Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BNPB Prioritaskan Penanganan Karhutla di Kalteng, Sumsel dan Kalbar

Operasi pemadaman darat dan udara masih terus berlangsung untuk mengendalikan titik api yang belum padam di wilayah Kalimantan Selatan, Jumat (23/10/2026). foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di provinsi yang masih memiliki luas kebakaran dan area yang belum padam.

Berdasarkan pemantauan BNPB melalui sistem informasi geografis, hingga 24 Oktober 2026 pukul 15.00 WIB tercatat 13.910 titik panas, luas terbakar sekitar 25.409 hektare, dan 17.942 hektare masih belum padam. Data ini bersifat sementara dan dapat berubah sesuai pembaruan pemantauan.

"Kalimantan Tengah (Kalteng) masih menjadi prioritas utama. Kalteng mencatat 8.049 titik panas, luas terbakar 13.944 hektare, dan sekitar 11.786 hektare masih belum padam," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam siaran persnya, Sabtu (24/10/2026) di Jakarta.

Dibandingkan hari sebelumnya, jumlah titik panas turun sekitar 52 persen dan luas yang belum padam turun sekitar 43 persen. 

Dikatakannya, meski menunjukkan penurunan, pemadaman dan pendinginan harus terus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa, khususnya di lahan gambut.

Di Sumatera Selatan (Sumsel), tercatat 1.335 titik panas, luas terbakar 3.429 hektare, dan sekitar 2.472 hektare masih belum padam. 

Sementara itu, Kalimantan Barat (Kalbar) mencatat 1.137 titik panas, luas terbakar 2.500 hektare, dan sekitar 1.547 hektare masih belum padam. Kedua provinsi tersebut tetap memerlukan pemantauan dan penanganan intensif. 

"Penurunan jumlah titik panas tidak selalu berarti luas kebakaran ikut menurun, sehingga evaluasi harus melihat jumlah titik panas, luas terbakar, dan luas yang masih belum padam secara bersamaan," jelas Berton.

Perkembangan di Provinsi Lainnya

Berton mengatakan, di Kalsel tercatat 362 titik panas, luas terbakar 526 hektare, dan sekitar 317 hektare masih belum padam. Papua Selatan mencatat 487 titik panas, luas terbakar 310 hektare, dan sekitar 117 hektare masih belum padam.

Selain itu, Sulawesi Tenggara, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku Utara juga masih tercatat memiliki titik panas dan luas kebakaran. 

"BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus memantau perkembangan di setiap wilayah berdasarkan tingkat risiko dan kebutuhan penanganan," terangnya. 

Menurut Berton, pemadaman darat dan dukungan udara terus dilakukan. Penanganan dilaksanakan melalui pengerahan personel gabungan, pemadaman darat, helikopter water bombing, pesawat patroli, serta Operasi Modifikasi Cuaca sesuai kondisi atmosfer.

Khusus di lahan gambut, pemadaman darat dan pembasahan berulang tetap penting karena api dapat membara di bawah permukaan tanah. 

Karena itu, keberhasilan tidak hanya diukur dari penurunan titik panas, tetapi juga dari berkurangnya luas kebakaran yang belum padam dan tidak munculnya kembali titik api.

"Reposisi armada udara antardaerah dilakukan berdasarkan kebutuhan operasi dan kondisi lapangan, dengan tetap mempertimbangkan kecukupan dukungan di wilayah asal dan keselamatan penerbangan," katanya.

Ia mengatakan, BNPB mengajak masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, segera melaporkan kemunculan api kepada petugas, serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah dan instansi terkait.

"BNPB bersama seluruh unsur penanganan akan terus memprioritaskan wilayah yang masih memiliki kebakaran, melindungi masyarakat dari dampak asap, dan mencegah kebakaran berulang," tutup Berton. * (wulandari)