SuaraTani.com - Jakarta| Petani mangga dari Filipina, salah satu negara pengekspor mangga terbesar di Asia, telah menyelesaikan kunjungan studi ke Indonesia untuk mempelajari inovasi dalam pengendalian hama dan pengolahan mangga.
Kunjungan yang berlangsung pada 12 hingga 15 Oktober ini difasilitasi oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) serta Kementerian Pertanian (Kementan) Indonesia guna memajukan produksi mangga yang berkelanjutan di kedua negara.
Dalam kunjungan tersebut, 12 anggota delegasi Filipina yang meliputi petani serta perwakilan Departemen Pertanian Filipina dan FAO Filipina, mengunjungi perkebunan dan tempat pengolahan mangga di Majalengka dan Cirebon, Jawa Barat.
Wilayah ini dikenal sebagai penghasil berbagai varietas mangga unggulan, termasuk mangga gedong gincu.
Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan FAO dalam memfasilitasi Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (SSTC), yakni mekanisme pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan sumber daya teknis untuk mempercepat transformasi sistem pangan dan pertanian di antara dua negara berkembang atau lebih.
Kerangka kerja SSTC menunjukkan pentingnya solidaritas, kemitraan, dan pembelajaran bersama di antara negara-negara berkembang.
"Melalui kolaborasi ini, Indonesia dan Filipina dapat saling berbagi keunggulan masing-masing, mengatasi tantangan bersama, serta menjajaki peluang baru untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan sektor mangga," ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Hotman Fajar Simanjuntak dalam siaran pers, Rabu (14/10/2026) di Jakarta.
Mengatasi Hama
Hama masih menjadi tantangan bersama bagi kedua negara, yang berdampak pada kuantitas dan kualitas hasil panen, serta memengaruhi pendapatan petani dan kelestarian lingkungan.
Dalam kunjungan studi ini, delegasi Filipina mempelajari pendekatan inovatif dalam pengendalian hama yang dikenal sebagai pengelolaan berbasis wilayah ( area-wide management ); sebuah cara yang lebih sederhana, terjangkau, dan berkelanjutan untuk mengatasi lalat buah.
Petani di Majalengka menerapkan metode ini secara berkelompok di wilayah geografis tertentu dan bukan secara individual di lahan masing-masing, serta mengurangi penggunaan pestisida, dengan dukungan dari tenaga ahli teknis dan pemerintah.
Delegasi Filipina juga mempelajari diversifikasi produk, khususnya pengolahan mangga berkualitas rendah menjadi produk bernilai tambah guna mengurangi susut pangan, melindungi pendapatan petani, serta menciptakan peluang penghasilan baru bagi perempuan dalam pengolahan pascapanen.
Kunjungan studi ini membawa semangat Hari Pangan Sedunia, yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober dan tahun ini mengusung tema 'Berinovasi Hari Ini, Memupuk Hari Esok'. Inovasi tidak selalu menuntut teknologi mahal atau infrastruktur canggih.
"Terkadang, inovasi bermula dari cara pandang yang berbeda terhadap masalah yang sudah umum kita kenal, pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara lebih bijak, serta kerja sama untuk menciptakan peluang baru," ujar Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste.
Ia berharap pertukaran pengalaman antara Indonesia dan Filipina ini akan terus menghasilkan gagasan praktis yang dapat dibawa pulang dan diterapkan oleh para petani.
"Yang lebih penting lagi, saya berharap gagasan-gagasan ini akan mendorong kerja sama yang lebih erat di antara petani, instansi pemerintah, tenaga ahli teknis, dan mitra sektor swasta," jelas Rajendra.
Mengubah Pembelajaran
Sebelum kunjungan lapangan di Jawa Barat, para petani mangga dan perwakilan pemerintah Indonesia telah mengikuti rangkaian kunjungan studi selama satu minggu ke Provinsi Guimaras, Filipina, pada bulan Juli 2026.
Mereka membawa pulang berbagai pelajaran mengenai pengendalian hama, pengolahan pascapanen, dan penyebaran teknologi untuk memperluas peluang ekspor.
Kunjungan studi ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pertukaran pengetahuan secara virtual selama dua bulan antara petani, perwakilan pemerintah, dan pakar teknis dari Indonesia dan Filipina, yang difasilitasi oleh FAO pada bulan Mei dan Juni 2026.
Yondre Yonder dari Biro Industri Tanaman Filipina mengatakan, kunjungan studi di Indonesia ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk pertukaran pengetahuan mengenai produksi mangga antara kedua negara.
"Berbagai praktik baik yang telah saling kami amati dan bagikan dapat diadopsi oleh petani mangga di kedua negara demi perbaikan, keberlanjutan, dan peningkatan pendapatan petani," ujarnya.
Wawasan yang diperoleh dari pertukaran pengetahuan ini akan menjadi bahan masukan bagi pemerintah Filipina dalam menyusun Rencana Aksi Pengendalian dan Penanganan Hama Lalat Cecid serta Prosedur Operasional Standar untuk Praktik Pertanian yang Baik (GAP).
Pengalaman ini juga akan membantu pemerintah Indonesia dalam merancang intervensi terkait pengolahan pascapanen dan irigasi guna memastikan daya saing serta keberlanjutan sektor ini.
Kunjungan studi ini memberikan wawasan berharga mengenai teknologi yang digunakan oleh petani mangga lokal di Indonesia.
"Petani Indonesia menginspirasi saya dengan bagaimana mereka, secara kolektif sebagai satu tim yang solid, berhasil mengendalikan serangan lalat buah. Ini adalah hal yang sangat ingin kami bawa pulang ke Filipina untuk diterapkan oleh para petani mangga kami," kata Frianina Resplandor, perwakilan asosiasi petani dari Filipina.
Diketahui, Indonesia memproduksi 3 juta metrik ton mangga pada tahun 2025, namun nilai ekspornya turun sebesar 37% menjadi USD 1,1 juta pada tahun yang sama, sementara nilai impor meningkat sebesar 27% menjadi USD 2,32 juta, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia.
Sementara itu, Filipina memproduksi sekitar 764.000 metrik ton mangga pada tahun 2024, menjadikannya komoditas buah ekspor terbesar ketiga di negara tersebut, sekaligus menopang mata pencaharian sekitar 2,5 juta petani. *(junita sianturi)


