Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pemetaan Rantai Nilai dan Strategi Valuasi Kekayaan Intelektual Perikanan Laut dan Krustasea Menuju Hilirisasi Berdaya Saing dan Berkelanjutan”. foto: istSuaraTani.com - Tangerang Selatan| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong percepatan hilirisasi hasil riset perikanan laut dan krustasea melalui pemetaan rantai nilai serta valuasi kekayaan intelektual.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat keterhubungan antara hasil riset dan kebutuhan industri, sekaligus membuka peluang pemanfaatan inovasi menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengatakan sejumlah hasil riset BRIN masih memerlukan valuasi yang lebih optimal dan diseminasi yang tepat agar dapat menjangkau industri yang relevan.
"Untuk menjembatani kebutuhan industri dengan hasil riset, BRIN mengembangkan platform berbasis kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) yang dirancang untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan produk hasil riset," kata Nugroho dalam siaran pers, Kamis (5/11/2026) di Tangerang Selatan.
Ia mengatakan, sebelumnya BRIN telah membahas percepatan hilirisasi hasil riset perikanan laut dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pemetaan Rantai Nilai dan Strategi Valuasi Kekayaan Intelektual Perikanan Laut dan Krustasea Menuju Hilirisasi Berdaya Saing dan Berkelanjutan”.
Kegiatan yang digelar di Auditorium Gedung 720, KST B.J. Habibie, Serpong, Senin (2/11/2026) ini mempertemukan peneliti, perwakilan asosiasi, dan pelaku industri perikanan untuk mengidentifikasi kebutuhan pasar, memetakan rantai nilai, serta merumuskan strategi pemanfaatan hasil riset dan kekayaan intelektual.
Pemetaan dan penilaian potensi hasil riset dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu berbasis biaya (cost-based), pasar (market-based), dan pendapatan (revenue-based).
Nugroho menegaskan, FGD ini menjadi forum validasi terhadap data yang telah dihimpun di samping untuk mengidentifikasi kesenjangan antara aktivitas riset dan kebutuhan industri.
Dengan demikian, pengembangan riset diharapkan lebih terarah, sesuai kebutuhan pasar, dan memiliki peluang lebih besar untuk dimanfaatkan dalam proses industrialisasi.
Dari perspektif industri pengolahan, Sekretaris Eksekutif Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Anna Maria, memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi sektor pengolahan dan pemasaran produk perikanan.
AP5I menaungi sekitar 80 unit usaha pengolahan ikan dengan lebih dari 100 pabrik, yang sebagian besar bergerak di bidang pengolahan udang.
Menurut Anna, salah satu tantangan utama industri adalah keterbatasan pasokan bahan baku yang berdampak pada tingkat utilisasi kapasitas produksi.
Industri juga dituntut memenuhi berbagai persyaratan pasar ekspor, terutama terkait keamanan pangan, keberlanjutan, dan ketertelusuran produk.
Untuk menjawab tantangan tersebut, menurutnya, industri membutuhkan dukungan riset dan teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan hasil samping perikanan.
Anna mencontohkan kepala dan kulit udang serta tulang dan kulit ikan yang berpotensi diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Inovasi teknologi pengolahan juga diperlukan untuk menghasilkan produk perikanan bernilai tambah dan berdaya saing di pasar internasional.
Sementara itu, Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI), Andi Tamsil, menyoroti kebutuhan riset untuk meningkatkan produktivitas budidaya udang.
Beberapa bidang yang perlu diperkuat meliputi pengembangan benih unggul, teknologi pakan, pemantauan kualitas air, dan pemanfaatan sensor.
Riset juga perlu menjawab tantangan rantai pasok, kualitas produk, serta keberlanjutan lingkungan dengan mempertimbangkan kebutuhan petambak dalam meningkatkan produktivitas dan menekan biaya produksi.
Andi berharap kolaborasi dengan BRIN terus berlanjut melalui pengembangan riset yang mampu menjawab kebutuhan industri, termasuk menghasilkan prototipe dan teknologi aplikatif untuk meningkatkan produktivitas budidaya udang.
Berbagai masukan dari asosiasi dan pelaku industri tersebut menjadi dasar penting bagi BRIN untuk menyelaraskan agenda riset dengan kebutuhan pasar.
Melalui validasi pemetaan rantai nilai dan penilaian potensi kekayaan intelektual, hasil riset diharapkan tidak hanya berhenti pada tahap penelitian, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara nyata oleh industri.
Sinergi antara peneliti dan pelaku industri diharapkan mampu mempercepat hilirisasi, meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan, serta memperkuat daya saing industri nasional secara berkelanjutan. * (junita sianturi)

