SuaraTani.com - Jakarta| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan hilirisasi dan valuasi teknologi komoditas industri tanaman pangan untuk meningkatkan daya saing industri nasional, mempercepat pemanfaatan hasil riset, serta menciptakan nilai tambah bagi petani dan masyarakat.
Salah satu isu utama yang mengemuka ialah kesenjangan kepemilikan kekayaan intelektual (KI) varietas tanaman pangan antara Indonesia dan dunia.
Penguatan KI, valuasi teknologi, perlindungan inovasi, serta akses terhadap investasi dan pasar diperlukan agar hasil riset dapat dikembangkan menjadi produk dan teknologi yang dimanfaatkan oleh industri serta petani.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko menjelaskan, hilirisasi membutuhkan keterpaduan antara riset yang sesuai dengan kebutuhan pengguna, validasi teknis dan ekonomi, pemenuhan regulasi dan standar, perlindungan KI, serta pendampingan adopsi teknologi.
“Dengan pendekatan tersebut, inovasi diharapkan dapat diterapkan secara lebih cepat, aman, terjangkau, dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” ujar Nugroho dalam siaran pers, Rabu (14/10/2026) di Jakarta.
Kebutuhan untuk menghubungkan teknologi dengan penerapannya di lapangan juga terlihat pada industri beras, khususnya dalam modernisasi penggilingan padi.
Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI) Sutarto Alimoeso menjelaskan, pelaku usaha penggilingan padi menghadapi keterbatasan modal, penggunaan teknologi lama, kehilangan hasil, dan persaingan usaha.
“Tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan modal, penggunaan teknologi lama, kehilangan hasil, serta persaingan usaha. Transformasi dapat dilakukan melalui penerapan sistem penggilingan multi-pass, pengering mekanis (dryer), dan color sorter, disertai diversifikasi pemanfaatan sekam, dedak, dan beras patah untuk mendukung konsep produksi minim limbah (zero waste),” paparnya.
Chairman CropLife Indonesia Kukuh Ambar Waluyo menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan petani, dukungan pembiayaan, standardisasi mutu, dan pendampingan teknologi untuk membantu pelaku usaha penggilingan padi meningkatkan efisiensi dan daya saing.
Pengembangan ekosistem yang menghubungkan riset dengan kebutuhan pasar juga diperlukan untuk mendukung komersialisasi inovasi.
Erika Budiarti Laconi memaparkan pengalaman IPB University melalui Science Techno Park dan program inkubasi bisnis yang menghubungkan riset, inovasi, pengembangan usaha, alih teknologi, dan komersialisasi.
Dalam pengembangan riset, BRIN melalui Pusat Riset Tanaman Pangan mengembangkan inovasi pada komoditas padi, jagung, kedelai, dan serealia.
Cakupannya meliputi pengembangan varietas unggul, teknologi budi daya, perlindungan tanaman, penanganan pascapanen, hingga hilirisasi.
Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN Yudhistira Nugraha menjelaskan, pemanfaatan bioteknologi, pupuk hayati, biopestisida, dan teknologi digital merupakan bagian dari upaya meningkatkan produktivitas dan ketahanan terhadap perubahan iklim.
“Pemanfaatan bioteknologi, pupuk hayati, biopestisida, serta teknologi digital seperti drone dan Internet of Things menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas dan ketahanan terhadap perubahan iklim,” terangnya.
Peneliti Ahli Madya pada Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Vina Eka Aristya menekankan pentingnya hilirisasi dan valuasi teknologi untuk menjembatani hasil riset dengan kebutuhan industri.
“Hilirisasi dan valuasi teknologi diharapkan menjadi jembatan antara hasil riset dan kebutuhan industri, sehingga inovasi dapat dikomersialkan secara berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat ketahanan serta kedaulatan pangan Indonesia,” ungkapnya.
Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, industri, perbankan, komunitas, dan petani diperlukan untuk mempercepat hilirisasi hasil riset tanaman pangan.
Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui riset bersama, uji coba teknologi, perlindungan dan valuasi KI, dukungan investasi, serta perluasan adopsi inovasi oleh petani dan pelaku industri. * (erna)


