SuaraTani.com - Jakarta| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menginisiasi hilirisasi dan implementasi teknologi pirolisis cepat (fast pyrolysis) atau FASPOL untuk mengolah sampah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar alternatif.
Inisiatif ini menghubungkan pengembangan teknologi dengan kebutuhan masyarakat melalui kolaborasi pemerintah, lembaga riset, industri, akademisi, media, dan komunitas, sekaligus mendorong pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan, Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN, Tri Martini menjelaskan, keterlibatan komunitas menjadi bagian penting dalam penerapan teknologi.
“Melalui pendekatan ini, masyarakat berperan dalam pengumpulan dan pengelolaan sampah, sementara BRIN mendukung validasi teknologi dan pengembangannya bersama mitra,” ujar Tri dalam siaran pers, Selasa (27/10/2026) di Jakarta.
FASPOL mengolah sampah plastik menjadi Petasol, bahan bakar alternatif yang diarahkan untuk mendukung kebutuhan energi di sektor pertanian dan perikanan.
Menurut Tri, pengembangan teknologi ini turut mempertimbangkan kebutuhan energi masyarakat di wilayah pedesaan, terutama untuk mendukung aktivitas yang bergantung pada ketersediaan bahan bakar.
“Salah satu tantangannya tentu kita ingin menghasilkan energi yang bisa diperoleh di pedesaan dengan mudah dan murah,” jelasnya.
Untuk memperluas penerapan teknologi, dilakukan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan mitra manufaktur, termasuk Bank Sampah Banjarnegara.
Teknologi FASPOL telah diterapkan di sejumlah daerah, antara lain Jawa Tengah, sebagai upaya menghubungkan pengumpulan sampah plastik oleh masyarakat dengan pengolahan menggunakan teknologi.
Dengan demikian, sampah yang sebelumnya bernilai rendah berpeluang dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah.
Pengembangan FASPOL juga diarahkan ke kawasan pesisir yang menghadapi persoalan penumpukan sampah plastik.
Pemanfaatan hasil olahannya sebagai bahan bakar alternatif berpotensi mendukung kebutuhan operasional masyarakat, termasuk petani dan nelayan. Penerapannya tetap perlu memperhatikan mutu produk, kesesuaian penggunaan, serta kelayakan teknis dan ekonomi.
Dalam pengembangan inovasi tersebut, Tri menerapkan pendekatan teknoekonomi untuk menilai kelayakan investasi dan biaya operasional.
Materi teknis FASPOL juga mencatat pengujian mutu bahan bakar oleh laboratorium BRIN dan Lemigas. Informasi mengenai hasil pengujian dan standar yang dipenuhi perlu merujuk pada dokumen hasil uji yang sesuai dengan produk yang dimaksud.
Implementasi FASPOL juga dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat, salah satunya oleh KSM Pilah Berkah di Kabupaten Bantul.
Perwakilan KSM Pilah Berkah, Arif Solihin, menjelaskan bahwa teknologi pirolisis memungkinkan kelompoknya mengolah sebagian sampah plastik bernilai rendah, yang sebelumnya hanya dijual sekitar Rp300 per kilogram, menjadi bahan baku untuk menghasilkan bahan bakar alternatif.
Pemanfaatan teknologi ini membuka peluang peningkatan nilai guna sampah plastik sekaligus mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Melalui kolaborasi heksaheliks, Tri mendorong keterhubungan antara riset, pemerintah daerah, mitra manufaktur, akademisi, media, dan masyarakat agar implementasi inovasi dapat berkembang sesuai kebutuhan di lapangan.
Upaya ini menempatkan pengolahan sampah plastik sebagai salah satu pendekatan ekonomi sirkular yang menghubungkan pemanfaatan teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan penanganan persoalan lingkungan. * (junita sianturi)


