Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Wamenkeu Suahasil Tegaskan APBN Tetap Resilien

Wamenkeu Suahasil dalam Mandiri Sekuritas Investor Meeting yang dihadiri para pelaku pasar dan investor, Selasa (1/9/2026) di Jakarta. foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Kondisi perekonomian dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap resilien di tengah dinamika perekonomian global. 

Ketahanan tersebut terus diperkuat melalui sinergi kebijakan antara Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), serta Danantara. 

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara, menyampaikan bahwa kondisi global masih diliputi kondisi ketidakpastian yang tinggi. Namun, APBN telah dirancang dengan ruang yang cukup untuk menyerap berbagai risiko dan guncangan.

“Mindset kita di sini, di Kemenkeu adalah terus melihat situasi dunia ini masih terus volatile. Namun pada saat yang bersamaan kita juga cukup confident yang namanya APBN kita dari sejak awal didesain memiliki ruang-ruang yang bisa menjadi absorption,” ujar Wamenkeu dalam Mandiri Sekuritas Investor Meeting yang dihadiri para pelaku pasar dan investor, Selasa (1/9/2026) di Jakarta.

Menurut Suahasil, ketahanan APBN sejalan dengan resiliensi perekonomian Indonesia yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap baik, inflasi yang terkendali, serta mulai masuknya kembali aliran modal.

“APBN, perekonomian Indonesia cukup resilien. Pertumbuhan menunjukkan angka yang cukup baik dan ini membuat, memastikan, meyakinkan kita bahwa yang namanya ekonomi Indonesia itu resiliensinya tinggi,” jelasnya.

Wamenkeu Suahasil menjelaskan, RAPBN tahun 2027 dirancang dengan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, inflasi 2,5 persen, nilai tukar Rp17.500 per dolar Amerika Serikat, serta defisit sebesar 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). 

Menurutnya, penurunan defisit fiskal menjadi bagian dari upaya menjaga kredibilitas pengelolaan fiskal sekaligus memberikan ruang yang memadai bagi Pemerintah untuk merespons berbagai kemungkinan guncangan.

“Tahun depan kita ingin turunkan ke 2,4 dan menurunkan ke 2,4 ini, ini kita ingin memberikan signal kepada market bahwa pengelolaan APBN-nya kredibel,” jelas Wamenkeu.

Ia juga mengatakan, dengan desain defisit fiskal sebesar 2,4 persen terhadap PDB, Pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga defisit tetap berada di bawah batas 3 persen terhadap PDB apabila terjadi guncangan dalam perekonomian global.

“Kalau sampai ada apa-apa dengan perekonomian dunia, sampai ada shock yang berlebihan yang kita harus tangkap dan kita harus absorb, defisit kita 2,4. Kita banyak ruang untuk tetap di bawah 3 persen itu,” tegasnya.

Selain menjaga kredibilitas APBN, Wamenkeu juga menekankan pentingnya sinergi antarlembaga dalam mengelola perekonomian nasional. 

Pengelolaan makroekonomi Indonesia terus beradaptasi dengan mengombinasikan berbagai instrumen kebijakan. Kebijakan fiskal dan moneter terus disinergikan, sementara peran BUMN juga dikonsolidasikan melalui Danantara.

“Ada fiscal policy, ada monetary policy, ada Danantara yang merupakan konsolidasi dari seluruh state-owned enterprise. Jadi, macroeconomic management Indonesia itu ya bisa saya bilang beradaptasi. Dan ini yang kita kalibrasi terus dari waktu ke waktu,” jelasnya.

Ke depan, penguatan sinergi antara Kementerian Keuangan, BI, OJK, dan LPS dalam kerangka Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), serta Danantara, diharapkan dapat berdampak positif dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

“Dengan sinergi yang lebih baik dengan BI, OJK, LPS dan di KSSK juga sekarang ada Danantara itu akan membuat menjaga Republik Indonesia jadi lebih baik ke depannya,” pungkas Wamenkeu Suahasil. * (erna)