SuaraTani.com - Jakarta| Kolaborasi riset internasional menjadi salah satu upaya untuk memperluas pengetahuan tentang keanekaragaman hayati laut Indonesia, termasuk ekosistem laut-dalam yang belum banyak dipahami.
Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Institut de Recherche pour le Développement (IRD) dari Prancis mengembangkan laboratorium bersama untuk memperkuat kapasitas penelitian, pemantauan ekosistem, dan pertukaran pengetahuan dalam pengelolaan sumber daya kelautan.
Kerja sama tersebut dikembangkan melalui International Joint Laboratory Program (IJL) Sentinel Laboratory of Indonesian Marine Biodiversity (SELAMAT), yang dimulai pada 2021.
Program ini mempertemukan peneliti BRIN dan IRD untuk mengkaji keanekaragaman hayati laut Indonesia melalui pendekatan ilmiah, pemantauan jangka panjang, serta integrasi pengetahuan akademik dan lokal.
Dalam kunjungan perwakilan IRD ke Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Apriliani Soegiarto BRIN di Ancol, Selasa (27/10/2026), kedua pihak membahas peluang penguatan kerja sama, termasuk pengembangan laboratorium bersama melalui Pusat Riset Oseanologi (PRO) BRIN.
Pada pertemuan tersebut, Regis Hocde, peneliti unit MARBEC di IRD, menyikapi kesenjangan pengetahuan mengenai kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut tinggi.
Menurutnya, kekayaan ekosistem tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan pemahaman ilmiah yang memadai.
“Di balik kekayaan keanekaragaman hayatinya, kawasan ini masih belum banyak dipahami. Terdapat kesenjangan pengetahuan yang cukup besar,” ujar Hocde.
Ia menjelaskan, data dan pengamatan baru diperlukan untuk memahami perubahan ekosistem sekaligus memperkuat upaya perlindungan dan pengelolaan laut.
Tantangan tersebut juga berkaitan dengan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir. Hocde merujuk sejumlah publikasi yang menyebutkan bahwa lebih dari 100 juta orang terdampak penangkapan ikan berlebih dan degradasi ekosistem.
Melalui International Joint Laboratory Program (IJL) Sentinel Laboratory of Indonesian Marine Biodiversity (SELAMAT), BRIN dan IRD mengembangkan pendekatan pemantauan dengan memanfaatkan spesies dan ekosistem indikator atau sentinel.
Organisme dan ekosistem tertentu dipilih karena dapat memberikan petunjuk awal mengenai perubahan kondisi lingkungan.
Program ini juga mencakup pengembangan laboratorium genetika molekuler, observasi jangka panjang, pelatihan akademik, dan pertukaran pengetahuan dengan masyarakat lokal.
Hocde menekankan bahwa penelitian keanekaragaman hayati laut perlu mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman masyarakat setempat.
“Tujuannya adalah untuk mempertemukan berbagai bentuk pengetahuan—pengetahuan tradisional dan pengetahuan akademis—mengenai keanekaragaman hayati ekosistem laut,” katanya.
Menurutnya, pengetahuan masyarakat pesisir dapat melengkapi pengamatan ilmiah, terutama dalam memahami perubahan lingkungan yang berlangsung dari waktu ke waktu.
Dengan demikian, penelitian tidak hanya menghasilkan data, tetapi juga memperluas pemahaman mengenai dinamika ekosistem laut.
Memperkuat Penelitian Laut-Dalam
Marina C. G. Frederik, peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah perairan Indonesia, terutama di kawasan timur, memiliki karakteristik laut dalam dengan kedalaman lebih dari 200 meter.
Wilayah tersebut berperan dalam siklus karbon dan oksigen, mendukung keanekaragaman hayati, serta memengaruhi dinamika iklim.
Laut dalam juga memiliki potensi risiko kebencanaan, antara lain akibat aktivitas seismik dan longsor bawah laut yang dapat berdampak pada masyarakat pesisir.
Frederik menegaskan, penelitian kelautan perlu diarahkan agar hasilnya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan berhenti pada pengumpulan data dan publikasi ilmiah.
“Hasil observasi menjadi informasi, lalu menjadi pengetahuan, yang pada akhirnya harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat setempat—seperti para nelayan atau komunitas pesisir,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat.
Pengembangan pengetahuan kelautan diharapkan dapat menjadi landasan untuk memahami perubahan lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.
Peneliti Pusat Riset Oseanologi (PRO) BRIN, Dwiyoga Nugroho memaparkan kapasitas sumber daya manusia dan kegiatan penelitian yang dikembangkan lembaganya.
Saat ini, pusat riset tersebut memiliki 46 peneliti aktif dengan bidang kajian yang meliputi dinamika laut, proses pesisir, biogeokimia, pencemaran, dan ekosistem laut.
Pusat riset tersebut juga telah menghasilkan 462 publikasi, dengan 86,5% di antaranya diterbitkan dalam jurnal dan prosiding. Meski demikian, penguatan kapasitas peneliti masih diperlukan, terutama untuk meningkatkan kualifikasi akademik dari jenjang magister ke doktoral.
Nugroho menjelaskan bahwa penelitian oseanologi mencakup pengamatan langsung dan pemodelan untuk memahami berbagai fenomena laut, termasuk interaksi antara lautan dan atmosfer.
“Kami juga melakukan pemodelan, baik pemodelan biogeokimia laut terpadu maupun pemodelan atmosfer,” katanya.
Sementara itu, Adele Martial Gros, perwakilan IRD untuk Indonesia dan Timor-Leste, menjelaskan bahwa program laboratorium bersama dirancang untuk membangun kemitraan ilmiah jangka panjang.
Pengembangannya mencakup pelatihan, peningkatan fasilitas, serta pertukaran keahlian antara peneliti kedua negara.
“Program ini bertujuan untuk membangun dan memelihara kemitraan ilmiah jangka panjang yang berfokus pada prioritas penelitian bersama,” ujar Gros.
Ia menambahkan, fase lanjutan IJL SELAMAT akan diarahkan pada penguatan tata kelola, integrasi dengan jejaring ilmiah terkemuka, dan peningkatan pengakuan internasional, dengan mempertimbangkan hasil evaluasi program.
Kolaborasi BRIN dan IRD melalui IJL SELAMAT diharapkan dapat memperkuat kapasitas penelitian kelautan, memperluas pemahaman mengenai keanekaragaman hayati, serta mendorong pertukaran pengetahuan yang berkelanjutan.
Kemitraan ini sekaligus menjadi upaya untuk memperkuat ekosistem riset kelautan melalui pengembangan kompetensi peneliti dan kerja sama ilmiah lintas negara. * (junita sianturi)


