelamatkan spesimen dari kepunahan, tetapi juga sukses melampaui rekor dunia.
Pada 2016, salah satu spesimen Amorphophallus titanum berhasil mekar sempurna hingga ketinggian 3,7 meter (diukur dari tangkai daun), yang disebutnya melampaui rekor tertinggi di Guinness Book of Records yakni 3,1 meter.
“Tanaman ini seharusnya berbunga lagi tahun 2020, tapi dia berbunga di tahun 2017 dan masih tinggi 3,4 meter. Kemudian tahun 2020 dia secara normal berbunga lagi,” ungkap Destri.
Ketangguhan spesimen ini didapat setelah tim melewati berbagai kendala lapangan, seperti serangan hama babi yang harus diatasi dengan pagar kawat sehingga babi tidak masuk. Kemudian, kerentanan umbi membusuk di dalam tanah tanpa terdeteksi. * (junita sianturi)


