SuaraTani.com - Medan| Sebanyak 25 jurnalis mengikuti Workshop "Memperkuat Ketahanan Media: Menghadapi Manipulasi Informasi" yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Polandia di Jakarta.
Kegiatan yang digelar selama dua hari, Sabtu dan Minggu (3-4/10/2026), di Hotel Aiho, Medan, Sumatera Utara (Sumut) diikuti peserta yang berdomisili di Medan, Aceh (Lhokseumawe, Langsa, Bireuen, Banda Aceh), Padang, dan Riau.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas jurnalis agar mampu mengenali, menganalisis, memverifikasi, dan menangkal berbagai bentuk operasi manipulasi informasi, sehingga dapat memperkuat ketahanan media dan mendukung terciptanya ruang informasi publik yang lebih sehat.
Operasi informasi biasanya dilakukan oleh pihak tertentu atau aktor untuk mengarahkan atau membelokkan opini publik.
Aktornya bisa berasal dari luar negeri dengan pola Manipulasi dan Interferensi Informasi Asing (Foreign Information Manipulation and Interference/FIMI), atau dari dalam negeri dengan pola Manipulasi dan Interferensi Informasi Domestik (DIMI).
Bayu Wardhana, Sekretaris Jenderal AJI Indonesia, mengatakan praktik FIMI dan DIMI akhir-akhir ini marak terjadi di Indonesia, sehingga jurnalis perlu mengetahui pola-pola manipulasi informasi, sehingga lebih kritis dan lebih waspada terhadap isu-isu FIMI dan DIMI.
“Bagaimana teman-teman itu bisa mendeteksi, bisa membongkar bahwa sebuah isu diangkat secara terorganisasi dan mobilisasi, mungkin istilahnya yang umum, informasi itu tidak otentik, tetapi rekayasa. Jadi bagaimana temab-teman membongkar itu,” ujarnya.
Berbeda dengan debunking yang membongkar kebenaran isi klaim individual, workshop ini berfokus untuk menelisik bagaimana sebuah operasi pengaruh dilakukan oleh para aktor di ruang digital.
Gejala adanya operasi pengaruh dan operasi informasi biasanya dapat terlihat ketika di media sosial sedang penuh dengan kritik dan protes atas kebijakan tertentu.
Di kesempatan yang sama, Ika Ningtyas dari CekFakta Tempo memaparkan tentang pengaruh kecerdasan buatan (AI) dalam operasi pengaruh atau intervensi informasi.
Dia mengatakan AI sering dimanfaatkan untuk memanipulasi informasi, tetapi di sisi lain dengan literasi yang baik, AI juga dapat dimaksimalkan manfaatnya untuk melawan gangguang informasi.
Sementara itu, Yeta Purnama, peneliti CELIOS menjelaskan tentang kebijakan ekonomi dan investasi yang terjadi di Sumut.
Menurutnya, pemahaman terhadap realisasi dan kondisi ril investasi, sangat menentukan kemampuan jurnalis dalam mengidentifikasi apakah narasi yang disampaikan regulator dan investor sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Tidak hanya memaparkan konsep, workshop juga melatih peserta memanfaatkan Open-Source Intelligence (OSINT) dalam mengumpulkan, menganalisis, dan mengidentifikasi informasi yang diperoleh dari wawancara langsung, internet, rekaman publik, maupun media, dengan topik Leveraging OSINT to Uncover Disinformation: Concepts & Tools.
Dalam pelatihan juga dibahas Analisis Disinformasi & Manajemen Risiko (Disinformation Analysis & Risk Management/DISARM).
Trainer Geril Dwira mengatakan DISARM berfungsi sebagai metode untuk menganalisis dan melawan disinformasi, definisi standar dan teknik, serta langkah penanganannya melawan disinformasi dan operasi pengaruh.
Peserta Antusias
Peserta terlihat antusias dan mengapresiasi pelatihan mengidentifikasi praktik intervensi berita atau operasi informasi oleh pihak tertentu.
Tonggo Simangunsong, Ketua AJI Medan, mengatakan menangkal manipulasi informasi tidak cukup lagi hanya mengandalkan intuisi jurnalis, tapi membutuhkan dukungan literasi digital.
Pelatihan ini meningkatkan kesadaran peserta tentang pentingnya pemahaman tentang FIMI dan DIMI, serta literasi digital untuk memanfaatkan tools yang dapat digunakan mendeteksi pola manipulasi informasi.
“Ini sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan apalagi saya, terkhusus seorang jurnalis harus lebih aware, men-cek lagi apakah data dan informasi yang saya terima itu benar atau tidak. AJI sendiri saya lihat cukup konsisten dalam memberikan pelatihan-pelatihan khususnya bagi para jurnalis untuk diterapkan dalam menghasilkan karya jurnalistik yang lebih berkualitas dan tentunya kita menyebarkan informasi yang benar,” jelas Stepy Maria Sihombing, jurnalis DAAITV MEDAN:
“Ini hari kedua mengikuti pelatihan tentang manipulasi informasi. Saya kira ini pelatihan yang bagus karena saya sendiri baru pertama kali mengikuti pelatihan ini, ternyata banyak pengetahuan baru, seperti adanya manipulasi tentang isu-isu di media untuk kepentingan-kepentingan kelompok. Menurut saya memang sebagai jurnalis, itu dapat kita terapkan ilmunya ke depan agar semua informasi yang disampaikan akurat dan fakta begitu,” tambah Alfiansyah, jurnalis TV ONE.
Kegiatan di Medan merupakan kegiatan kedua dari empat rangkaian kegiatan yang sama di empat lokasi. Pada Agustus 2026 lalu, digelar di Denpasar untuk jurnalis dari Bali, Jawa Timur (Surabaya, Malang, Jember, Bojonegoro, Kediri) dan Kalimantan Timur (Samarinda dan Balikpapan).
Lokasi ketiga dijadwalkan akan dilangsungkan di November 2026 di Pontianak, Kalimantan Barat untuk jurnalis yang berdomisili di Pontianak, Singkawang, dan sekitarnya.
Kota keempat adalah Ternate, Maluku Utara yang dijadwalkan digelar Desember 2026 untuk jurnalis yang berdomisili di Ternate, Ambon, Manado, dan Jayapura. * (erna girsang)


