Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ni Nengah Widiasih Persembahkan Medali Pertama Indonesia di Asian Para Games 2026

Di tengah cedera bahu yang belum sepenuhnya pulih, Ni Nengah Widiasih tetap mampu mengibarkan Merah Putih di podium Asian Para Games 2026. foto ist

SuaraTani.com - Nagoya| Di tengah cedera bahu yang belum sepenuhnya pulih, Ni Nengah Widiasih tetap mampu mengibarkan Merah Putih di podium Asian Para Games 2026. 

Atlet para angkat berat asal Bali itu mempersembahkan medali perunggu sekaligus menjadi penyumbang medali pertama bagi kontingen Indonesia di Nagoya, Jepang.

Widi, sapaan akrabnya, meraih perunggu dari nomor 41 kilogram putri setelah mencatatkan angkatan terbaik seberat 97 kilogram di Nagoya City Trade and Industry Center, Prefektur Aichi, Senin (19/10/2026).

Ia menempati posisi ketiga di bawah atlet China, Cui Zhe, yang meraih emas dengan angkatan 120 kilogram, serta wakil Kazakhstan, Tursynay Kabyl, yang membawa pulang perak lewat angkatan 104 kilogram.

Namun, medali kali ini memiliki makna lebih dari sekadar pencapaian di arena pertandingan. Bagi Widi, perunggu tersebut menjadi persembahan untuk keluarga, terutama mendiang ibundanya yang telah berpulang dua tahun lalu.

Suasana haru menyelimuti wawancara Widi setelah pertandingan ketika ia mengenang kehilangan sang ibu, hanya dua pekan sebelum dirinya berlaga di Paralimpiade Paris 2024. 

Peristiwa itu sempat mengguncang mentalnya hingga gagal mewujudkan impian sang ibu untuk melihatnya mencetak hattrick medali Paralimpiade.

“Waktu Paralimpiade Paris, dua minggu sebelum tanding ibu saya meninggal dunia. Mental saya hancur dan gagal mewujudkan mimpi ibu untuk mencetak hattrick medali Paralimpiade. Namun, saya berjanji pada almarhumah, di ajang kali ini saya akan membawa pulang medali untuk beliau,” ujar Widi dengan suara bergetar di area mixed zone.

“Di mana pun Ibu berada sekarang, saya yakin beliau melihat saya hari ini. I hope she is proud of me. Medali ini khusus untuk Ibu dan keluarga di rumah,” lanjutnya.

Perjuangan Widi menuju podium Asian Para Games 2026 tidaklah mudah. Cedera robek otot bahu yang dialaminya saat mengikuti kejuaraan di Mesir pada akhir 2025 membuat kondisinya belum pulih sepenuhnya ketika harus menghadapi persaingan di Nagoya.

Situasi tersebut membuatnya harus bekerja ekstra untuk mempertahankan performa. Meski gagal mengulang pencapaian medali perak pada tiga edisi sebelumnya, yakni 2014, 2018, dan 2022, Widi tetap bersyukur bisa kembali membawa pulang medali.

“Ini medali perunggu pertama yang saya dapatkan sepanjang keikutsertaan saya di Asian Para Games. Biasanya saya selalu memperebutkan emas dan perak,” kata Widi.

“Kondisi saya belum pulih 100 persen karena cedera bahu. Namun, saya berusaha semaksimal mungkin menaikkan beban angkatan di setiap sesi karena ingin memperbaiki world ranking demi mengamankan tiket ke Paralimpiade Los Angeles,” sambungnya.

Persaingan di kelas 41 kilogram putri juga semakin ketat. China menurunkan Cui Zhe, yang sebelumnya meraih emas kelas 45 kilogram pada Asian Para Games 2022, ke kelas yang sama dengan Widi. 

Sementara itu, Tursynay Kabyl merupakan peraih perak kelas 41 kilogram pada edisi sebelumnya. Kehadiran atlet-atlet muda turut menambah tantangan bagi Widi yang telah lama bersaing di level internasional.

“Sekarang di kelas saya banyak sekali atlet muda. Saya dan atlet asal China rasanya sudah seperti legenda di antara mereka. Namun, saya bersyukur masih bisa menjaga performa dan bersaing dengan atlet-atlet muda ini,” tuturnya. * (wulandari)