Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hari Karantina ke-149, Balai Karantina Sumut Dorong Ekspor Berbasis Desa

Kepala Balai Karantina Sumut, Andi Yusmanto dalam sambutannya pada peringatan Hari Karantina Indonesia ke-149 di Lapangan Kantor Balai Besar Karantina Sumut, Jalan AH Nasution, Medan, Selasa (13/10/2026). foto: junita sianturi

SuaraTani.com - Medan| Balai Karantina Sumatera Utara (Sumut) mendorong pengembangan ekspor berbasis desa agar produk lokal dapat menembus pasar internasional.

Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, menyusul nota kesepahaman antara Badan Karantina Indonesia dengan Kementerian Desa.

Kepala Balai Karantina Sumatera Utara (Sumut), Andi Yusmanto, mengatakan pengembangan ekspor perlu dimulai dari optimalisasi potensi produk lokal desa. Menurutnya, langkah ini akan membuka peluang lebih besar bagi petani dan pelaku UMKM.

"Bagaimana sebenarnya ekspor itu bisa dari desa," kata Andi dalam sambutan pada peringatan Hari Karantina Indonesia ke-149 di Lapangan Kantor Balai Besar Karantina Sumut, Jalan AH Nasution, Medan, Selasa (13/10/2026).

Andi menjelaskan, pengembangan ekspor berbasis desa menjadi langkah awal untuk membuka akses pasar yang lebih luas. 

Namun ia mengingatkan, tidak semua komoditas mampu dipasok secara berkelanjutan, sehingga kesiapan bahan baku dan kesinambungan produksi menjadi tantangan utama.

"Pasokan yang tidak mencukupi bisa menjadi kendala ketika produk harus dikirim kepada pembeli. Karena itu, ketersediaan bahan baku harus didukung agar pelaku usaha mampu memenuhi kebutuhan pasar," jelasnya.

Ia menambahkan, Balai Karantina berupaya membantu pelaku usaha melalui penyederhanaan persyaratan karantina yang memungkinkan, tanpa mengabaikan ketentuan negara tujuan. 

Menurutnya, karantina tidak hanya menjaga sumber daya hayati dari hama dan penyakit, tetapi juga berperan strategis dalam meningkatkan daya saing komoditas ekspor.

Andi juga mendorong agar ekspor tidak hanya bertumpu pada bahan mentah. Ia berharap pelaku usaha desa dapat mengembangkan produk olahan yang memiliki nilai tambah, sehingga terlibat dalam lebih banyak tahapan produksi.

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Sumut Bidang Ekonomi, Keuangan, Pembangunan, Aset, dan SDA, Parlindungan Pane, yang mewakili Gubernur Sumut, mengapresiasi kolaborasi tersebut. 

Ia berharap kerja sama ini memperkuat pendampingan bagi petani dan UMKM, sekaligus mendukung penguatan ekonomi daerah dan pengendalian inflasi melalui ketersediaan produk pertanian yang memadai.

Melalui rangkaian kegiatan ini, peringatan Hari Karantina Indonesia tidak hanya menjadi momentum untuk memperkuat peran karantina dalam mendukung perdagangan dan perlindungan sumber daya hayati, tetapi juga menghadirkan layanan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pasar Murah Diburu Warga

Harga telur di Pasar Murah dijual Rp45.000 per papan. foto: junita sianturi

Peringatan Hari Karantina ke-149 ini dirangkaikan dengan kegiatan sosial yang menyentuh langsung masyarakat, seperti vaksinasi rabies gratis untuk hewan peliharaan, pasar murah produk UMKM, pemeriksaan kesehatan gratis, dan donor darah.

Ratusan warga tampak antusias mengikuti layanan tersebut. Selain mendekatkan pelayanan karantina kepada publik, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produknya.

Pasar murah yang menghadirkan sejumlah kebutuhan pokok dengan harga di bawah harga pasar menjadi sasaran empuk para warga khususnya ibu-ibu rumah tangga. 

Seperti minyak goreng MinyaKita di pasar murah tersebut dijual seharga Rp15.500 per liter, beras SPHP Rp59.000 per 5 kg, telur Rp45.000 per papan (30 butir), cabai merah Rp40.000 per kg, gula pasir Rp15.500 per kg.

Selain itu ada juga bawang merah, bawah putih, wortel, kentang dan sayur mayur lainnya yang dijual dengan harga murah yang merupakan produk petani dan perusahaan yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.  

Putri, seorang warga yang datang berbelanja kebutuhan pokok di kegiatan itu mengaku senang bisa memperoleh harga kebutuhan pokok dengan harga murah mengingat selama ini harga kebutuhan pokok terutama beras, minyak harganya cukup tinggi.

"Seperti beras SPHP ini sekarang sulit kita dapatkan, kalaupun ada harganya Rp62.000 per 5 kg, telur hanya Rp45.000 per papan dan ukurannya besar, sementara di pasar sudah Rp1.800 per butir ukuran sedang. Begitu juga minyak goreng MinyakKita sudah Rp19.000 per liter kalau kita beli di pasar," akunya.

Ia juga berharap pemerintah bisa mengendalikan harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik terutama beras yang tidak pernah ada turunnya.

Hal yang sama juga disampaikan Anita, warga Kelurahan Tanjungrejo Medan. Menurutnya, bila pemerintah bisa mengatur harga kebutuhan pokok tetap stabil kegiatan pasar murah tidak perlu dilakukan. 

Karena kegiatan pasar murah ini juga tidak mampu menekan harga-harga di pasar.

"Namanya kita surplus beras, surplus daging ayam, surpus telur tapi kok harganya mahal. Terus, surplusnya di mana? Tolonglah pimpinan negeri ini, kasihanlah dengan masyarakat Indonesia yang ekonominya di bawah rata-rata. Buktikan kalau beras kita surplus dengan harga yang wajar," tegas Anita. * (junita sianturi)