SuaraTani.com - Cibinong| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi riset Indonesia dan Thailand melalui pengembangan teknologi genomik dan pengelolaan kesehatan tanaman untuk tanaman kacang-kacangan seperti kedelai dan kacang hijau.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menekankan bahwa tanaman aneka kacang memiliki peran strategis sebagai sumber pangan bergizi, penopang penghidupan petani, sekaligus tanaman yang berkontribusi terhadap kesuburan tanah.
Namun, menurutnya, peningkatan produksinya masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari produktivitas yang belum optimal, perubahan iklim, hingga serangan hama dan penyakit.
“Peningkatan produktivitas tanaman aneka kacang memerlukan pendekatan terintegrasi, mulai dari perbaikan genetik hingga pengelolaan kesehatan tanaman. Kolaborasi riset diharapkan menghasilkan inovasi yang relevan dan memberikan manfaat nyata bagi pertanian Indonesia,” ujar Puji dalam siaran pers, Kamis (5/10/2026) di Cibinong.
Puji juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai. Karena itu, penguatan riset untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan tanaman menjadi salah satu upaya penting dalam mendukung ketersediaan bahan pangan sumber protein.
Varietas Unggul
Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudhistira Nugraha, menyampaikan bahwa aneka kacang merupakan sumber protein yang terjangkau bagi masyarakat.
Komoditas ini juga berpotensi mendukung pemenuhan gizi, termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“BRIN telah melepas varietas kedelai BRINUSA dan BRINARA pada 2025, yang memiliki potensi produktivitas tinggi dan ukuran biji besar,” ungkap Yudhistira.
Ia menambahkan, pada 2026 BRIN juga melepas varietas kacang hijau VIPRO 2 dan VIPRO 6, yang memiliki ukuran biji besar dengan mutu yang memenuhi persyaratan ekspor.
Capaian tersebut, menjadi bagian dari upaya riset untuk menghasilkan varietas yang memiliki karakter unggul dan berpotensi menjawab kebutuhan produksi serta pasar.
“Kolaborasi riset perlu menghasilkan jejaring, penelitian bersama, dan solusi praktis yang memberikan manfaat nyata bagi petani dan masyarakat,” jelas Yudhistira.
Pengalaman Thailand menjadi salah satu referensi penting dalam mempercepat pengembangan varietas aneka kacang.
Prof Prakit Somta dari Kasetsart University memaparkan perjalanan empat dekade riset genom kacang hijau (Vigna radiata) dan penerapannya dalam pengembangan varietas baru.
Program pemuliaan di Thailand, kata Prakit, mencakup pemuliaan mutasi, persilangan, seleksi, hingga pemanfaatan penanda molekuler.
Pendekatan tersebut digunakan untuk menghadapi berbagai kendala produksi, seperti hasil panen rendah, serangan hama dan penyakit, kekeringan, serta kondisi tanah salin dan berkapur.
Riset genom juga, menurutnya, telah mengidentifikasi sejumlah gen kandidat yang berpotensi mendukung ketahanan kacang hijau terhadap berbagai cekaman, termasuk embun tepung, bercak daun Cercospora, penyakit mosaik kuning, kumbang bubuk biji, salinitas, dan tanah berkapur.
Ia menekankan, pemanfaatan informasi genom dapat membantu proses pemuliaan menjadi lebih terarah dan meningkatkan ketepatan seleksi tanaman.
“Pengalaman tersebut membuka peluang pengembangan varietas kacang hijau yang lebih produktif dan adaptif terhadap kondisi lingkungan,” ujarnya.
Bagi Indonesia, pendekatan ini menjadi referensi untuk memperkuat program pemuliaan tanaman pangan melalui kolaborasi ilmiah dan pemanfaatan teknologi modern.
Cegah Penyakit Kedelai
Selain meningkatkan potensi genetik tanaman, perlindungan dari penyakit menjadi faktor penting untuk menjaga hasil panen.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yuliantoro Baliadi, memaparkan strategi pengendalian penyakit virus pada kedelai, khususnya Cowpea Mild Mottle Virus (CPMMV).
Penyakit ini, kata Yuliantoro, dapat menyebar melalui benih terinfeksi dan serangga vektor, terutama kutu kebul (Bemisia tabaci).
Virus yang telah menginfeksi tanaman secara sistemik tidak dapat dihilangkan melalui pengobatan langsung. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan sejak sebelum penanaman.
“Pengendalian CPMMV perlu dimulai sejak sebelum penanaman, terutama dengan menggunakan benih sehat dan membatasi penyebaran virus oleh kutu kebul. Pencegahan menjadi penting untuk menekan sumber infeksi dan mengurangi risiko penyebaran penyakit,” jelas Yuliantoro.
Ia menekankan, tanaman yang tampak sehat belum tentu bebas dari virus. Pemeriksaan menggunakan metode diagnosis molekuler, seperti RT-PCR atau RT-qPCR, dapat membantu mendeteksi keberadaan virus secara lebih akurat.
Pengendalian kutu kebul, kata Yuliantoro, juga perlu dilakukan secara terpadu melalui pemantauan populasi kutu kebul, sanitasi lahan, penyesuaian waktu tanam, serta pemanfaatan tanaman penghalang dan tanaman perangkap.
“Dengan demikian, varietas tahan atau toleran perlu dipadukan dengan penggunaan benih sehat, deteksi penyakit, dan pengelolaan hama yang tepat. Pendekatan ini ditujukan untuk membatasi penyebaran virus dan mengurangi risiko kehilangan hasil,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi Indonesia dan Thailand, BRIN mendorong sinergi antara teknologi genomik, pemuliaan tanaman, dan pengelolaan kesehatan tanaman.
Ketiga aspek tersebut saling melengkapi dalam menghasilkan varietas unggul sekaligus menjaga tanaman dari ancaman penyakit.
Pada akhirnya, pengembangan aneka kacang memiliki arti lebih luas daripada peningkatan hasil pertanian.
Upaya ini turut mendukung ketersediaan sumber protein, ketahanan pangan, daya saing komoditas, dan kesejahteraan petani Indonesia. * (junita sianturi)


