SuaraTani.com - Sumbawa| PT Pupuk Indonesia (Persero) memperkuat dukungan terhadap peningkatan produktivitas sektor perikanan melalui optimalisasi penyaluran pupuk bersubsidi bagi pembudidaya ikan di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Upaya tersebut dilakukan dengan memastikan kesiapan sarana distribusi, ketersediaan pupuk, serta pengawalan penyaluran di lapangan sehingga pembudidaya dapat memperoleh pupuk sesuai alokasi dan ketentuan yang berlaku.
Senior Manager (SM) Regional 3B PT Pupuk Indonesia (Persero), Sidharta mengungkapkan, potensi pemanfaatan pupuk bersubsidi sektor perikanan di Sumbawa tahun ini masih cukup besar.
Kabupaten Sumbawa mendapatkan alokasi 1.000 ton, atau menjadi alokasi terbesar dibandingkan lima kabupaten/kota di NTB yang secara keseluruhan mendapatkan alokasi 4.083 ton.
"Pupuk Indonesia memastikan alokasi pupuk bersubsidi sektor perikanan dapat tersalurkan secara optimal. Untuk itu, perusahaan menyiapkan infrastruktur distribusi yang dapat mendukung pelayanan kepada pembudidaya di wilayah Sumbawa," ujar Sidharta dalam siaran pers, yang diterima, Senin (5/10/2026).
Ia menjelaskan, demi kelancaran penyaluran pupuk bersubsidi di Sumbawa, Pupuk Indonesia menyiapkan 2 gudang dan 7 Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS).
Kesiapan tersebut diperkuat dengan pengawalan langsung di lapangan, dimana Pupuk Indonesia menerjunkan tiga petugas untuk membantu memastikan proses penyaluran berjalan lancar sekaligus mendukung koordinasi dengan kelompok pembudidaya dan pemangku kepentingan setempat.
Menurutnya, di Sumbawa saat ini terdata 10 kelompok yang terdiri dari 90 pembudidaya. Ia berharap pembudidaya yang belum terdaftar sebagai penerima pupuk bersubsidi bisa mendaftarkan diri melalui penyuluh, sehingga dapat memperoleh dukungan pupuk untuk peningkatan produktivitas budidaya.
Adapun komoditas yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi untuk pembenihan antara lain udang windu, udang vaname, bandeng, lele, patin, nila, mas dan gurame. Sementara komoditas pembesaran, yaitu udang windu, udang vaname, bandeng, lele, dan nila salin.
Berikutnya, pembudidaya untuk pembesaran maksimal memiliki lahan 2 hektar. Sedangkan pembudidaya pembenihan air tawar maksimal 0,75 hektar, dan air payau 0,5 hektar.
Ia menegaskan, pembudidaya juga harus tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan), dan terdaftar dalam Elektronik Rencana Pupuk Bersubsidi Perikanan (e-RPSP).
Sementara itu, Direktur Prasarana dan Sarana Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Enggar Sadtopo, mengatakan penebusan perdana pupuk bersubsidi sektor perikanan di Sumbawa telah dilakukan dan prosesnya berjalan mudah.
Ia juga mengungkapkan alokasi pupuk bersubsidi untuk pembudidaya ikan di Sumbawa terbesar di antara kabupaten/kota lain di NTB, yaitu 1.000 ton. Namun hingga saat ini kebutuhan yang terdata masih 99 ton atau sekitar 9,9 persen dari alokasi.
Enggar berharap pembudidaya yang memenuhi kriteria sebagai penerima pupuk bersubsidi untuk segera mendaftarkan diri.
“Alokasi ini bisa pembudidaya manfaatkan, karena ini peluang bagi peningkatan produksi perikanan di Sumbawa,” katanya.
Pemerintah juga menargetkan penyerapan pupuk bersubsidi sektor perikanan mulai meningkat pada Oktober. Dengan kesiapan stok dan dukungan distribusi dari Pupuk Indonesia, alokasi yang telah tersedia diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal oleh pembudidaya.
“Pupuk Indonesia akan menyiapkan stoknya. Harganya murah, ini bisa dimanfaatkan pembudidaya. Harapannya penyerapannya bisa optimal mulai bulan Oktober,” ujar Enggar.
Sementara Bupati Sumbawa, H. Syarifuddin Jarot, menilai pupuk merupakan salah satu sarana produksi yang memiliki peran penting dalam kegiatan budidaya perikanan.
Karena itu, pemanfaatan pupuk bersubsidi perlu dilakukan secara tepat agar manfaatnya dapat mendukung produktivitas pembudidaya.
“Pupuk bukan sekadar pelengkap, pupuk adalah kunci untuk menumbuhkan pakan alami berupa plankton. Kalau plankton ada, udang dan ikan di tambak tidak akan mati dan produktivitas akan naik,” ujar Jarot.
Ia juga meminta pengawasan dilakukan agar pupuk bersubsidi digunakan sesuai peruntukan dan kebutuhan. Penggunaan yang tepat diharapkan dapat menjaga efektivitas program subsidi sekaligus mendukung keberlanjutan usaha budidaya.
Menurutnya, dengan dukungan sarana distribusi, kesiapan stok, dan pengawalan di lapangan, Pupuk Indonesia bersama pemerintah dan pemangku kepentingan terkait terus mendorong agar alokasi pupuk bersubsidi sektor perikanan di Sumbawa dapat terserap secara optimal.
Pemanfaatan pupuk yang tepat diharapkan turut memperkuat produktivitas pembudidaya dan pengembangan sektor perikanan di daerah.
“Saya meminta Dinas Perikanan untuk membantu dalam pengawasan. Pembudidaya harus manfaatkan dengan sebaik-baiknya, menggunakan sesuai dengan peruntukan dan kebutuhannya. Kita bangun budi daya perikanan di Sumbawa berdaya saing,” jelas Jarot. * (jnita sianturi)


